Sabtu 30 April 2022, 08:10 WIB

Mengenal Hidrosfer, Lapisan Air yang Menyelimuti Bumi

Devi Harahap | Weekend
Mengenal Hidrosfer, Lapisan Air yang Menyelimuti Bumi

Hector RETAMAL / AFP
Pengunjung menyaksikan gambaran Planet Bumi di Planetarrium Shanghai, Tiongkok

 

Hidrosfer adalah sebuah lapisan air berbentuk seperti bola atau bulatan air yang menyelimuti permukaan Bumi. Diketahui, lapisan hidrosfer terdiri dari permukaan air yang membeku di Bumi, air yang tersimpan di dalam tanah, batuan, dan titik-titik air yang ada di atmosfer.

Dilansir dari Britannica Jum’at (29/4), permukaan planet yang ditinggali manusia ini banyak diisi oleh air, sebanyak 70% permukaan Bumi ditutupi oleh air. Selain itu, di permukaan Bumi terdapat sekitar 1,4 milyar kilometer kubik air yang terlihat dalam berbagai bentuk, seperti uap dan es.

Komposisi zat air yang sangat banyak ini tersebar di berbagai wilayah perairan seperti di laut, danau, sungai, dan air bawah tanah. Sedangkan dalam bentuk yang lain, air tersedia sebagai gletser, gunung es, dan permukaan air yang mengalami proses pembekuan.

Air yang termasuk dalam bentuk uap, bisa dilihat  sebagai awan dan kabut. Berbagai bentuk dari lapisan hidrosfer ini membuat bumi memiliki struktur dan tampilan yang berbeda jika dibandingkan dengan planet lainnya di tata surya. Jika dilihat dari luar angksa, hidrosfer ini yang pada akhirnya membuat Bumi terlihat seperti kelereng berwarna biru dengan campuran variasi corak yang tidak ditemukan di planet lain.

Dalam proses pembentukan hidrosfer atau yang lebih dikenal dengan siklus hidrologi ini, maka tidak akan lepas dari siklus air. Hal ini akan berkaitan dengan air dipermukaan Bumi yang akan mengalami proses peredaran atau daur ulang secara berurutan dan terus menerus.

Air di hidrosfer terus bergerak melalui siklus hidrologi. Siklus ini dimulai dari menguapnya air ke udara dan berkumpul membentuk awan. Air yang menguap ini berasal dari danau, lautan, atau sumber air terbuka lainnya.

Siklus hidrologi disebabkan karena terjadinya pemanasan oleh sinar matahari yang membuat air di seluruh permukaan bumi menguap. Saat uap air mencapai ketinggian tertentu, temperatur uap air akan semakin menurun dan terkondensasi. Awan yang sudah tidak sanggup menahan uap air yang sangat banyak akan menyebabkan terjadinya presipitasi atau jatuhnya air hujan.

Jatuhnya air hujan bisa hadir dalam dua bentuk yaitu hujan air atau salju. Air yang jatuh ke Bumi akan masuk ke dalam tanah dan berkumpul kembali ke tempat air terbuka lainnya, seperti danau dan lautan. Setelah sampai di tempat air yang terbuka, air akan kembali menguap.

Walaupun begitu, hanya sebagian kecil air yang tersedia di Bumi yang merupakan air tawar yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia sehari-hari, seperti memasak, mandi, dan mencuci. (M-4)

Baca Juga

Aldebaran S/ Unsplash

Fisikawan Brian Cox Yakin Tidak ada Alien di Galaksi Kita

👤Devi Harahap 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 19:05 WIB
Ia percaya alien ada di luar galaksi Bima...
Antara

Investor Kripto Apresiasi Indodax Terkait Vidy dan VidyX

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 14:03 WIB
Puput berharap, Vidy Coin dan VidyX sebagai salah satu program kripto perlu didukung oleh semua pihak yang...
Gil Ndjouwou/ Unsplash

Ini Cara Menyimpan Alpukat yang Berbahaya Bagi Kesehatan

👤Devi Harahap 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 13:00 WIB
Tidak seperti pisang dan jeruk, alpukat harus dicuci kulitnya sebelum...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya