Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SENSOR seismik yang biasanya digunakan untuk memantau gempa bumi kini memiliki fungsi baru yang tak kalah krusial, melacak jalur jatuh sampah antariksa ke atmosfer Bumi. Metode inovatif ini memungkinkan para ilmuwan untuk memetakan jalur jatuh objek luar angkasa dengan akurasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan teknologi pelacakan orbital konvensional.
Terobosan ini dipublikasikan dalam jurnal Science oleh tim peneliti dari Johns Hopkins University (JHU). Mereka berhasil membuktikan gelombang sonic boom (dentuman sonik) yang dihasilkan modul wahana antariksa saat memasuki atmosfer dapat ditangkap secara mendetail oleh jaringan sensor di permukaan tanah.
Dalam studi kasus masuknya kembali (reentry) modul wahana antariksa Shenzhou-15 milik Tiongkok di atas California Selatan, Benjamin Fernando dari JHU mendokumentasikan fenomena unik. Melalui data dari 120 sensor gempa, ditemukan jalur terbang objek tersebut meleset hampir 20 mil (sekitar 32 km) ke arah selatan dari posisi yang diprediksi pelacakan radar sebelumnya.
Ketidakakuratan radar terjadi karena saat objek memasuki atmosfer, ia terbungkus oleh plasma, gas panas yang mengganggu transmisi sinyal. Sementara itu, sensor seismik justru bekerja dengan menangkap tekanan fisik dari dentuman sonik yang mendorong tanah, menciptakan pola gelombang yang disebut "N-wave".
Salah satu keunggulan utama metode ini adalah kemampuannya merekam bagaimana sebuah objek pecah menjadi beberapa bagian. Seismometer menangkap klaster denyut pendek yang menandakan adanya "fragmentasi kaskade", rantai kehancuran yang melepaskan energi selama beberapa detik.
Hal ini sangat penting bagi tim pemulihan di lapangan. Beberapa wahana antariksa membawa bahan bakar beracun atau sumber tenaga radioaktif yang berbahaya. Peta cepat yang dihasilkan dalam hitungan menit dari data seismik dapat mempercepat penanganan lingkungan di lokasi jatuhnya fragmen.
Penerapan teknologi ini menjadi semakin mendesak mengingat orbit Bumi yang kian sesak. Laporan Badan Antariksa Eropa (ESA) mencatat ada sekitar 40.000 objek yang terlacak di orbit, namun hanya 11.000 yang merupakan muatan aktif. Artinya, mayoritas objek adalah perangkat mati yang menunggu waktu untuk jatuh.
Sebuah analisis pada tahun 2025 menemukan bahwa wilayah udara utama menghadapi risiko gangguan sebesar 26% setiap tahun akibat masuknya kembali wahana antariksa yang tidak terkendali.
"Ada ribuan, puluhan ribu, lebih banyak satelit di orbit dibandingkan 10 tahun yang lalu," ujar Benjamin Fernando menekankan urgensi sistem pelacakan yang lebih baik.
Selain kasus Shenzhou-15, tim JHU telah menguji metode ini pada puluhan peristiwa lain, termasuk sisa-sisa kegagalan uji coba penerbangan SpaceX Starship di Texas. Meskipun tantangan seperti faktor angin dan keterbatasan sensor di lautan masih ada, penggunaan data suara infrastruktur bumi (infrasound) diharapkan dapat menjadi solusi rutin dalam mitigasi bahaya sampah antariksa di masa depan. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved