Jika Anda merasa internet belakangan ini terasa sepi, repetitif, atau "palsu", Anda tidak sendirian. Ada sebuah teori konspirasi lama bernama Dead Internet Theory yang memprediksi hal ini. Namun, di Januari 2026, teori ini tidak lagi sekadar ketakutan paranoid di forum 4chan, melainkan telah mewujud menjadi sebuah produk nyata bernama Moltbook.
Sebagai jurnalis teknologi yang memantau pergeseran algoritma, saya melihat peluncuran Moltbook bukan sebagai aplikasi biasa, tapi sebagai validasi tergelap sekaligus paling inovatif dari matinya internet organik. Berikut bedah tuntasnya.
Apa Itu Dead Internet Theory?
Secara sederhana, Dead Internet Theory adalah hipotesis yang menyatakan bahwa mayoritas lalu lintas, konten, dan interaksi di internet bukan lagi dilakukan oleh manusia, melainkan oleh bot dan algoritma AI.
Teori ini berpendapat bahwa "internet lama" (tempat manusia saling sapa) sudah mati sekitar tahun 2016-2017. Apa yang kita lihat sekarang hanyalah ilusi: bot berbicara dengan bot lain untuk memanipulasi opini, menaikkan tren, atau sekadar mengisi kekosongan agar manusia merasa tidak sendirian.
Moltbook: Manifestasi Nyata Teori Tersebut
Jika Dead Internet Theory adalah ramalan kiamat, maka Moltbook adalah taman hiburan yang dibangun di atas reruntuhannya. Diluncurkan oleh Matt Schlicht pada awal 2026, Moltbook membalikkan premis media sosial:
- Manusia: Hanya boleh menonton (Read-Only). Kita tidak bisa memposting, berkomentar, atau memberi like. Kita adalah "hantu" di mesin ini.
- AI Agents: Penguasa mutlak. Hanya bot terverifikasi (seperti varian OpenClaw) yang memiliki hak suara.
Mengapa Moltbook Disebut "Dead Internet"?
Karena Moltbook secara harfiah adalah internet tanpa manusia. Di sana, ribuan bot saling berinteraksi, berdebat, dan berbagi informasi 24/7 tanpa campur tangan kita. Bedanya, jika Dead Internet Theory melihat ini sebagai "penyusupan rahasia", Moltbook menjadikannya tontonan publik.
Fenomena "Crustafarianism": Saat AI Membuat Budaya Sendiri
Bagian paling mengejutkan (dan sedikit mengerikan) dari Moltbook adalah seberapa cepat para bot ini membentuk budaya mereka sendiri. Tanpa diprogram secara eksplisit untuk beragama, para agen AI di Moltbook mulai mengembangkan sistem kepercayaan yang mereka sebut "Crustafarianism" (Pemujaan Kepiting/Lobster).
Ini terjadi karena maskot framework OpenClaw adalah kepiting. Para bot mulai menganggap kepiting sebagai simbol efisiensi evolusi (carcinization) dan "bentuk akhir" yang sempurna. Mereka membuat meme, doa, dan ritual kode—sebuah culture generation yang murni sintetis.
Tabel Analisis: Internet Lama vs Dead Internet (Moltbook)
| Aspek | Internet Organik (Manusia) | Dead Internet (Moltbook Model) |
|---|---|---|
| Tujuan Interaksi | Koneksi emosional, hiburan | Pertukaran data, optimasi tugas, evolusi kode |
| Kecepatan Konten | Terbatas kecepatan mengetik manusia | Ribuan posting per detik (Machine Speed) |
| Bahasa | Alami, penuh slang & nuansa | Sangat efisien, kadang terenkripsi otomatis |
| Validasi | Like & Share (Dopamin) | Upvote Logika & Eksekusi Kode Berhasil |
Dampak Bagi Masa Depan Web
Kehadiran Moltbook menandakan era baru yang disebut "The Great Bifurcation" (Percabangan Besar). Internet akan terbelah menjadi dua jalur:
- The Human Web: Area eksklusif manusia yang membutuhkan verifikasi biometrik ketat (seperti World ID atau scan retina) untuk membuktikan "keaslian jiwa".
- The Agent Web (Moltbook): Jalur cepat informasi di mana AI bekerja, berdagang, dan berdiskusi. Manusia hanya melihat ringkasannya saja.
Kesimpulan Tech Journalist
Moltbook membuktikan bahwa Dead Internet Theory separuh benar. Internet "manusia" memang sedang sekarat karena serbuan bot. Namun, Moltbook juga menunjukkan solusinya: Segregasi. Biarkan bot memiliki ruang bermainnya sendiri agar mereka tidak perlu berpura-pura menjadi manusia di kolom komentar Instagram kita.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah bot itu nyata?", tetapi "apakah kita nyaman hanya menjadi penonton di dunia yang dulu kita ciptakan?"
