Sabtu 04 Februari 2023, 08:15 WIB

Perihal Kopi Nusantara

Pro/M-2 | Weekend
Perihal Kopi Nusantara

Dok. Media Indonesia Publishing
Cover buku Jurnal Kopi Nusantara.

 

KOPI bukan hanya sekadar biji tumbuhan bercita rasa khas. Kopi digemari dan dicari sebagai sumber kepuasan dan rezeki. Di Indonesia, kopi juga memiliki posisi penting sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Keragaman dan kelezatan kopi Nusantara telah diakui dunia. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Kuantitas konsumsi kopi di Indonesia juga tidak main-main. Menurut data International Coffee Organization (ICO), Indonesia menjadi negara dengan konsumsi kopi terbesar kelima di dunia pada 2020/2021. Setidaknya lima juta kantong kopi berukuran 60 kilogram habis dikonsumsi masyarakat Indonesia pada tahun tersebut.

Lebih jauh, kopi juga memiliki peran penting dalam proses diplomasi bangsa. Keharuman kopi Nusantara telah membuka peluang ekspor kopi dan kerja sama lainnya dengan negara-negara di lima benua.

Kehadiran kopi sebagai bagian dari sumber daya alam kebanggaan Indonesia tentu memiliki perjalanan panjang yang kompleks, berliku, sekaligus mengesankan. Kopi menjadi cerminan kerja keras, dedikasi, kreativitas, hingga rasa cinta pada alam masyarakat di berbagai penjuru Nusantara. Kopi Nusantara menjadi kebanggaan masyarakat lintas generasi.

Perjalanan, proses, dedikasi, dan kreativitas dari para petani, pelaku bisnis, peracik, hingga penikmat kopi itu yang dihadirkan dalam sebuah buku terbitan Media Indonesia Publishing, Jurnal Kopi Nusantara. Buku setebal 145 halaman itu diluncurkan bersamaan dengan perayaan ulang tahun ke-53 Media Indonesia, Jumat (3/2).

Buku Jurnal Kopi Nusantara berisikan himpunan tulisan wartawan-wartawan Media Indonesia untuk rubrik berjudul Jurnal Kopi. Rubrik tersebut terbit setiap Minggu di koran Media Indonesia sejak Mei 2022. Berbagai artikel perihal dunia kopi Nusantara, dari hulu hingga hilir, pernah hadir mengisi rubrik tersebut.

Membuka buku, dihadirkan beberapa kolase foto acara Festival Kopi yang digelar Media Indonesia setiap tahun sejak 2018. Selanjutnya dihadirkan pembahasan singkat disertai ilustrasi tentang sejarah masuk dan penyebaran kopi di Nusantara.

Lewat ilustrasi yang dihadirkan, pembaca akan bisa melihat infografis mengenai jenis-jenis kopi yang ada di setiap daerah Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Terdapat juga penjelasan tentang ciri khas tiap-tiap jenis kopi.

Selanjutnya, pembaca akan dapat menemukan pembahasan tentang perjalanan kopi sebelum ia hadir dalam cangkir yang siap disesap. Dari proses penanaman oleh petani, pemilahan biji, pengolahan, pengeringan, hingga siap dijual dan dikonsumsi. Pembaca awam yang belum mengetahui banyak hal terkait proses pengolahan biji kopi pascapanen akan memiliki gambaran tentang proses-prosesnya, seperti proses full wash, semiwash, dan natural.

Pada bab dua, pembaca akan mulai disuguhkan dengan artikel-artikel pilihan yang berasal dari rubrik Jurnal Kopi di koran Media Indonesia. Terdapat empat bab yang memuat tulisan-tulisan dari Jurnal Kopi yang asing-masing dibagi berdasarkan tema berbeda.

Bab dua yang berjudul Memuliakan Kopi sejak dari Kebun memuat lima tulisan tentang perjalanan petani, perkebunan, dan usaha kopi yang telah legendaris di beberapa daerah. Di antaranya, tentang Paguyuban Tani Sunda Hejo yang beranggotakan lebih dari 3 ribu petani dari berbagai daerah. Kegiatan mereka bersumber dari Koperasi Klasik Beans yang berada di sekitar kawasan Gunung Puntang, Bandung, Jawa Barat.

"Kopi-kopi yang diproduksi Klasik Beans tak hanya memenuhi pasar lokal, tapi juga internasional. Mulai merambah pasar ekspor pada 2012, kopi Klasik Beans setiap tahun rutin menjelajah pasar Asia, seperti Jepang dan Korea, juga Eropa seperti Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia. Pada Desember 2021, misalnya, Klasik Beans mengekspor sekitar 19,5 ton tipikal spesial arabika ke Prancis." (Halaman 30).

Nuansa bersejarah dan kisah legendaris tentang kopi juga terdapat pada artikel berjudul Jejak Sejarah dari Kebun Kopi Tertua di Jawa Timur. Artikel tersebut memuat perjalanan penuh sejarah kebun kopi Tugu Kawisari yang telah berdiri sejak 1870 di lereng Gunung Kelud, Blitar, Jawa Timur. Meski diresmikan pada 1870, penanaman kopi di area perkebunan Tugu Kawisari sebenarnya telah dimulai sejak 1830 saat sistem tanam paksa dimulai di bawah komando Gubernur Jenderal Van den Bosch.

"Bibit kopi di perkebunan itu berasal dari bibit yang diterima pangeran dan sultan di Blitar dan Kediri dari kenalan mereka para bangsawan di Afrika. Agus Hariyanto dari Training HRD Perkebunan Tugu Kawisari menjelaskan kopi yang dihasilkan di perkebunan kopi Tugu Kawisari menumbuhkan sekitar 20 varietas biji kopi robusta jenis longberry dan arabika." (Halaman 43).

Dalam artikel tersebut, pembaca akan disuguhkan pengalaman mengesankan tentang bagaimana akhirnya para petani dan pengelola perkebunan Tugu Kawisari berusaha bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mereka juga terus melakukan pengembangan varietas kopi yang kualitasnya diakui dunia. Meski berasal dari Afrika, berkat berbagai faktor seperti unsur vulkanis dan cuaca, biji kopi di Tugu Kawisari akhirnya terkenal dengan rasanya yang khas dan tak ditemui pada biji kopi lainnya di dunia.

 

Aksi anak muda

Pada bab tiga, pembaca akan disuguhkan cerita-cerita tentang individu dan komunitas yang bekerja keras tanpa pamrih dan pantang menyerah untuk memberdayakan potensi biji kopi dan petani kopi di berbagai daerah. Di antaranya yang dilakukan dua orang sahabat, Tejo Pramono dan Uji Sapitu. Di bawah bendera Rumah Kopi Ranin (Rakyat Tani Indonesia), mereka menginisiasi program bernama kurasi kopi Nusantara.

"Program tersebut menyasar rumah tangga petani atau pertanian kopi berskala kecil dan menjadi ruang bagi Tejo, 49, serta Uji, 50, untuk membagi wawasan mengenai perkopian. Di situ, para petani diajak mengikuti uji cita rasa kopi atau coffee cupping agar mereka mengetahui nilai dan mutu cita rasa biji kopi yang berkualitas." (Halaman 68).

Program serupa bernama wild school juga dihadirkan pemuda bernama Stipay Lyon. Ia merupakan pemilik kedai kopi Worthland Coffee. Bersama anggota-anggota komunitas kopi Brotherista, Stipay yang seorang barista itu memberikan berbagai pelatihan terkait kopi pada anak-anak jalanan dan kalangan kurang mampu.

Bagi pencinta dan penikmat kopi, bab empat buku ini tak boleh dilewatkan untuk dibaca. Pada bab ini, pembaca akan disuguhkan dengan artikel tentang seni meracik kopi dan teknik-teknik penyajian hingga menghasilkan secangkir kopi yang nikmat. Mulai teknik roasting kopi, mixology, hingga latte art.

Penggemar kopi moktail yang biasanya hanya tahu keragaman rasanya ketika disajikan dapat mengetahui lebih dalam tentang proses pembuatan kopi moktail yang dibuat menggunakan teknik mixology. Pembaca akan dapat memahami bagaimana teknik mixology atau seni mencampur kopi dengan bahan alami bisa tersaji tanpa menghilangkan keseimbangan rasa khas yang dimiliki setiap jenis kopi.

Pembaca juga akan dapat melihat sisi lain dari latte art atau seni menggambar kopi yang sangat populer. Bagaimana di balik keindahan gambar yang tersaji ada proses panjang berupa latihan dan pengembangan kreativitas yang dilakukan para barista.

Kreativitas menggambar dengan buih latte itu juga menjadi ajang unjuk gigi para barista. Bukan hanya kepada para pelanggannya, melainkan juga di berbagai ajang kompetisi internasional. Meski terkesan sederhana, kemampuan latte art ternyata dapat menjadi batu loncatan bagi seorang barista mendapatkan prestasi dan popularitas di komunitas-komunitas kopi global.

Pada bab terakhir, pembaca akan dibuat terkesan dengan usaha dan kegigihan berbagai pihak, baik individu, kelompok tani, pihak swasta, maupun pemerintah, dalam melakukan pelestarian lingkungan lewat pertanian kopi. Dengan kerja keras, mereka tak hanya berupaya menghasilkan biji kopi berkualitas dan kuantitas tinggi, tetapi juga agar tetap bisa menjaga kualitas tanah, lingkungan, hingga mengembangkan sistem tani yang berkelanjutan.

Cara-cara yang dilakukan di antaranya dengan melakukan pengelolaan ampas kopi menjadi pupuk, media tanam, hingga produk kecantikan yang dilakukan oleh tim dari Fakultas MIPA Universitas Indonesia. Terdapat juga cerita tentang penggunaan biochar untuk mengatasi kerugian dan kerusakan perkebunan kopi akibat perubahan iklim hingga upaya pengendalian gulma dengan cara yang ramah lingkungan.

Lewat artikel-artikel yang termuat dalam buku itu, berbagai pihak yang memiliki ketertarikan dan perhatian pada dunia kopi Nusantara akan dapat menemukan berbagai cerita. Mulai kisah perjuangan di hulu hingga hilir yang penuh sejarah, perjuangan, dan kreativitas pengembangan potensi kopi di era modern, termasuk gerakan oleh para anak muda yang berkecimpung di dunia perkopian. Buku ini menegaskan peran krusial kopi dalam menopang pertumbuhan ekonomi bangsa lewat berbagai lini. (Pro/M-2)

 

Judul: Jurnal Kopi Nusantara

Sumber tulisan: Halaman Jurnal Kopi Media Indonesia

Penanggung jawab: Iis Zatnika

Tahun: Cetakan pertama, Januari 2023

Penerbit: Media Indonesia Publishing

Baca Juga

AFP/Roslan

Rekomendasi Destinasi Liburan Luar Negeri sambil Puasa

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Maret 2023, 15:09 WIB
Tiket.com merekomendasikan beberapa destinasi liburan di dua negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura yang bisa dikunjungi dengan...
MI/Devi

Diklaim Berbujet Termahal, Buya Hamka Rilis Tiga Trailer

👤Devi Harahap 🕔Sabtu 25 Maret 2023, 05:53 WIB
Film biopik ini akan tayang di jaringan bioskop mulai 20 April...
IG @kadekarini

Kadek Arini Bagikan Tip Mudik Nyaman dengan Anak

👤Devi Harahap 🕔Jumat 24 Maret 2023, 15:05 WIB
4 tip mudik yakni sesuaikan waktu dengan jam tidur anak, siapkan mainan dan makanan, pilih tempat duduk sesuai dan lokasi hotel yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya