Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA jutaan tahun, Bumi pernah mengalami masa transisi ekstrem yang dikenal sebagai "Snowball Earth". Pada periode ini, lembaran es raksasa menutupi hampir seluruh permukaan planet hingga ke wilayah tropis, membuatnya tampak seperti bola salju raksasa dari luar angkasa.
Selama ini, para ilmuwan meyakini pada masa tersebut, sistem iklim Bumi benar-benar mati atau membeku total. Namun, penelitian terbaru dari University of Southampton yang diterbitkan dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters mematahkan asumsi tersebut.
Melalui analisis terhadap batuan kuno di Kepulauan Garvellach, Skotlandia, para peneliti menemukan bukti bahwa iklim Bumi tetap "berdenyut" dengan ritme musiman, siklus matahari, bahkan pola iklim yang mirip dengan El Niño modern, meskipun planet dalam keadaan beku.
Penelitian ini berfokus pada sedimen berlapis yang disebut varves di Formasi Port Askaig. Batuan ini terbentuk selama glasiasi Sturtian, episode Snowball Earth paling intens yang berlangsung sekitar 57 juta tahun pada Periode Cryogenian (720-635 juta tahun lalu).
Tim menganalisis secara mikroskopis 2.600 lapisan individu yang masing-masing mewakili satu tahun pengendapan sedimen. Penulis utama studi, Dr. Chloe Griffin, menyatakan batuan ini berfungsi layaknya pencatat data alami.
"Batuan ini luar biasa, mencatat perubahan iklim dari tahun ke tahun selama salah satu periode terdingin dalam sejarah Bumi. Sebelumnya, kami tidak tahu apakah variabilitas iklim pada skala waktu seperti ini bisa ada selama masa Snowball Earth," ujar Dr. Griffin.
Hasil analisis statistik menunjukkan adanya pola berulang setiap beberapa tahun hingga dekade. Thomas Gernon, Profesor Ilmu Bumi dan Planet di Southampton, mengaku terkejut dengan temuan ini.
"Batuan ini menyimpan rangkaian lengkap ritme iklim yang kita kenal saat ini, musim tahunan, siklus matahari, dan osilasi antar-tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem iklim memiliki kecenderungan bawaan untuk berosilasi, bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun," jelas Profesor Gernon.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kondisi dinamis ini kemungkinan besar bukan merupakan aturan umum sepanjang masa Snowball Earth, melainkan sebuah gangguan singkat yang berlangsung selama ribuan tahun di tengah kondisi planet yang sangat stabil dan dingin.
Untuk memahami bagaimana iklim tetap aktif di planet yang membeku, tim melakukan simulasi model iklim. Hasilnya menunjukkan bahwa jika lautan tertutup es total, osilasi iklim memang akan terhenti. Namun, jika setidaknya 15 persen permukaan laut di wilayah tropis tetap bebas es, interaksi antara atmosfer dan laut dapat terjadi.
Kondisi ini mendukung teori bahwa Bumi mungkin tidak sepenuhnya membeku kaku, melainkan berada dalam status "slushball" (bola salju becek), di mana kantong-kantong laut terbuka masih eksis.
Dr. Elias Rugen, peneliti yang telah bekerja di Kepulauan Garvellach selama lima tahun, menegaskan pentingnya situs tersebut. "Melalui deposit ini, Anda dapat membaca sejarah iklim planet yang membeku, setahun demi setahun," pungkasnya.
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang ketahanan dan sensitivitas sistem iklim Bumi terhadap gangguan besar, yang sangat relevan untuk memahami masa depan planet kita. (Science Daily/Z-2)
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukan serpihan amber berusia 90 juta tahun di dasar laut Antartika.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved