Minggu 27 Juni 2021, 06:30 WIB

Eufemisme yang Menyesatkan

Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend
Eufemisme yang Menyesatkan

Dok. Pribadi
Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia

 

EUFEMISME. Itulah kata yang saya ucapkan saat ibu saya bertanya apa sebabnya istilah pembantu sekarang berubah menjadi asisten rumah tangga--disingkat ART--saat beliau menonton infotainment soal artis Ashanty yang memiliki jumlah ART hingga 20 orang. Buru-buru saya katakan ‘penghalusan bahasa’ sebagai kata lain dari eufemisme saat saya lihat raut bertanya di wajah ibu ketika istilah itu terdengar di telinga beliau. “Oo, itu maksudnya,” jawab beliau puas.

Eufemisme memang banyak kita temui dalam percakapan sehari-sehari. Kita sering menemukan kata atau istilah baru yang muncul--biasanya dari televisi— yang ternyata merupakan bentuk eufemisme (penghalusan) terhadap kata tertentu.

Biasanya eufemisme itu muncul berkenaan dengan nama profesi tertentu. Saat ojek online (daring) muncul, berkembang istilah driver ojol menggantikan frasa ‘tukang ojek’ dan langsung menyebar serta diterima di kalangan masyarakat. Para tukang ojek terlihat lebih bangga menggunakan kata driver daripada sopir untuk menyebutkan nama profesinya.

Saat kita di mal, tidak akan kita temui tukang bersih-bersih di sana. Yang ada namanya petugas cleaning service. Kalau di kantor-kantor, namanya berubah menjadi office boy (OB), meski tugasnya agak berbeda sedikit dari sekadar tugas bersih-bersih. Ada pula istilah terapis yang kini dipakai untuk menyebut profesi tukang pijat atau suster bagi profesi pengasuh.

Di rumah tangga, ada pula istilah ibu sambung untuk menggantikan frasa ibu tiri yang terkesan negatif atau buruk jika diucapkan dan menimbulkan ketidaknyamanan jika disebutkan kepada perempuan yang mengalaminya. Frasa ibu sambung terasa lebih sopan, nyaman, dan netral.

Mengapa eufemisme lebih banyak berfokus pada pekerjaan atau profesi seseorang? Sebab persoalan profesi ini masuk ranah pribadi yang berkaitan dengan status sosial pemiliknya dalam masyarakat. Meski semua jenis profesi yang tidak melanggar moral itu seharusnya dianggap sama di mata masyarakat, pada kenyataannya sering muncul rasa berbeda antara profesi yang satu dan yang lainnya, terutama jika dikaitkan dengan persoalan penamaan yang dipakai.

Dalam bidang profesi, eufemisme hadir untuk menghindari perendahan status seseorang atas label profesinya. Salah satu cara yang mudah ialah dengan menggunakan istilah asing.

Mengapa istilah asing? Karena kita tahu dalam masyarakat kita sistem diglosia masih sangat berpengaruh dalam cara kita berkomunikasi. Bahasa Inggris masih dianggap bahasa yang tinggi status sosialnya di mata masyarakat. Penggunaan bahasa Inggris pada penamaan suatu profesi akan membuat si pengguna profesi itu merasa naik prestisenya sehingga lebih percaya diri dalam bekerja.

Akan tetapi, menggunakan eufemisme untuk menghaluskan profesi yang tidak bermoral menjadi terkesan netral malah menjadi blunder yang sangat merugikan. Saya menyebutnya itu sebagai eufemisme yang menyesatkan.

Kata pelacur masih kuat kesan negatifnya jika dibandingkan dengan istilah pekerja seks komersial yang berkesan permisif. Seharusnya istilah pelacur itu tidak perlu diperhalus agar aura negatif di benak masyarakat tetap kental sehingga terus dijauhi.

Kata koruptor juga begitu. Istilah itu lebih mengena kepada orang asing (Inggris) karena kesan negatifnya masih kuat berakar di benak mereka. Berbeda dengan Indonesia yang sejak awal tak mengenal istilah koruptor. Kita lebih mengenal kata maling atau rampok yang sebenarnya bermakna tidak jauh berbeda dengan koruptor.

Mungkin ada baiknya jika istilah maling/rampok itu kita berikan kepada koruptor agar efek jera yang diterima jauh lebih dalam dan memalukan. Kalau itu dilakukan, mari kita lihat, apakah mereka masih bisa tersenyum jika ada tulisan ‘maling/rampok uang rakyat’ di dada mereka saat tampil di depan kamera?

Baca Juga

Unsplash/ Arek Adeoye

Ini Cara Agar Makin Banyak Kalori Terbakar Sambil Berjalan

👤Nike Amelia Sari 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 17:10 WIB
Intensitas berjalan kaki level sedang dicapai ketika detak jantung 64%-76% dari...
MI/ Adam Dwi Putra

Tulisan Tangan Puisi Jokpin Dilelang Demi Yatim Piatu Covid-19

👤Fathurrozak 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 12:20 WIB
Pelelangan akan berlangsung di festival yang digelar Media Indonesia pada 29 Oktober...
Dok. Instagram @amiawards

Lima Fakta AMI Awards 2021

👤Fathurrozak 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 11:15 WIB
Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards ke-24 akan berlangsung 15 November...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sukses PON Papua 2021 Pemerataan Pembinaan di Seluruh Pelosok Negeri

Sukses prestasi ditandai dengan tercipta banyak rekor meski penyelenggaraan multiajang olahraga terakbar Tanah Air itu digelar di masa pandemi covid-19.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya