Selasa 17 Agustus 2021, 13:05 WIB

Ini Lo Sederet Film yang Cocok Temani Kamu di Hari Kemerdekaan

Fathurrozak | Weekend
Ini Lo Sederet Film yang Cocok Temani Kamu di Hari Kemerdekaan

Berbagai sumber
Sejumlah film bertema nasionalisme yang bisa disimak di platform OTT

 

Tanggal 17 Agustus menjadi momentum bagi kita semua untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Bila pada tahun-tahun sebelumnya banyak dari kita memperingati momen 17-an dengan berbagai kemeriahan seperti mengikuti lomba-lomba dan berkumpul dengan banyak orang, di tengah situasi pandemi ini tentu hal tersebut tidak memungkinkan.

Namun, untuk tetap bisa merasakan semangat 17-an, kamu juga bisa merayakannya dengan menonton film-film bertema sejarah dan keIndonesiaan. Berikut Media Indonesia rangkumkan rekomendasi film-film yang bisa kamu tonton pada momen hari kemerdekaan.

 

1. The East

Sutradara Jim Taihuttu, yang juga dikenal dengan duo DJ Yellow Claw, belum lama ini menggarap film bertema sejarah seputar kemerdekaan Indonesia bertajuk The East (De Oost). Jika biasanya kamu menonton film-film bertema sejarah Indonesia yang digarap oleh sutradara dalam negeri dan punya sudut pandang dari para pejuang dan pendiri bangsa, The East menyajikan narasi alternatif. 

The East berkisah tentang pembantaian oleh perwira Belanda, Raymond Westerling, di Sulawesi. Selain itu, film ini mengambil sudut pandang dari tentara sukarelawan KNIL, Johan de Vries. Film The East bisa menjadi pilihan kamu yang ingin mengetahui sisi alternatif sejarah pada periode kemerdekaan Indonesia. Kamu bisa menyaksikannya di Mola TV.

 

2. Tjoet Nja’ Dhien versi Restorasi 

Film Tjoet Nja’ Dhien adalah film epos sejarah kepahlawanan Indonesia yang menceritakan perjuangan pahlawan Aceh, Tjoet Nja’ Dhien, melawan penjajahan Belanda. 

Perlawanan rakyat Aceh kala itu menjadi perang terpanjang dalam sejarah penjajahan Belanda. Film ini menarik, karena tidak hanya menceritakan strategi Tjoet Nja’ Dhien dan dilema-dilema yang ia hadapi sebagai pemimpin, tapi juga menampilkan kekalutan tentara Belanda melawan rakyat Aceh. 

Disutradarai oleh Eros Djarot dan diperankan Christine Hakim, film ini awalnya dirilis pada 1988 dan berbuah Piala Citra. Film yang pernah diputar di Festival Film Cannes 1989 ini belakangan direstorasi dan sempat tayang di bioskop sebelum diberlakukan PPKM Darurat. Untuk kamu yang belum sempat menonton versi restorasinya di bioskop, sekarang kamu bisa menyaksikannya di Mola TV.

 

3. Athirah

Diangkat dari novel karya Alberthiene Endah dengan judul sama, Athirah (2016) mengisahkan hidup perempuan Bugis Makassar bernama Athirah (Cut Mini), yang merupakan ibunda Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. 

Athirah harus menghadapi kenyataan hidup yang pahit tapi terus mencari cara untuk mempertahankan harga diri dan keluarganya. Masalah mulai muncul di kehidupan keluarga kecilnya yang bahagia ketika sang suami, Puang Aji (Arman Dewarti), menikahi perempuan lain. Konflik juga terjadi saat Jusuf Kalla atau yang akrab disapa dengan panggilan Ucu saat remaja (Christoffer Nelwan) merasa kesal pada ketidaktegasan sang ibu dalam mengambil keputusan. Kamu bisa menyaksikan film yang disutradarai Riri Riza dan mendapat Piala Citra Film Terbaik FFI 2016 ini di Disney+ Hotstar.

 

4. Sokola Rimba

Berdasarkan kisah nyata dari Butet Manurung, Sokola Rimba (2013) menceritakan perjuangan Butet (Prisia Nasution) dalam mewujudkan pendidikan bagi anak-anak suku Anak Dalam atau Orang Rimba (Orang Ulu). 

Butet memiliki harapan besar agar anak-anak yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan Bukit Duabelas bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pada suatu hari, Butet yang terserang demam malaria di tengah hutan diselamatkan oleh Nyungsang Bungo. 

Bungo yang berasal dari hilir sungai Makekal ternyata diam-diam telah lama memperhatikan Butet mengajar membaca karena ia ingin membaca sebuah surat perjanjian yang diduga mengeksploitasi tanah tempat ia tinggal. Butet pun mulai memperluas wilayah kerjanya ke arah hilir sungai Makekal dan mencari segala cara agar ia bisa tetap mengajar Bungo dan anak-anak lainnya. Film yang juga disutradarai Riri Riza ini bisa kamu saksikan di Disney+ Hotstar.

 

5. Serial Animasi Pahlawan Batak

Pada momen peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, PIM Pictures menyajikan karya animasi yang mengangkat cerita para pahlawan Batak yang dikenal publik.

Produser PIM Pictures Agustinus Sitorus bercerita serial animasi pahlawan Batak dibuat oleh PIM Pictures untuk membantu generasi muda tetap mengingat sejarah para tokoh yang telah berjasa bagi Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. 

“Kami mencoba membuat konten yang ringan dan bisa dinikmati oleh anak-anak dan remaja, sehingga tokoh-tokoh kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini bisa terus dikenang. Kami memilih medium animasi karena dirasa dekat dengan audience yang coba kami sasar,” kata Agustinus dalam siaran pers yang diterima Media Indonesia, (15/8).

“Harapannya karya ini bisa menjadi referensi bersama bagi para guru/pengajar dalam menceritakan tokoh asal Sumut dengan lebih mudah,” sambungnya.

Ada tujuh episode: Kiras Bangun, AH Nasution, DI Panjaitan, HT Rizal Nurdin, Ferdinand Lumbantobing, Nomensen, dan KH Zainul Arifin Pohan. Semua episode dalam serial animasi Pahlawan Batak itu bisa kamu saksikan secara gratis melalui kanal Youtube PIM Pictures.

 

6. Sultan Agung (Director’s Cut)

Setelah ayahnya, Panembahan Hanyokrowati meninggal, Raden Mas Rangsang yang masih remaja menggantikannya dan diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma (Ario Bayu).

Sultan Agung harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai-berai oleh politik VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen (Hans de Kraker). Di sisi lain, ia harus mengorbankan cinta sejatinya kepada Lembayung dengan menikahi perempuan ningrat yang bukan pilihannya. 

Kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak ketika ia mengetahui, VOC tidak memenuhi perjanjian dagang dengan Mataram, dengan membangun kantor dagang di Batavia. Ia mengibarkan Perang Batavia sampai meninggalnya JP Coen dan runtuhnya benteng VOC. Selama perjuangan ini, Sultan Agung juga harus menghadapi berbagai pengkhianatan. Di akhir hidupnya, Sultan Agung menghidupkan kembali padepokan tempatnya belajar, dan melestarikan tradisi dan karya-karya budaya Mataram.

Jika kamu belum sempat menonton film garapan Hanung Bramantyo yang rilis pada 2018 ini, sekarang kamu bisa menyaksikannya di Bioskop Online, versi Director’s Cut.

 

7. Soekarno

Satu lagi film biopik garapan Hanung Bramantyo, Soekarno (2013), juga diperankan Ario Bayu. 

Soekarno pernah dituduh menghasut dan memberontak seperti komunis. Tapi dia menggugat. Pledoinya “Indonesia Menggugat” di pengadilan membuat dia dibuang ke Ende, lalu Bengkulu.

Di kota terakhir itu Soekarno istirahat dari politik. Hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatmawati. Padahal saat itu Soekarno masih menjadi suami Inggit Garnasih. Inggit harus rela melihat sang suami tercinta jatuh cinta dengan gadis lain. Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang memulai peperangan Asia Timur Raya. Berahi politiknya kembali menguat. Kemerdekaan Indonesia seolah di ambang mata.

Hatta dan Sjahrir, rival politik Soekarno pada masa muda, mengingatkan Jepang tidak kalah bengisnya dengan Belanda. Soekarno punya sudut pandang berbeda. Kamu bisa menyaksikan film Soekarno di Netflix.

 

8. Istirahatlah Kata-Kata 

Wiji Thukul (diperankan Gunawan Maryanto), penyair yang dikenal karena kelantangannya meneriakkan ketidakadilan pada masa protes politik meningkat. Ketika kerusuhan Jakarta 1996 meletus, dia dan beberapa aktivis dituduh bertanggung jawab dan dikejar aparat keamanan. 

Terpaksa pergi, Wiji terbang ke Pontianak. Dia bersembunyi selama delapan bulan, dan kadang bersama orang asing. Di Pontianak dia mengganti identitasnya beberapa kali, tapi masih juga menulis puisi dan cerita pendek. Sementara itu, di Solo, istrinya, Sipon, tinggal bersama dua anak mereka di bawah pengawasan ketat. Pada Mei 1998, Wiji Thukul dianggap hilang, sebulan sebelum Soeharto digulingkan oleh rakyatnya sendiri.

Menyaksikan film Istirahatlah Kata-Kata garapan Yosep Anggi Noen juga bisa memberimu perspektif lain tentang sejarah Indonesia. Film ini pernah berkompetisi di seksi Concorso Cineasti del presente, di Locarno International Film Festival, Swiss pada 2016. Kamu bisa menyaksikannya di Bioskop Online. (M-2) 

Baca Juga

Dok. ZYNGA

Tiktok Uji Coba Fitur Bermain Gim

👤M-2 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:20 WIB
TIKTOK tengah menguji coba fitur terbaru mereka terkait dengan...
AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JUSTIN SULLIVAN

Perjalanan Dua Dekade Ipod

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:15 WIB
Gawai ini menjadi terobosan untuk alat pemutar musik dengan ruang penyimpanan besar serta baterai yang tahan lama pada era...
Charly TRIBALLEAU / AFP

Taiko, Tradisi Gendang Jepang yang masih Bergema di Era Kiwari

👤Adiyanto 🕔Jumat 20 Mei 2022, 10:32 WIB
Kunci dari evolusi itu adalah seorag drummer jazz Daihachi Oguchi, yang memindahkan festival taiko ke panggung pertunjukan pada 1950-an dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya