Minggu 11 April 2021, 05:00 WIB

Sabar

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Sabar

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

 

BEBERAPA hari lalu, saya ditegur seorang kawan lantaran terlihat tidak memakai masker saat berfoto. Lewat pesan Whatsapp, dia mengatakan seharusnya saya tetap mematuhi protokol kesehatan di mana pun (kecuali waktu tidur dan di rumah tentu saja). Kawan saya ini bukan dokter, tetapi apa yang ia sampaikan ada benarnya, apalagi di momen itu saya sedang bersama beberapa kawan yang juga tidak mengenakan masker. Saya tidak tersinggung sama sekali dengan teguran itu. Kepadanya saya berterima kasih dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi kesalahan.

Apa yang dilakukan kawan saya tadi ialah hal kecil, tapi amat besar maknanya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) maupun para pakar kesehatan pun menyarankan demikian. Kita, sebagai masyarakat, mesti memercayai science. Itu satu-satunya pilihan jika ingin terhindar dari penularan covid-19. Pentingnya menjaga protokol kesehatan yang disarankan para pakar kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan seringnya mencuci tangan, suka atau tidak suka, mesti menjadi laku kita sehari-hari di tengah wabah ini.

Sebagai makhluk sosial, manusia memang butuh sosialisasi dan bertemu orang. Kita tidak mungkin terus-menerus mengurung diri di rumah. Apalagi sebagian dari kita juga masih ada yang harus bekerja di kantor atau beraktivitas lainnya di luar rumah. Sebisa mungkin memang stay at home, tapi kalaupun terpaksa harus bepergian hal yang bisa dilakukan tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Memang pengap memakai masker terus menerus, tapi mau tidak mau itu harus jadi bagian laku dan gaya hidup kita sehari-hari.

Di beberapa negara, salah satunya India, kasus covid-19 kembali melonjak lantaran warga dan pemerintahnya lengah dengan membiarkan mereka beraktivitas seperti biasa setelah menjalankan program vaksinasi dan angka penularan melandai. Ini harus jadi pelajaran bagi kita semua. Memang butuh pengorbanan dan kesabaran ekstra dalam memutus rantai penyebaran virus ini.

Ramadan yang beberapa hari lagi dijalani umat muslim, tentunya harus menjadi momen untuk semakin menempa lagi kesabaran itu. Bukankah dalam berbagai kitab, puasa disebut sebagai laku menahan diri?

Sebisa mungkin hindari bukber (buka bersama) yang dihadiri banyak orang dan berpotensi terjadi penularan.  Lebih baik kumpul dan beribadah bersama keluarga tercinta di rumah. Kalaupun terpaksa mesti menghadiri acara buka puasa di luar rumah, ya tetap ingat dan patuhi ‘pesan ibu’ yang dititipkan lewat Bang Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19. Selain itu, yang juga tidak kalah penting, jangan pernah lelah untuk saling mengingatkan seperti yang dilakukan kawan saya tadi. Terlihat sepele memang, tapi tindakan itu mungkin bisa menyelamatkan ribuan nyawa. Selamat berpuasa, salam sehat untuk kita semua.

Baca Juga

123RF

Yang Masih Menjadi Ganjalan dalam Dunia Puisi Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 01:41 WIB
Penyair Joko Pinurbo dan Inggit Putria Marga akan melelang puisi tulisan tangan mereka untuk aksi...
Unsplash.com/Anupam Mahapatra

Ini Penyebab Kulit Kemerahan dan Gatal Usai Berolahraga

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 25 Oktober 2021, 06:11 WIB
Ketika kita berolahraga, jantung memompa darah dan oksigen terlalu banyak ke otot-otot yang sedang...
Dok KCCI

Kedubes Korsel Gelar Hanbok-Batik Fashion Show

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 11:15 WIB
Tujuan acara itu adalah untuk mempromosikan pertukaran budaya Korea-Indonesia dengan memperkenalkan dan mengolaborasikan busana tradisional...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Bongkar Transaksi Narkoba Rp120 Triliun

Para anggota sindikat narkoba juga kerap memanfaatkan warga yang polos untuk membantu transaksi dari dalam ke luar negeri dan sebaliknya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya