Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Kenapa Teknologi Canggih masih tak Bisa Memprediksi Gempa? Ini Jawabannya

Nadhira Izzati A
30/3/2026 22:23
Kenapa Teknologi Canggih masih tak Bisa Memprediksi Gempa? Ini Jawabannya
Ilustrasi gelombang seismik yang merekam aktivitas gempa bumi.(Dok. Anadolu)

DI tengah kemajuan teknologi yang mampu memetakan galaksi hingga meramal cuaca dengan presisi. Satu pertanyaan besar masih menghantui para ilmuwan, kapan dan di mana gempa besar berikutnya akan mengguncang?

Meski sensor seismik kini tersebar di berbagai sisi Bumi, misteri di balik pergerakan lempeng tektonik tetap menjadikan gempa bumi sebagai salah satu fenomena alam yang paling sulit ditaklukkan oleh sains.

Gempa bumi sendiri merupakan peristiwa yang ditandai dengan guncangan akibat pelepasan energi mendadak saat lapisan batuan di kerak bumi patah. Dipicu oleh pergerakan konstan lempeng tektonik, energi ini merambat ke segala arah dalam bentuk gelombang seismik yang getarannya terasa hingga ke permukaan bumi.

Secara umum, gempa dapat dikategorikan menjadi dua jenis: gempa alami dan gempa buatan (seperti yang dipicu oleh ledakan nuklir). Gempa bumi alami sendiri terbagi lagi menjadi tiga penyebab utama:

  • Gempa Tektonik: Disebabkan oleh pergerakan lempeng (paling dominan).
  • Gempa Vulkanik: Terjadi akibat aktivitas magma di dalam gunung berapi.
  • Gempa Tumbukan: Disebabkan oleh jatuhnya benda langit seperti meteorit.

Gempa tektonik terjadi ketika lapisan batuan mengalami tekanan hebat akibat gaya internal Bumi yang melebihi batas kekuatannya. Kondisi ini memicu pergeseran atau dislokasi batuan yang mengirimkan gelombang energi masif ke permukaan. Sayangnya, bencana ini masih sulit untuk diprediksi, mengapa demikian?

Alasan Gempa Bumi Sulit Diprediksi

Meskipun teknologi pemantauan telah berkembang pesat, memprediksi waktu presisi terjadinya gempa besar tetap menjadi salah satu tantangan tersulit dalam sains modern. Hal ini disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik yang sangat tidak teratur. 

Meskipun ilmuwan dapat mengukur penumpukan tekanan di sepanjang garis patahan, momen presisi saat tekanan tersebut dilepaskan tidak dapat dipastikan. Kompleksitas sistem patahan, di mana banyak patahan tersembunyi atau saling tumpang tindih, semakin menyulitkan identifikasi titik awal pelepasan energi tersebut.

Berbeda dengan fenomena cuaca yang menunjukkan tanda-tanda awal seperti perubahan angin atau formasi awan, gempa bumi tidak memiliki sinyal peringatan dini yang konsisten. Fenomena seperti gempa kecil atau foreshocks tidak selalu terjadi sebelum gempa besar, sehingga tidak bisa dijadikan indikator yang dapat diandalkan. 

Selain itu, gelombang seismik merambat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sistem peringatan dini saat ini hanya mampu memberikan peringatan dalam hitungan detik setelah gempa dimulai, yang berarti sistem tersebut hanya mendeteksi peristiwa yang sedang berlangsung, bukan memprediksi sebelum terjadi.

Hambatan lain dalam prediksi gempa adalah sulitnya membedakan sinyal seismik asli dari kebisingan latar belakang yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Konstruksi bangunan, lalu lintas yang padat, bahkan konser musik besar dengan puluhan ribu penonton dapat menghasilkan getaran yang menyerupai gempa kecil. 

Faktor kelangkaan gempa besar juga membatasi ketersediaan data bagi para ahli untuk mempelajari pola yang mungkin menjadi tanda-tanda awal. Karena keterbatasan dalam prediksi yang akurat, para ahli menekankan pentingnya langkah mitigasi seperti penguatan kode bangunan, renovasi infrastruktur, dan edukasi publik untuk mengurangi dampak bencana yang tak terelakkan ini. (Central Weather Administration/TRT World/The Weather Network/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya