Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Sudahkah anda menggosok gigi hari ini? Sebuah penelitian dari Harvard University yang terbit baru-baru ini menjelaskan, rajin menggosok gigi, dua kali sehari, rupanya dapat menekan gangguan kesehatan, khususnya di saluran pencernaan.
Studi itu dikerjakan selama kurang lebih 20 tahun. Sampelnya ialah 98,459 perempuan dan 49,685 laki-laki yang mempunyai riwayat infeksi gusi. Hasil amatan menunjukan orang dengan infeksi gusi ternyata lebih rentan terserang kanker lambung.
Badan penyedia layanan kesehatan masyarakat di Britania Raya, The National Health Service (NHS) dalam keterangan tertulis yang dilansir Dailymail mengatakan, penyebab utama infeksi gusi sendiri pada umumnya berkaitan dengan kebersihan mulut seseorang. Jarang atau tidak menyikat gigi dengan baik ialah penyebab mulut menjadi kotor atau penuh kuman.
"Sejarah penyakit gusi dan kaitannya dengan peningkatan risiko kanker esofagus (kerongkongan -red) dan kanker lambung, masing-masing sebesar 43 persen dan 52 persen," tulis keterangan tersebut.
Jika dibandingkan dengan orang yang memiliki susunan gigi rapi, orang yang setidaknya pernah kehilangan dua gigi juga lebih rentan terserang dua gangguan kesehatan tersebut. Partisipan yang pernah kehilangan gigi--rusak akibat bakteri, karena tidak pernah gosok gigi--kemungkinannya terkena kanker esofagus adalah 42 persen, sementara risikonya terkena kanker lambungnya adalah 33 persen.
Studi lain terkait infeksi gusi juga pernah dilakukan di Amerika Serikat. Sejumlah ilmuwan yang didanai perusahaan Coretxyme mengatakan, infeksi gusi dapat meningkatkan risiko Alzheimer di kemudian hari.
Dalam publikasi ilmiahnya mereka mengatakan, bakteri infeksi gusi ditemukan pada otak 51 orang dari 53 yang menjadi sampel penelitian. Mereka mengatakan bakteri infeksi gusi dapat sampai ke otak karena meresap melalui gusi yang berdarah. (M-2)
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Fokus diskusi mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), smart mobility, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan keterampilan masa depan.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved