Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH puas jalan-jalan di libur panjang lebaran, anda mungkin ingin wisata yang lebih santai di akhir pekan ini. Jika iya, coba kunjungilah perpustakaan-perpustakaan keren berikut ini yang bukan hanya membuat anda bisa bersantai sambil membaca melainkan juga tempat bermain edukatif bagi buah hati:
1. The Reading Room
Suasana perpustakaan ini akan membuat anda betah berlama-lama. Sofa-sofa besar nan empuk, ruangan apik modern dan tentunya koleksi buku-buku yang sangat kaya hanyalah beberapa dari banyak keunggulan lainnya dari perpustakaan yang didirikan oleh sastrawan dan sutradara kenamaan asal Indonesia, Richard Oh.
Tidak hanya itu, terdapat pula kafe yang menyediakan berbagai varian kopi dan penganan lezat. Maka tidak salah jika perpus yang tetap buka di akhir pekan ini juga dapat menjadi tempat destinasi wisata edukatif.
Berbincang dengan Media Indonesia di perpusnya yang berlokasi di Jalan Kemang Timur Nomor 57, Jakarta tersebut, Richard mengungkapkan jika ide awal tempat itu adalah sebagai ruang diskusi sastra dan film bersama teman-temannya.
"Betapa menyenangkannya kalau punya tempat seperti ini. Seluruh dindingnya diisi dengan buku, dan ada satu tempat untuk memuutar film. Jadi karena renungan itu lah saya akhirnya mulai membangun tempat ini," tutur Richard, Rabu, (19/6) itu. Sebab itu pula the Reading Room memiliki fasilitas ruang diskusi dan pemutaran film.
Ketika ditanya jumlah koleksi bukunya, Richard mengaku tidak tahu pasti. Ia juga enggan menyusun bukunya dalam kategori khusus karena hal itu tidak akan memancing minat orang akan buku yang ada di hadapannya.
"Biarkan saja tersusun di sembarang tempat. Nanti kalau ada orang yang menemukan satu judul tertentu, itu ibarat menemukan sesuatu yang membuat kaget dan menempel di hati begitu. Kecuali koleksi buku saya yang disusun di salah satu sudut ya, itu disusun misalnya, sastra ada di tengah, sejarah di sisi lain, matematika, film, dan masih banyak lagi," imbuh sutradara film the Lost Suitcase (Koper) (2006) itu.
Sebagian besar buku yang dipajang di The Reading Room memang merupakan buku impor. Namun demikian, Richard mengatakan bahwa dirinya juga mengoleksi karya sastrawan dalam negeri, bahkan menerima titipan karya dari orang-orang yang hendak menjual di perpustakaan dan kafenya.
Tidak hanya itu, dewasa ini juga banyak teman Richard yang menyumbangkan bukunya sebagai koleksi The Reading Room. Pengunjung dapat membacanya dengan gratis, tapi tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang.
2. Rimba Baca
Jika anda ingin lebih memanjakan buah hati, maka perpus ini yang jadi rekomendasi. Terdapat di Jalan RSPP No. 21, Cilandak, Jakarta, Rimba Baca berlimpah dengan koleksi buku anak.
Perpustakaan itu sejak awal memang didirikan untuk menumbuhkan minat literasi anak, bahkan kategorisasi buku di dalamnya disusun berdasarkan usia, mulai dari 0 hingga 3 tahun, 4 hingga 8 tahun, dan 9 hingga 12 tahun.
Pendiri Rimba Baca, Suziani Fitriyana mengatakan perpustakaan itu berdiri sejak November 2011. Tidak hanya menyediakan buku, Fitri menjelaskan bahwa tujuan dari didirikannya Rimba Baca ialah untuk memberikan tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk menumbuhkan minat bacanya.
"Tapi di lantai atas kita juga menyediakan bahan bacaan untuk orangtua yang datang menemani anak-anaknya. Selain terdapat tempat untuk membaca, kami juga menyediakan tempat berekspresi bagi anak-anak. Ada ruangan untuk menggambar dan mewarnai, ada juga kostum-kostum yang dapat dipakai anak-anak agar tidak bosan ketika membaca," tuturnya.
Rimba Baca juga dilengkapi dengan taman di halaman belakang. Apabila anak-anak dan orangtua berkunjung ke sana, mereka dapat bermain bersama kura-kura dan kelinci.
Fitri juga menambahkan bahwa, siapa saja bisa datang ke Rimba Baca. Setiap orang diperkenankan membayar uang masuk tiap kedatangan, atau berlangganan selama satu tahun. Adapun biaya yang perlu dibayar adalah Rp. 30.000 per kedatangan, atau Rp. 375.000 per tahun. Pun, anak-anak yang berlangganan tiap tahun juga diperkenankan meminjam buku untuk dibawa pulang.
Menariknya, Rimba Baca turut membuka kesempatan bagi anak-anak yang kurang mampu untuk bermain dan belajar. Kegiatan itu, biasa dimulai sejak pukul 08.00 hingga 10.00 pada Senin hingga Rabu. Adapun materi belajarnya biasa dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti tanggung jawab hingga belajar mengantri.
"Kami juga biasa mengadakan kegiatan untuk anak-anak di akhir pekan. Temanya lebih banyak soal pendidikan, parenting, atau literatur. Ada juga kelas memasak, yoga, dan seni. Kita selalu menyesuaikan dengan minat anak-anak untuk belajar begitu," imbuh Fitri.
Adapun jam operasional Rimba Baca sendiri dimulai dari pukul 10.00 hingga 19.00. Mereka buka setiap hari dan hanya libur ketika hari raya atau libur nasional. Pun mereka memiliki tenaga pengajar yang berangkat dari latar belakang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). (M-1)
IPI dan Neliti.com sepakat untuk memperluas akses terbuka pengetahuan, meningkatkan literasi dan inovasi, serta memastikan keberlanjutan pengelolaan pengetahuan Indonesia.
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana melontarkan kritik keras terhadap buruknya layanan digital dan memprihatinkannya kondisi fisik perpustakaan di Indonesia.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pemanfaatan perpustakaan sebagai bagian upaya peningkatan minat baca dan literasi generasi penerus bangsa.
Kondisi perpustakaan daerah serta layanan digital nasional menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR RI bersama Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas)
Pemanfaatan teknologi imersif dalam layanan kepustakaan merupakan terobosan penting yang jarang dilakukan oleh institusi publik.
Tata kelola data terbuka, literasi digital, dan tanggung jawab etis dalam pemanfaatan AI di institusi pendidikan tinggi menjadi sorotan dalam konferensi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved