Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
MENURUT penelitian global terbaru, sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca buatan manusia terkait dengan makanan. Para peneliti melacak produksi rantai makanan, dari ladang, meja makan, hingga sampai ke tempat pembuangan sampah.
Menurut penelitian itu, pembukaan lahan dan penggundulan hutan, penggunaan pupuk, peternakan, dan limbah, semuanya berkontribusi pada emisi dari sistem konsumsi makan yang dilakukan 7,7 miliar orang di Bumi.
Sebelumnya memang telah banyak laporan yang mengukur dampak perubahan iklim dari makanan, namun penulis penelitian terbaru yang dipimpin oleh Pusat Penelitian Bersama Komisi Eropa mengatakan, mereka adalah yang pertama merangkum semua negara dan sektor, mulai dari produksi, pengemasan dan distribusi, hingga pembuangan limbah makanan.
"Sistem pangan membutuhkan transformasi," kata para peneliti kepada AFP, Selasa (9/3). Mereka berharap database akan membantu mengidentifikasi di mana tindakan paling efektif untuk mengurangi emisi.
Laporan tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Food pada Senin (8/3), mengacu pada database global baru yang memberikan perkiraan emisi gas rumah kaca sistem pangan dari tahun 1990 hingga 2015.
Selama periode itu, ia mencatat "pemisahan pertumbuhan populasi dan emisi terkait makanan", dengan emisi yang tumbuh lebih lambat daripada populasi. Tetapi ditemukan variasi yang luas di seluruh dunia, dengan beberapa negara dan wilayah mengalami peningkatan besar dalam emisi yang didorong oleh permintaan domestik dan ekspor.
"Hasil kami menguatkan temuan sebelumnya tentang bagian signifikan dari emisi sistem pangan," kata para peneliti.
Angka yang diperkirakan para para peneliti yakni 25% hingga 42%, lebih tinggi daripada angka Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB (IPCC) sebesar 21 hingga 37%. Hal ini, menurut mereka, sebagian karena memandang secara lebih luas tentang sistem pangan global.
Penghitungan baru, misalnya, memperhitungkan hal-hal seperti memasak sebagai bagian dari konsumsi, serta pembuangan limbah.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menemukan bahwa emisi sistem pangan mewakili 34% dari total keluaran gas rumah kaca pada tahun 2015.
Tingkatkan efisiensi
Sekitar setengah dari emisi ini adalah karbon dioksida, terutama dari penggunaan lahan, terutama pelepasan karbon dari deforestasi dan degradasi tanah organik, serta energi dari sejumlah proses seperti pengemasan dan transportasi atau distribusi.
Sepertiga dari emisi lainnya berasal dari gas metana, yang 28 kali lebih kuat daripada CO2 sebagai gas rumah kaca selama periode 100 tahun, telah dilepaskan oleh ternak seperti sapi, domba, dan kambing, serta dari produksi beras dan pembuangannya.
Sisanya sebagian besar adalah nitrogen oksida dari pupuk, meskipun laporan tersebut mengatakan bahwa gas berfluorinasi yang sering ditemukan dalam lemari es memainkan peran kecil tetapi terus berkembang.
Enam penghasil sistem pangan terbesar pada tahun 2015 adalah Tiongkok (13,5% dari total global), Indonesia dengan (8,8%), Amerika Serikat (8,2%), Brasil (7,4%), Uni Eropa (6,7%) dan India ( 6,3%).
“Sistem pangan global menjadi lebih intensif menggunakan energi dengan hampir sepertiga emisinya langsung dari konsumsi energi tersebut,” kata para peneliti.
Selain dari energi yang digunakan, emisi dari distribusi makanan juga meningkat. Laporan itu mengatakan transportasi (untuk mengangkut makanan) menyumbang 4,8% dari total emisi sistem pangan 2015 dibandingkan dengan 5,4% untuk pengemasan.
Para penulis penelitian itu menyerukan kebijakan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi emisi dalam rantai pasokan, dan memungkinkan orang mengakses makanan yang lebih sehat.
Pada November lalu, sebuah studi di jurnal Science memperkirakan, jika dibiarkan emisi sistem pangan di masa depan akan dengan sendirinya mendorong meningkatnya suhu Bumi di atas ambang batas 1,5 derajat Celcius. Padahal, angka ini dipandang sebagai batas untuk menghindari dampak iklim yang menghancurkan pada tahun 2050.
PBB baru-baru ini mengatakan 17% makanan yang tersedia untuk konsumen di seluruh dunia pada tahun 2019, hampir satu miliar ton, dibuang dari rumah tangga, pengecer, institusi, dan industri perhotelan, jauh lebih banyak daripada yang diduga sebelumnya.
Masalah-masalah ini kemungkinan akan menjadi sorotan pada KTT Sistem Pangan Dunia PBB yang pertama, yang akan digelar akhir tahun ini. (AFP/M-4)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Peneliti menemukan bahwa kenaikan kadar CO2 di atmosfer mulai mengubah kimia darah manusia, termasuk kenaikan bikarbonat yang signifikan.
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved