Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MANUSIA pada dasarnya merupakan makhluk hidup yang memiliki 'kedekatan istimewa' dengan musik. Sedari lahir ia sudah peka terhadap intonasi, melodi, ritme, dan berbagai kebisingan yang ada di sekitar. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan ialah, benarkah kita adalah satu-satunya mahluk di dunia yang bisa disebut sebagai spesies musikal?
Persoalan demikian pernah ditelusuri oleh penulis buku 'The Evolving Animal Orchestra,' Henkjan Honing. Pakar Kognisi Musik dari University of Amsterdam, Belanda itu mengawali penelusurannya tentang spesies musikal dengan asumsi Charles Darwin yang menganggap bahwa, semua hewan dapat mendeteksi melodi dan ritme karena mereka memiliki sistem saraf layaknya manusia.
Sayangnya, hal itu tidak ia temukan kala melihat hasil amatan sejumlah pakar neurobiologi terhadap monyet rhesus. Menurut Honing, mamalia pada dasarnya sudah mengenal ketukan sejak dalam kandungan, yang tak lain berasal dari detak jatung ibunya. Akan tetapi monyet rhesus ternyata tidak memiliki kedekatan itu, karena ia tidak memiliki jaringan saraf khusus yang mengaktifkan persepsi ketukan (beat perception) layaknya manusia.
"Penelitian kami mengarah pada pengembangan hipotesis 'evolusi audiomotor bertahap (gradual audiomotor evolution/GAE), yang menyatakan bahwa jaringan saraf yang memungkinkan persepsi ketukan pada manusia, diperoleh dari hasil hubungan dua arah antara korteks pendengaran dan korteks motorik. Koneksi ini sifatnya hanya terbatas pada primata bukan manusia," tulis Honing, dalam risalahnya yang terbit di MIT Press, beberapa waktu silam.
Namun, fakta menarik justru Honing temukan pada Kakatua Jambul bernama Snowball. Burung yang dapat menirukan suara manusia ini bahkan tidak hanya bisa mengikuti irama musik, tetapi juga menari. Di satu sisi, Snowball telah memberi kemajuan Honing atas penelusuran asumsi Darwin. Akan tetapi di sisi lain ia juga melahirkan hipotesis baru, 'mengapa manusia dan kakatua yang memiliki persepsi ketukan, bukan monyet rhesus?'
Untuk mengurai pertanyaan tersebut, Honing lantas merujuk pandangan Ahli Saraf dari Tufts University, Amerika Serikat, Ani Patel. Menurut Patel, kemampuan mendengar musik suatu spesies juga dipengaruhi oleh kemampuan belajar vokal atau meniru suara baru. Akan tetapi, teori ini lagi-lagi terbantahkan, terlebih setelah muncul hasil penelitian dari Colleen Reichmuth.
Reichmuth ialah pakar keperilakuan biologi dari University of California, AS. Dalam sebuah eksperimen, ia berhasil melatih seekor singa laut bernama Ronan untuk mengangguk mengikuti ketukan suara metronom. Lebih dari itu, kepala Ronan bahkan tampak berputar-putar ketika diperdengarkan lagu 'Boogie Wonderland' dari Earth, Wind & Fire.
Sontak, hasil eksperimen Reichmuth itu kembali memantik perdebatan baru. Terlebih sejauh ini belum ada hasil penelitian yang menjelaskan bahwa spesies Ronan mempu belajar vokal, layaknya Snowball dan manusia.
Maka dari itu pula, Honing di akhir risalahnya kemudian mengatakan, meskipun tidak semua mahluk memiliki persepsi ketukan, musikalitas rupanya memiliki dasar biologis dan sejarah evolusi yang panjang. "Setelah satu dekade penemuan baru yang menarik, tampaknya, Darwin setidaknya sebagian benar," pungkasnya. (M-1)
Berbeda dengan dua pendahulu dari Indra Dinda, Turun Di Sini Dulu hadir dengan sentuhan aransemen musik pop alternatif.
Tajuk Typhoon diambil dari titik balik krusial dalam hidup Luke Chiang.
Dalam album yang dijadwalkan rilis pada 15 Mei 2026 tersebut, Honne akan menghadirkan 12 lagu pilihan yang diambil dari materi dua album pertama mereka.
Selain aspek suara, latar belakang Jerome Kurnia sebagai aktor profesional memberikan nilai tambah bagi Ricecooker, terutama dalam menyampaikan pesan lagu melalui visual.
Bad Bunny dijadwalkan menjadi artis pertama yang tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol sepanjang sejarah Half Time Super Bowl.
Salah satu mimpi besar Jerome Kurnia adalah membawa Ricecooker tampil di Summer Sonic, salah satu festival musik urban terbesar di Jepang.
Fokus diskusi mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), smart mobility, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan keterampilan masa depan.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved