Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru mengungkap fakta mencengangkan tentang cuaca ekstrem di planet terbesar tata surya kita. Kilatan petir di Jupiter ternyata memiliki kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah terjadi di Bumi, dengan potensi daya mencapai satu juta kali lipat lebih kuat dibandingkan petir di planet kita.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan telah mendeteksi kilatan cahaya di sisi gelap Jupiter melalui berbagai misi ruang angkasa. Namun, misteri mengenai kekuatan aslinya sulit terpecahkan karena tebalnya lapisan awan yang menghalangi pandangan kamera.
Michael Wong, ilmuwan planet dari University of California, Berkeley, menjelaskan timnya kini menggunakan pendekatan berbeda. Alih-alih hanya mengandalkan tangkapan gambar yang bisa terbiaskan oleh awan, mereka menganalisis data emisi radio dan gelombang mikro dari instrumen inti wahana antariksa Juno milik NASA.
Tantangan terbesar dalam riset ini adalah memisahkan sumber petir di tengah banyaknya badai yang terjadi bersamaan di Jupiter. Beruntung, tahun 2021 dan 2022, terjadi penurunan aktivitas badai di sabuk khatulistiwa utara Jupiter.
Momen langka ini memungkinkan para ilmuwan fokus pada satu sistem badai besar yang disebut sebagai "stealth superstorms". Meski puncaknya tidak setinggi badai raksasa lainnya, aktivitas badai ini berlangsung selama berbulan-bulan dan menghasilkan denyut petir yang sangat intens.
"Sangat memuaskan bisa mengolah statistik tersebut dan melihat bahwa dengan data Juno, kami benar-benar menangkap mayoritas denyut petir pada panjang gelombang radio," ujar Wong kepada Space.com. "Sebelumnya, ada pertanyaan apakah kami hanya menangkap denyut terkuat dan melewatkan yang lemah."
Berdasarkan 613 denyut yang diukur, kekuatan rata-rata petir di sana berkisar dari setara petir Bumi hingga 100 kali lipat lebih kuat. Bahkan, karena adanya perbedaan panjang gelombang radio yang diukur, para ahli memperkirakan kekuatannya bisa mencapai satu juta kali lipat.
Perbedaan drastis ini dipicu oleh komposisi atmosfer. Di Bumi, atmosfer didominasi nitrogen, sementara Jupiter didominasi hidrogen yang jauh lebih ringan. Kondisi ini membuat udara lembap di Jupiter lebih sulit untuk naik ke atas. Dibutuhkan akumulasi energi panas yang sangat besar agar badai bisa menembus atmosfer.
"Apakah perbedaan kuncinya adalah atmosfer hidrogen vs nitrogen, atau karena badai di Jupiter lebih tinggi sehingga ada jarak yang lebih besar?" kata Wong dalam sebuah pernyataan. Sebagai perbandingan, badai di Jupiter bisa mencapai ketinggian 100 kilometer, sementara di Bumi hanya sekitar 10 kilometer.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal AGU Advances ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana konveksi dan perpindahan panas bekerja di planet gas raksasa, sekaligus menegaskan posisi Jupiter sebagai tempat dengan cuaca paling ekstrem di lingkungan tata surya kita. (Space/Z-2)
Temuan ini didapat dari pengukuran terbaru menggunakan data radio pesawat ruang angkasa Juno, yang sejak 2016 mengorbit planet terbesar di tata surya tersebut.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Ilmuwan MIT temukan alasan mengapa Jupiter punya banyak pusaran badai sementara Saturnus hanya satu. Rahasianya ada pada "kekerasan" interior planet.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved