Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
Bayi sedari usia 6 bulan bisa tahu saat orang dewasa meniru mereka. Tidak hanya mampu mengenali, mereka bahkan menyukainya. Bayi akan beranggapan orang dewasa itu lebih ramah dan bersahabat. Itu adalah hasil studi terbaru dari Lund University yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One.
Pada studi tersebut, peneliti menemui bayi berusia 6 bulan di rumah mereka. Peneliti bermain bersama bayi dengan empat cara berbeda. Pertama, peneliti meniru semua yang dilakukan bayi, layaknya cermin. Kedua, hanya meniru gerakan tubuh bayi, tanpa gerakan wajah. Ketiga, merespons kelakuan bayi dengan tindakan berbeda. Keempat, menanggapi bayi seperlunya. Cara terakhir itu lazim dilakukan para orangtua ketika bayi melakukan atau membutuhkan sesuatu.
Hasilnya, bayi akan menatap dan tersenyum lebih lama pada orang dewasa yang meniru mereka dibanding ketika orang dewasa merespons dengan cara lain. Bayi juga lebih mau mendekat dan terlibat dalam permainan tiru-meniru.
"Meniru bayi tampaknya menjadi cara yang efektif untuk menarik minat dan menjalin ikatan dengan mereka. Para ibu tidak hanya terkejut melihat bayi mereka dengan gembira terlibat dalam permainan imitasi dengan orang asing, tetapi juga terkesan dengan perilaku bayi," kata peneliti utama Gabriela-Alina Sauciuc.
Dalam penelitian itu juga terungkap beberapa perilaku bayi selama bermain tiru-meniru. Misalnya, jika bayi memukul meja dan peneliti meniru, bayi kemudian akan memukul meja beberapa kali, sembari memperhatikan respons peneliti dengan saksama. Bahkan ketika peneliti tidak menunjukkan emosi sama sekali saat meniru, bayi tampaknya masih menyadari bahwa mereka sedang ditiru. Bayi masih merespons perilaku imitasi tersebut.
"Ini sangat menarik. Ketika seseorang secara aktif menguji orang yang meniru mereka, biasanya dilihat sebagai indikasi bahwa individu yang ditiru sadar bahwa ada korespondensi antara perilaku mereka dan perilaku orang lain," lanjut Sauciuc.
Sebelumnya, ilmuwan berhipotesis bahwa melalui imitasi intensif, bayi belajar tentang norma, budaya, dan rutinitas interaksi. Kesamaan aksi dibarengi kesamaan perasaan dan maksud. Sayangnya, sebagian besar bukti empiris pendukung teori tersebut tidak ditemukan.
"Dengan menunjukkan bahwa bayi berusia 6 bulan mengenali saat mereka ditiru, dan bahwa imitasi memiliki efek positif pada interaksi, kami mulai mengisi celah ini. Kami masih harus mencari tahu kapan tepatnya imitasi mulai memiliki efek seperti itu? Dan apa fungsi pengenalan imitasi untuk bayi," simpulnya. (ScienceDaily/M-2)
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Upaya peningkatan kualitas nutrisi masyarakat Indonesia terus diperkuat melalui riset dan publikasi ilmiah yang berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved