Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi revolusioner yang dipublikasikan pada awal 2026 mengungkap metode baru dalam perburuan planet di luar tata surya kita. Para astronom berhasil mengidentifikasi jalan pintas potensial untuk menemukan eksoplanet dengan memanfaatkan sinyal unik dari bintang yang memiliki aktivitas magnetik rendah.
Penelitian yang dipimpin oleh Matthew Standing ini tidak hanya menemukan hampir setengah lusin planet baru, tetapi juga membuka potensi penemuan ratusan planet lainnya yang selama ini tersembunyi dari deteksi teleskop konvensional.
Banyak dari ribuan eksoplanet yang telah diketahui terletak sangat dekat dengan bintang induknya. Kedekatan ini memicu fenomena ekstrem di mana radiasi intens dari bintang menghempaskan material planet tersebut. Proses ini menciptakan ekor puing-puing panjang yang menyerupai komet.
Puing-puing ini kemudian membentuk awan gas yang mengorbit bintang induk. Para astronom memanfaatkan keberadaan awan gas ini sebagai indikator keberadaan planet ekstrasolar yang belum terpetakan.
Puing-puing planet terdiri dari campuran berbagai gas yang menyerap sebagian cahaya bintang induk pada frekuensi tampak, menciptakan distorsi sinyal yang bisa dibaca oleh instrumen astronomi sensitif.
Matthew Standing, penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa proses penyerapan cahaya oleh puing planet tersebut memberikan efek visual yang unik. Bintang akan tampak "artifisial", seolah-olah kurang aktif secara magnetik dari yang seharusnya.
Dengan kata lain, bintang yang terlihat tidak aktif secara magnetik justru menjadi kandidat kuat sebagai tuan rumah bagi eksoplanet yang sedang mengalami peluruhan akibat radiasi bintang induknya. Strategi ini mempermudah para peneliti untuk mempersempit target pencarian di luasnya alam semesta.
Untuk membuktikan hipotesis ini, tim peneliti melakukan langkah-langkah sistematis berikut:
Hasilnya sangat signifikan. Penelitian ini berhasil mengonfirmasi 24 eksoplanet di 14 sistem bintang berbeda. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya adalah planet yang benar-benar baru ditemukan di lima sistem bintang.
Keberhasilan metode ini memberikan harapan besar bagi masa depan astronomi. Tim peneliti mengidentifikasi hampir 95% eksoplanet dalam sampel mereka memiliki massa lebih dari 10 kali massa Bumi.
Lebih mengejutkan lagi, para astronom menemukan 241 bintang lain yang menunjukkan tanda-tanda aktivitas magnetik serupa. Berdasarkan perhitungan statistik, Standing dan rekan-rekan memperkirakan terdapat sekitar 300 planet baru yang menunggu untuk dikonfirmasi di sekitar bintang-bintang tersebut.
Studi mendalam ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 28 Februari 2026, menandai babak baru dalam pemetaan planet di galaksi kita.
(LiveScience/H-3)
Saat ini, 3I/ATLAS terletak di rasi bintang Cancer setelah melewati rasi bintang Leo pada awal 2026 ini.
Temukan perbandingan usia Neptunus, Saturnus, dan Uranus. Benarkah raksasa gas terbentuk lebih dulu daripada raksasa es? Simak fakta astronomi terbaru.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Tim peneliti menemukan bahwa bintang yang tampak memiliki aktivitas magnetik rendah justru sering kali menjadi rumah bagi planet-planet yang mengorbit sangat dekat.
NASA ungkap tantangan teknis di balik terbatasnya jadwal peluncuran Artemis 2. Simak mengapa misi berawak pertama ke Bulan dalam 50 tahun ini sangat bergantung pada mekanika orbital dan cuaca.
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Sejumlah astronom menemukan cadangan air terbesar yang pernah diketahui di alam semesta. Lautan ini ditemukan di sebuah quasar raksasa yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved