Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK dari kita berpikir bahwa makan pada malam hari dalam porsi besar dapat berfungsi sebagai bekal untuk keesokan harinya. Namun penelitian terbaru menunjukkan aktivitas tersebut justru bisa membuat perut lebih lapar di pagi hari, bukan hanya untuk jenis makanan cepat saji, namun juga termasuk makanan bergizi.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism mengungkapkan pusat pengatur lapar berada di otak, tepatnya di batang otak dan hipotalamus. Ada banyak hal yang dapat memengaruhi nafsu makan seseorang dan membangkitkan rasa lapar, seperti kadar gula darah dan hormon seperti ghrelin, leptin, tiroid, insulin.
Seperti dilansir dari Science Daily, Selasa (4/10) kadar gula dalam tubuh akan meningkat setelah makan. Kadar gula yang tinggi ini akan memberikan sinyal ‘kenyang’ ke otak, sehingga seseorang itu pun akan berhenti makan.
Meskipun penelitian ini hanya melibatkan 16 orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, para peneliti mengontrol mereka secara baik dengan beberapa indikator seperti mengatur jenis makanan yang konsumsi peserta, banyaknya aktivitas fisik yang mereka lakukan, durasi tidur, dan bahkan faktor-faktor seperti suhu kamar dan paparan cahaya.
Para peserta diberi jadwal istirahat teratur selama tiga minggu dan diberi makanan siap saji pada waktu yang ditentukan. Para peserta secara acak dimasukkan ke dalam salah satu dari dua kelompok: kelompok yang makan pada pukul 8 pagi, 12 siang, dan 4 sore, kemudian untuk kelompok yang lain makan pada pukul 12 siang, 4 sore, dan 8 malam.
Para peneliti juga mengukur tingkat rasa lapar dan nafsu makan bersama dengan lemak tubuh peserta, suhu, dan banyak energi yang mereka gunakan. Para peserta kemudian beristirahat selama beberapa minggu dan berganti kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan hormon ghrelin, yang menyebabkan nafsu makan naik, meningkat pada kelompok yang terlambat makan. Sementara hormon leptin yang memberi sinyal saat kenyang, lebih rendah pada kelompok ini dibandingkan dengan kelompok yang makan lebih awal.
Perbedaan Rasio ghrelin terhadap leptin meningkat signifikan pada kelompok yang makan lebih lambat. Selain itu, mereka makan empat jam kemudian akan merasa lapat dua kali lipat. Mereka juga mengingatkan lebih banyak makanan dengan garam, tepung, dan daging, daripada kelompok makan sebelumnya.
Seorang peneliti dari Brigham and Women's Hospital Division of Sleep and Circadian Disorders, Nina Vujovi, Ph.D., menemukan fakta bahwa makan empat jam kemudian membuat perbedaan yang signifikan untuk tingkat rasa lapar kita, cara kita membakar kalori setelah kita makan, dan cara kita menyimpan lemak.
"Makan larut malam dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam membakar kalori sehingga bisa mengganggu tidur, menurunkan energi dan menyebabkan tubuh menahan lemak. Pada dasarnya, makan terlambat dapat menyebabkan rasa lebih lapar dari biasanya tanpa merasa kenyang seperti jika makan lebih awal," imbuhnya.
Ahli diet Keri Gans, tidak terkejut dengan temuan ini. Dia mengatakan semakin lama menunggu untuk makan, semakin lama pula tubuh mengejar rasa lapar. Ini hampir bisa dianggap sebagai efek domino, begitu akhirnya mengambil satu gigitan, maka tubuh tidak bisa berhenti. (M-1)
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan.
Meski ibu hamil sering merasa lapar atau mengalami ngidam, pola makan tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dan tetap seimbang.
Berbaring setelah makan membuat asam lambung mudah naik ke kerongkongan, menyebabkan perih, panas di dada, dan mulut pahit.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved