Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Laut adalah salah satu tempat penyerapan karbon terpenting di planet Bumi. Saat ini ada sekitar 39.000 gigaton karbon dioksida yang tersimpan di lautan, jumlah itu sekitar 50 kali lebih banyak daripada yang beredar di lapisan atmosfer.
Meskipun demikian, kita tidak bisa mengandalkan penyimpanan karbon ini untuk menyelesaikan masalah krisis iklim, karena kita memproduksi terlalu banyak karbon dioksida (CO₂) secara cepat. Terlebih lagi, sebuah studi baru menunjukkan bahwa laut yang tercemar saat ini tidak mampu menampung banyak karbon dari yang diperkirakan sebelumnya.
Para ilmuwan melihat spesies baru mikroba berupa tanaman mikroskopis yang hidup di dekat permukaan air laut, dapat berpotensi menyerap karbon secara alami hingga tersimpan di dasar laut. Namun, berdasarkan model penelitian partikel baru yang ditemukan para peneliti, ternyata proses penyerapan ini hanya mampu menyimpan sedikit karbon.
“Laut dapat berfungsi sebagai penyerap karbon yang secara alami memengaruhi jumlah karbon di atmosfer. Namn, dalam penelitian ini, kami menunjukkan bahwa ketahanan laut dalam menyimpan karbon dioksida kini jauh lebih kecil daripada yang diasumsikan secara umum,” kata Chelsey Baker, Analis Model Biogeokimia Laut dari Pusat Oseanografi Nasional di Inggris, seperiti dillansir sciencealert pada Minggu (26/6).
Karbon memerlukan waktu hingga seratus tahun untuk dapat diuraikan dengan iklim laut. Sampai sekarang, diperkirakan jalur sirkulasi laut dalam mencapai seribu meter akan menyimpan setiap bit karbon yang diserap.
Hasil simulasi yang dilakukan para peneliti menyatakan bahwa rata-rata hanya 66 persen karbon yang bisa diserap dan disimpan di laut dengan kedalaman 1.000 meter (3.250 kaki) di Samudra Atlantik Utara.
Sementara itu, efisiensi penyerapan CO₂ sangat bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh beragam faktor termasuk arus laut dan suhu. Karbon harus diserap oleh laut hingga kedalaman 2.000 meter (6.500 kaki) agar secara pasti bisa tersimpan selama lebih dari 100 tahun. 94 persen karbon bisa bertahan selama satu abad atau lebih jika berada di kedalaman 2.000 meter.
“Temuan ini memiliki implikasi untuk perkiraan prediksi masa depan penyerapan karbon oleh model biogeokimia global, yang mungkin dilebih-lebihkan, serta untuk strategi pengelolaan karbon,” tulis para peneliti dalam makalah yang telah diterbitkan.
Seiring perubahan iklim dan lautan, model ini perlu diperbarui. Para ahli berpikir bahwa saat bumi semakin memanas, lautan akan memiliki beragam klasifikasi di masa depan sehingga kapasitas karbon yang terserap ke dasar laut akan berkurang.
Para ilmuwan perlu mengetahui dengan presisi sebanyak mungkin berapa banyak CO₂ yang kita hasilkan, seberapa banyak lautan yang mampu menyimpan, dan berapa lama kemungkinannya akan tersimpan.
Ada kemungkinan bahwa dengan menambah siklus karbon alami dengan berbagai cara, akan lebih banyak karbon yang bisa diambil dari sirkulasi atmosfer. Namun, sebelum melakukanny, kita perlu mengetahui seberapa efektif dan efisien laut dalam dalam penyerapan karbon.
"Temuan kami bisa menjadi penting karena kapasitas penyimpanan karbon yang ditingkatkan secara artifisial oleh lautan adalah salah satu jalan yang sedang dieksplorasi untuk membantu kami mencapai emisi karbon nol bersih pada tahun 2050. Misalnya, dengan skema laut untuk menghilangkan karbon dioksida, sama halnya seperti pengumpulan besi,” kata Baker.
Laut memang mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menyerap CO₂ dari atmosfer, namun kemampuannya tergantung dari sehat atau tidaknya laut itu sendiri.(M-4)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Upaya mendorong sistem logistik rendah karbon dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung komitmen iklim nasional, termasuk pencapaian target FOLU Net Sink 2030.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
Upaya efisiensi operasional di sektor pelayaran mulai menghasilkan dampak nyata bagi kinerja lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved