Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Para ilmuwan di University of North Carolina, Chapel Hill memperkirakan bahwa suhu panas di malam hari akan meningkatkan angka kematian di seluruh dunia hingga 60% pada akhir abad ini.
Para peneliti dari UNC Gillings School of Global Public Health menjelaskan bahwa panas sekitar semalaman dapat mengganggu fisiologi normal tidur. Kurang tidur berarti sistem kekebalan yang melemah dan risiko lebih tinggi dari berbagai masalah kesehatan. seperti penyakit jantung, peradangan, serta kondisi kesehatan mental.
Proyek penelitian ini adalah yang pertama memperkirakan dampak malam yang lebih panas terhadap risiko kematian terkait perubahan iklim. Secara keseluruhan, para peneliti mengatakan temuan mereka melukiskan gambaran yang mengkhawatirkan tentang masa depan yaitu ancaman kematian mungkin secara signifikan lebih tinggi dari perkiraan semula dengan kenaikan suhu harian rata-rata.
"Risiko peningkatan suhu di malam hari sering diabaikan,” kata Yuqiang Zhang, PhD, ilmuwan iklim di Departemen Ilmu dan Teknik Lingkungan di Gillings School, dalam rilis universitas, seperti dikutip dari Study Finds, Selasa (9/8).
"Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa kejadian hot night excess (HNE) diproyeksikan terjadi lebih cepat daripada perubahan suhu rata-rata harian. Frekuensi dan intensitas rata-rata malam yang panas akan meningkat masing-masing lebih dari 30% dan 60% pada tahun 2100-an, dibandingkan dengan peningkatan suhu rata-rata harian yang kurang dari 20%," lanjutnya.
Proyek ini merupakan upaya internasional, ditulis bersama oleh para ilmuwan dari Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat. Tim memperkirakan kematian akibat panas berlebih untuk 28 kota yang terletak di Jepang, Tiongkok, atau Korea Selatan antara tahun 1980 dan 2015. Mereka kemudian menerapkan perkiraan tersebut ke dua skenario pemodelan perubahan iklim yang selaras dengan skenario pengurangan karbon yang diberlakukan oleh masing-masing pemerintah negara.
Berkat model ini, penulis penelitian dapat memperkirakan bahwa risiko kematian akibat malam yang terlalu panas akan meningkat hampir enam kali lipat antara tahun 2016 dan 2100. Prediksi itu jauh lebih besar daripada risiko kematian akibat pemanasan rata-rata harian yang disarankan oleh model perubahan iklim saat ini. (M-4)
Robot bawah laut otonom Mako diuji di Great Barrier Reef untuk menanam benih lamun secara presisi. Teknologi ini diklaim mampu mempercepat restorasi.
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
Yosep meneliti pengetahuan, sikap, dan praktik anak muda terkait perubahan iklim. Temuannya menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat Indonesia masih sekitar 50 persen.
Studi terbaru Smithsonian mengungkap ekosistem terumbu karang modern kehilangan kompleksitas ekologi dibandingkan 7.000 tahun lalu. Rantai makanan kini memendek drastis.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
Cuaca ekstrem meningkatkan kadar TNF-alpha serta mengubah jumlah sel darah putih, membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.
“Adanya perubahan lahan, bangunan-bangunan semakin banyak sehingga menyebabkan panas yang lebih ekstrem,”
BMKG menyebut suhu panas yang sempat melanda sebagian wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
Pada Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi.
BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat meningkat di sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, 21–27 Oktober 2025 meski cuaca panas masih terjadi
Sinar matahari yang panas dan terik juga akan merangsang syaraf dalam kepala, dan meningkatkan rasa sakit kepala pada penderitanya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved