Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BUMI tetap memanas lebih dari 3 derajat Celcius pada akhir abad ini meskipun ada penurunan emisi gas rumah kaca karena pandemi. Lembaga Perserikatan-bangsa-bangsa (PBB) berjanji untuk terus mengatasi polusi.
Dalam penilaian tahunan tingkat emisi, Program Lingkungan PBB menemukan, penurunan polusi karbon sebesar 7 % pada 2020 tidak akan berpengaruh banyak tanpa upaya luas dan cepat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
The Emissions Gap report (laporan Kesenjangan Emisi) menganalisis jurang pemisah antara tindakan yang diperlukan berdasarkan kesepakatan iklim Paris dan pengurangan emisi yang saat ini direncanakan oleh sejumlah negara.
Laporan yang dirilis pada Rabu (9/12) itu menemukan pandemi memang berdampak pada pemulihan lingkungan, sehingga misi untuk mengurangi emisi karbon hingga nol % bisa dipercepat. PBB sendiri berjanji dapat memangkas 25% emisi pada 2030.
Ini akan membawa dunia lebih dekat ke tingkat yang diperlukan untuk membatasi pemanasan hingga 2C (dua derajat celsius) atau 3,6 Farenheit, sebagaimana ditetapkan di bawah perjanjian Paris.
Dengan pemanasan lebih dari 1C sejak masa pra-industri, Bumi sudah mengalami kekeringan dan lebih sering memicu kebakaran hutan dan badai ekstem yang lebih mematikan akibat naiknya air laut.
"Jelas dunia telah melakukan lockdown. Selama ini kami melihat penurunan 7% dari emisi," kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen kepada AFP.
"Tapi kami juga tahu bahwa jawabannya bukan itu (lockdown) dan membuat 1,9 miliar anak tidak bisa bersekolah."
Namun, dia mengatakan laporan itu menunjukkan bahwa pandemi dapat mengurangi sebagian besar emisi gas rumah kaca dan membantu memperlambat perubahan iklim.
UNEP mengatakan tahun lalu emisi harus turun 7,6% setiap tahun hingga 2030 untuk mempertahankan target suhu global sebesar 1,5C (derajat celsius) yang dinyatakan pada perjanjian Paris dapat tercapai.
Walaupun emisi pada 2020 kemungkinan besar akan turun secara luas sejalan dengan angka tersebut, dibutuhkan perlambatan yang radikal dalam industri, perjalanan, dan manufaktur.
Para ahli khawatir kenaikan emisi karbon hampir tak terhindarkan pada 2021. Apalagi, pada Minggu lalu PBB mengatakan sejumlah negara berencana meningkatkan produksi bahan bakar fosil sebesar 2% setiap tahun dalam dekade ini. Padahal, untuk membatasi pemanasan global sampai 1,5C, produksi minyak, gas dan batu bara harus turun 6% setiap tahun. (M-4)
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved