Senin 24 Oktober 2022, 08:08 WIB

Menilik Perkembangan Bisnis Penyangrai Kopi

Devi Harahap | Weekend
Menilik Perkembangan Bisnis Penyangrai Kopi

MI/Devi Harahap
Pameran Jelajah Kopi Indonesia" 20-23 Oktober 2022 di Summarecon Mall Serpong, Tangerang.

 

Dalam rangka mempertemukan pelaku industri kopi dari hulu ke hilir, Otten Coffee baru saja menyelenggarakan pameran kopi edisi ketiga bertajuk "Jelajah Kopi Indonesia" pada 20 Oktober hingga 23 Oktober 2022 di Summarecon Mall Serpong, Tangerang.

Berbagai kegiatan belasan tenant dari para pelaku kopi dengan berbagai varian, mulai dari kedai kopi hingga rumah penyangrai kopi (coffee roastery) berpartisipasi dalam kegiatan ini.

"Dinamakan Jelajah Kopi Indonesia karena sesuai visi Otten Coffee yaitu kami ingin mengkopikan Indonesia. Pameran ini diharapkan bisa menjadi ruang, di mana dari hulu sampai hilir penikmat kopi bertemu, selain itu bisa merangkul penikmat kopi baru dan menyuarakan berbagai hal yang berhubungan dengan industri kopi," ujar Shinta, juru bicara Jelajah Kopi Indonesia, saat ditemui di Summarecon Mall Serpong, Minggu (23/10).

Kopi yang nikmat tidak datang dari proses yang instan melainkan harus melewati beberapa tahapan, salah satunya adalah proses penyangraian biji kopi di coffee roastery, tempat di mana biji kopi hijau digoreng hingga menjadi berwarna kecoklatan. Selain itu coffee roastery juga bertugas sebagai penjaga kualitas dan aroma olahan kopi.

Elvis, salah satu roaster dan barista dari Coffee Roaster De Droom (merek untuk kedai kopi dan perusahaan penyangrai kopi) mengungkapkan industri coffee roastery semakin tumbuh subur seiring meningkatnya antusiasme dan kebutuhan masyarakat terhadap produk kopi.

"Menjamurnya kedai kopi, memunculkan pengusaha roasting atau sangrai kopi. Dulu bisnis roastery memang belum banyak digeluti pebisnis kopi di Indonesia. Tapi sekarang jumlahnya terus bertambah karena kuantitas permintaan kopi di hilir juga banyak, berbanding lurus kalau kedai kopi tumbuh subur artinya roaster juga akan tumbuh," ujarnya.

Elvis mencatat dalam sepuluh tahun belakangan, perkembangan jumlah kedai kopi semakin meningkat dari ratusan kini mencapai ribuan. Saat ini terdapat sebuah pola baru yaitu kedai kopi tidak melulu menyediakan kopi, namun juga jasa menyangrai kopi ataupun sebaliknya.

"Sekarang ini juga banyak bermunculan kedai kopi yang juga menjadi penyangrai mandiri atau ada juga pebisnis coffee roastery yang merangkap sebagai kedai kopi yang langsung menyajikan hasil kopi olahan mereka. Fenomena ini di satu sisi menghasilkan kopi murah, tetapi di lain sisi roast bean yang dihasilkan sangat beragam kualitasnya," imbuhnya.

Kondisi tersebut menurut Elvis disebabkan karena alasan meminimalisir pengeluaran dari para pelaku kedai kopi. Sebab proses penyangrai kopi secara mandiri bisa menghemat biaya operasional hingga 50%-70%.

"Dengan me-roaster biji kopi sendiri, selain lebih hemat secara harga pokok penjualan, kita juga bisa menentukan identitas aroma dan ciri khas dari kopi. Karena kalau kita pesen ke Coffee roastery lain belum tentu rasa biji kopinya sesuai dengan idealisme kita, tapi kalau kita sangrai mandiri sudah pasti tingkat kematangan, tekstur dan aromanya bisa ditentukan sendiri," ujarnya.

Semakin tingginya kesadaran para pengusaha kedai kopi, tak jarang beberapa kedai memilih untuk menyewa alat roaster untuk menekan angka pengeluaran produksi. Dikatakan Elvis, meskipun menyewa alat, secara hitungan produksi, para pengusaha akan lebih hemat dan untung jika dibandingkan membeli biji kopi raoster dari tempat lain.

"Kedai kopi yang sudah settle secara penjualan, biasanya untuk jangka panjang lebih memilih me-roaster biji kopinya secara mandiri meskipun menyewa alat roaster. Misalnya sebuah kedai kopi bisa menghabiskan 3kg biji kopi per hari, jika dihitung per tahun itu akan lebih hemat," imbuhnya.

"Sekarang harga biji kopi yang sudah disangrai itu harganya cukup mahal, lebih baik kita beli biji yang masih hijau lalu disangrai mandiri," lanjutnya.

Akan tetapi Elvis mengatakan pendirian sebuah coffee roastery bukan sesuatu mudah karena ada berbagai hal yang harus dipersiapkan dan diperhatikan mulai dari sumber daya manusia yang handal hingga alat mesin roaster yang tidak murah.

"Tidak semua orang bisa me-roaster kopi, ada keahlian khusus yang harus dimiliki seorang roaster, itu sebabnya kebanyakan para roaster sudah punya pengalaman yang lumayan lama di dunia perkopian, biasanya mereka adalah para barista senior, yang selain bisa meracik kopi, mereka juga paham dengan kuliatas biji kopi," ujarnya.

Elvis menjelaskan bahwa model bisnis coffee roastery ini lebih fokus pada pola Business to Business (B2B). Mereka juga menyasar penjualan produk kepada coffee shop yang membutuhkan biji kopi olahan berkualitas tinggi, selain menjual dan memanfaatkan biji kopi sebagai olahan minuman di kedai.

Sementara itu, Shinta melihat fenomena pasar kopi tidak melulu diisi penyuka kopi hitam atau murni. Olahan kopi perpaduan dengan bahan lain seperti susu, ice cream, cokelat, kini juga banyak digemari. Kondisi pasar yang seperti ini menjadikan bisnis menyangrai marak sehingga berimbas ke kualitas yang beragam.

"Keseimbangan pasar kopi sangrai berkualitas akan terbentuk sendiri ke depan. Terlebih bila nantinya semakin banyak konsumen yang membutuhkan biji kopi berkualitas," katanya.

Sedangkan untuk menyiasati agar kedai kopi dan perusahaan roasting bisa dapat bertahan. Menurut Shinta sebagai salah satu pelaku industri kopi, Otten terus konsisten mengikuti selera pasar, mencari pasar segmented, maupun melakukan berbagai inovasi. Salah satunya menyangrai biji kopi dengan sensasi buah yang menghasilkan rasa kopi yang fruity.

Inovasi

Di acara pameran Jelajah Kopi Indonesia, Otten Coffee yang juga memiliki mesin penyangrai mandiri itu memperkenalkan inovasi baru yang pertama di Indonesia berupa Infused Coffee, yaitu produk biji kopi yang mampu menghasilkan rasa kopi segar bercampur buah-buahan ketika diseduh. Produk ini hadir dengan tiga varian rasa Fruit Punch, Rock Mango, serta Fruit Candy.

"Produk Infused Coffee ini adalah salah satu inovasi dari roastery coffe Otten, biji kopi ini disangrai dengan olahan buah, ketika dihirup memiliki aroma buah-buahan seperti nanas, peach, dan berry. Sekarang penikmat kopi bisa merasakan kombinasi biji kopi dengan buah, dan ketika biji kopi ini diseduh, aroma rasa buahnya tetap terasa di lidah," tandas Shinta.

Dalam pameran itu, disediakan booth berupa Experience yang selalu ramai pengunjung. Di sana, para barista berkumpul membuat kopi dengan teknik aeropress, yakni proses menyeduh kopi hanya dengan 1 menit 40 detik hingga siap disajikan.

"Para pengunjung secara perdana bisa mencicipi secangkir Infused Coffee hanya dengan harga Rp1 saja, selain mendapatkan pengalaman ngopi yang fruity, mereka juga bisa berbincang dengan para barista mengenai dunia kopi," ujar Shinta.(M-3)

Baca Juga

Dok Ist

Oki Setiana Dewi Luncurkan Busana untuk Muslimah Aktif

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 07 Desember 2022, 17:03 WIB
Oki Setiana Dewi luncurkan pakaian gamis dan produk mukena untuk muslimah yang memiliki mobilitas...
Dok. Miles Films

Serial Call My Agent Versi Indonesia Tayang Tahun Depan

👤Fathurrozak 🕔Rabu 07 Desember 2022, 14:15 WIB
Hubungi Agen Gue! merupakan serial yang diadaptasi dari serial Prancis berjudul Dix Pour Cent (Call My...
NASA.org

Siapa yang Berhak Membangun Koloni di Bulan?

👤Devi Harahap 🕔Rabu 07 Desember 2022, 08:55 WIB
Komunitas internasional menyusun Outer Space Treaty of 1967 (OST), dokumen hukum pertama di dunia yang secara eksplisit berkaitan dengan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya