Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
Manusia menjadi penyebab hilangnya seluruh cabang “Pohon Kehidupan”. Demikian menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada Senin (18/9). Studi itu sekaligus memperingatkan ancaman kepunahan massal keenam yang akan terjadi di Bumi.
“Krisis kepunahan sama buruknya dengan krisis perubahan iklim. Hal ini tidak disadari,” kata Gerardo Ceballos, profesor di National Autonomous University of Mexico, dan salah satu penulis penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
“Apa yang dipertaruhkan adalah masa depan umat manusia,” katanya kepada AFP.
Mengutip dari situs organisasi konservasi lingkungan global (WWF), kepunahan massal adalah periode waktu geologis yang singkat ketika sebagian besar keanekaragaman hayati, atau spesies tertentu—bakteri, jamur, tanaman, mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, invertebrata—punah.
Dalam definisi ini, penting untuk dicatat bahwa, dalam waktu geologis, periode yang ‘pendek’ dapat berlangsung selama ribuan atau bahkan jutaan tahun. Planet ini telah mengalami lima peristiwa kepunahan massal sebelumnya, yang terakhir terjadi 65,5 juta tahun lalu yang memusnahkan keberadaan dinosaurus. Para ahli kini yakin kita sedang berada di tengah-tengah kepunahan massal keenam (lihat grafis).
Penelitian ini unik karena tidak hanya meneliti hilangnya suatu spesies, tapi mengkaji kepunahan seluruh genera (bentuk jamak dari genus). Dalam klasifikasi makhluk hidup, genus terletak di antara peringkat spesies dan peringkat famili. Misalnya, anjing adalah spesies yang termasuk dalam genus canis -- termasuk dalam keluarga canid.
“Ini merupakan kontribusi yang sangat signifikan, saya pikir ini adalah pertama kalinya ada orang yang mencoba menilai tingkat kepunahan modern pada tingkat di atas spesies tersebut,” kata Robert Cowie, ahli biologi di Universitas Hawaii yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kepada AFP.
“Dengan demikian, ini benar-benar menunjukkan hilangnya seluruh cabang ‘Pohon Kehidupan’, sebuah representasi makhluk hidup yang pertama kali dikembangkan oleh Charles Darwin.
“Studi tersebut menunjukkan bahwa kita tidak hanya memangkas ranting-ranting , namun kita juga menggunakan gergaji mesin untuk menghilangkan cabang-cabang besar,” kata Anthony Barnosky, profesor emeritus di University of California, Berkeley, menganalogikan cara pemusnahan ‘pohon kehidupan’ oleh manusia.
Para peneliti sebagian besar mengandalkan spesies yang terdaftar sebagai punah oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Mereka berfokus pada spesies vertebrata (tidak termasuk ikan), yang datanya lebih banyak tersedia.
Dari sekitar 5.400 genera (terdiri dari 34.600 spesies), mereka menyimpulkan bahwa 73 genera telah punah dalam 500 tahun terakhir, sebagian besar terjadi dalam dua abad terakhir.
Para peneliti kemudian membandingkannya dengan tingkat kepunahan yang diperkirakan dari catatan fosil dalam jangka waktu yang sangat panjang.
“Berdasarkan tingkat kepunahan dalam jutaan tahun sebelumnya, kita diperkirakan akan kehilangan dua genera. Namun ternyata kita kehilangan 73 genera,” jelas Ceballos.
Studi tersebut memperkirakan bahwa hal tersebut seharusnya memakan waktu 18.000 tahun, bukan 500 tahun – meskipun perkiraan tersebut masih belum pasti, karena tidak semua spesies diketahui dan catatan fosil masih belum lengkap.
Penyebabnya antara lain karena aktivitas manusia, seperti perusakan habitat tanaman atau infrastruktur, serta penangkapan ikan yang berlebihan, perburuan dan sebagainya.
“Hilangnya satu genus dapat berdampak pada keseluruhan ekosistem, “kata Ceballos.
“Kalau kita ambil satu bata, temboknya tidak akan roboh, tapi kalau ambil lebih banyak lagi, lama-kelamaan tembok itu akan runtuh. Bagi kami ini merupakan sinyal runtuhnya peradaban.”
Masih ada waktu
Semua ahli sepakat bahwa tingkat kepunahan saat ini mengkhawatirkan -- namun apakah ini merupakan awal dari kepunahan massal keenam (yang terakhir adalah asteroid yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun yang lalu) masih menjadi bahan perdebatan.
Para ilmuwan secara luas mendefinisikan kepunahan massal sebagai hilangnya 75% spesies dalam jangka waktu singkat. Dengan menggunakan definisi “sewenang-wenang” tersebut, Cowie mengatakan, kepunahan massal keenam belum terjadi.
“Namun jika kita berasumsi bahwa“spesies akan terus mengalami kepunahan dengan kecepatan seperti saat ini (atau lebih cepat), maka hal tersebut akan terjadi,” ia memperingatkan. “Kami dapat mengatakan bahwa ini adalah awal dari potensi kepunahan massal keenam.”
Ceballos memperingatkan manusia harus cepat bertindak. “Prioritasnya adalah menghentikan perusakan habitat alami dan memulihkan habitat yang hilang.” katanya.
“Masih ada waktu untuk menyelamatkan banyak genera. Ada 5.400 genera, kita bisa menyelamatkan banyak dari mereka jika kita bertindak sekarang,” tegasnya. (AFP/M-3)
Banyaknya pohon kuno yang bertahan ribuan tahun merupakan bagian integral dari identitas dan budaya negara ini.
CHAIRMAN Centennial Z Dinno Ardiansyah berharap Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dapat menjadi peradaban yang maju dan manusiawi begitu selesai dibangun kelak.
Hubungan antara burung honeyguide dan pemburu madu itu nyata, bukan sekadar cerita rakyat atau takhayul.
Budayawan Antonius Benny Susetyo menuturkan kondisi saat ini yang sarat krisis konstitusi dan demokrasi butuh penyikapan segera yakni dengan mengembalikan politik pada jalan kebudayaan.
Salah satu arsip sejarah penting adalah terkait terbentuknya Organisasi Konferesi Islam pada 1969 yang dipelopori oleh Raja Hasan II dari Maroko dan Raja Faisal dari Arab Saudi.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved