Sabtu 06 Juli 2019, 16:05 WIB

Komedi Remaja dan Nalar di Era Post Truth

Fathurrozak | Weekend
Komedi Remaja dan Nalar di Era Post Truth

IMDB
Jake Gyllenhaal dan Tom Holland dalam film Spider-Man: Far from Home (2019)

 

Bila disebut sebagai film pahlawan super seperti film lain dalam waralaba Spider-Man, Far From Home merupakan film yang lebih bernuansa komedi remaja. Pahlawan super mungkin hanya bumbu untuk menegaskan Far From Home bagian dari semesta Marvel.

Dalam dua dekade terakhir di waralaba manusia laba-laba ini, sosok Peter Parker telah diperankan tiga aktor. Edisi perdana layar lebar yang menelurkan hingga tiga film, diperankan oleh Tobey Maguire. The Amazing Spider-Man diperankan Andrew Garfield. Tom Holland datang dengan karakter remaja sekolahan, menempelkan Spider-Man pada linimasa Avengers.

Sebagai komedi remaja, bagian awal memiliki kisah perjalanan studi ilmiah oleh sekolah ke beberapa negara Eropa. Peter dengan beberapa strateginya agar bisa lebih dekat dengan Michelle 'MJ' Jones (Zendaya). Di paruh awal juga dikisahkan bagaimana efek genosida Thanos, dan dampak dari pengembalian separuh populasi manusia di Bumi yang hilang itu oleh Tony Stark, mereka menyebutnya sebagai efek 'blip'.

Bagian tersebut berjalan relatif lamban dan datar, termasuk ketika Peter berduel dengan musuh barunya yang muncul di sela liburan musim panas. Ia bersama Mysterio --yang muncul di Venesia dan mendapat sorotan media setelah aksinya di kanal-- melawan beberapa musuh secara beruntun.

Kita seolah akan dikecewakan dengan alur yang sejauh ini terasa hambar. Namun, jangan langsung keluar bioskop. Sebab, intrik yang sesungguhnya memang direntetkan di paruh akhir, setelah kita agak sedikit 'tertipu' dengan alur komedi ala remaja.

Far From Home terasa lebih bernyawa setelah skenario yang memperlihatkan sosok sesungguhnya Mysterio. Mysterio yang juga dikenal dengan nama Quentin Beck hadir pertama kali membuka Far From Home saat kemunculannya di Meksiko. Dia yang mengaku dari dimensi lain di Bumi ini punya dandanan serupa Doctor Strange dengan jubahnya, dan kepalanya ada kaca bulat berasap.

Tampaknya sutradara Jon Watts memang meniatkan plot awal yang agak melandai itu untuk memberi efek kejut setelah kita tertipu dengan ilusi yang nampak dalam visual; juga ilusi Mysterio pada Peter. Efek kostum Spider-Man dalam seri ini mengalami evolusi dan kita bisa melihat betapa cangggihnya kostum manusia laba-laba yang dikenakan Peter. Bukan hanya spandeks ketat.

Kita dan Ilusi Pascakebenaran

Skenario yang ditulis Chris McKenna bersama Erik Sommers ini menjadi sangat relevan dengan fenomena global saat ini. Bagaimana suatu masyarakat terjebak dalam ilusi pada era pascakebenaran (post truth). Apalagi, terma post truth semakin nyaring didengungkan ketika Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Truthiness, istilah yang bersinggungan dengan post-truth, dan memiliki arti sebagai sesuatu yang seolah-olah benar, meski tidak benar sama sekali. Konsep ini diinterpretasikan dalam motif yang mendorong Mysterio ingin dikenal sebagai sosok pahlawan oleh warga dunia, menandingi para punggawa Avengers.

Ia menciptakan ilusi yang seolah-olah benar, dan bahkan begitu meyakinkan. Ilusi yang memainkan sentimen emosi. Salah satunya, bisa dilihat saat Peter mengambil keputusan untuk akhirnya memberikan kacamata yang telah diwariskan Tony padanya untuk Mysterio. Tindakan yang dilakukan Peter murni digerakkan perasaan sentimental. Sebab, ia merasa Mysterio merupakan sosok yang baik, kontras dengan cara Peter mempersepsikan Nick Furry.

Mysterio jelas merupakan potret bagaimana suatu hoaks dibangun, dan dikonsumsi oleh publik lewat elemen-elemen (para musuh) yang ia bangun berdasar proyeksi realitas virtual. Semakin Mysterio mendapat tempat dan dibicarakan publik, ia makin populer. Sama saat bagaimana Trump yang kerap melemparkan kabar simpang siur dan diamplifikasi media sehingga makin memopulerkan sosoknya.

Peter Parker boleh jadi merupakan metode yang mampu menangkis trik Mysterio untuk menciptakan ilusi kebenarandi mata publik. Namun, apakah justru ia juga menjadi korban dari ilusi Mysterio sendiri? Far From Home seolah jadi sarkasme remaja tanggung yang genit mencolek fenomena kita, saat yang nampak begitu yakin kita percayai, alih-alih berdasar fakta, justrulah disebabkan dorongan emosi. (M-2)

Baca Juga

Dok. JFW 2022

Koleksi Adaptasi Masa Disrupsi di JFW 2022

👤Putri Rosmalia 🕔Senin 29 November 2021, 17:10 WIB
JFW 2022 telah berlangsung 25 - 28 November...
Dok. Sejauh Mata Memandang/ Jakarta Fashion Week/ Tiktok Indonesia

Sejauh Mata Memandang dan Dian Sastrowardoyo Ajak Cintai Bumi lewat Fesyen

👤Putri Rosmalia 🕔Senin 29 November 2021, 16:15 WIB
Koleksi kolaborasi mereka ditampilkan di Jakarta Fashion Week...
Promobot

Perusahaan ini Tawarkan Rp2 Miliar buat Relawan yang Bersedia 'Pinjamkan' Wajahnya untuk Robot

👤Irana 🕔Senin 29 November 2021, 15:59 WIB
Produsen robot Promobot saat ini sedang mencari wajah untuk robot humanoid berikutnya, yang akan digunakan di hotel, pusat perbelanjaan,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya