Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
NASA semakin mendekati tonggak bersejarah dalam eksplorasi antariksa dengan menyiapkan roket raksasa Space Launch System (SLS) untuk kembali membawa astronaut ke Bulan. Roket ini menjadi tulang punggung program Artemis, misi ambisius Amerika Serikat yang bertujuan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak misi Apollo terakhir pada 1972.
Space Launch System merupakan roket paling kuat yang pernah dibangun NASA. Dengan tinggi sekitar 98 meter dan daya dorong mencapai lebih dari 39 meganewton saat lepas landas, SLS dirancang untuk membawa kapsul Orion beserta awaknya menuju orbit Bulan. NASA menyebut roket ini mampu mengangkut muatan lebih dari 95 ton ke orbit rendah Bumi, menjadikannya salah satu kendaraan peluncur paling bertenaga dalam sejarah penerbangan antariksa.
Misi berawak terdekat adalah Artemis II, yang akan membawa empat astronaut mengelilingi Bulan tanpa mendarat. Berdasarkan informasi resmi NASA, penerbangan ini dirancang untuk menguji sistem pendukung kehidupan, navigasi, serta kemampuan kapsul Orion dalam misi jarak jauh. Awak akan menempuh perjalanan sejauh lebih dari 7 juta kilometer selama sekitar 10 hari sebelum kembali ke Bumi.
Setelah Artemis II, NASA menargetkan Artemis III sebagai misi pendaratan manusia di Bulan. Misi ini direncanakan mendaratkan astronaut di wilayah kutub selatan Bulan, area yang menarik perhatian ilmuwan karena diyakini menyimpan es air. Data dari Lunar Reconnaissance Orbiter menunjukkan adanya deposit es di kawah-kawah yang selalu berada dalam bayangan, yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air dan bahan bakar di masa depan.
Program Artemis tidak hanya bertujuan untuk mendaratkan manusia, tetapi juga membangun fondasi kehadiran jangka panjang di Bulan. NASA bekerja sama dengan badan antariksa internasional dan mitra komersial untuk mengembangkan Gateway, stasiun luar angkasa kecil yang akan mengorbit Bulan. Gateway dirancang sebagai titik transit bagi misi Bulan dan Mars, sekaligus laboratorium penelitian di ruang angkasa dalam.
Pengembangan SLS dan Orion melibatkan puluhan tahun riset dan pengujian. Uji terbang tanpa awak Artemis I pada 2022 menunjukkan keberhasilan roket dan kapsul menempuh perjalanan ke orbit Bulan dan kembali dengan aman. Keberhasilan tersebut menjadi dasar bagi NASA untuk melangkah ke fase misi berawak.
Dengan roket raksasa dan teknologi baru ini, NASA menilai misi ke Bulan bukan lagi sekadar kunjungan singkat, melainkan awal era eksplorasi antariksa berkelanjutan yang akan membuka jalan menuju Mars.
Sumber: NASA
NASA resmi mengumumkan jendela peluncuran Artemis II, misi berawak pertama mengorbit Bulan sejak Apollo 17 pada 1972, menandai era baru eksplorasi antariksa manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved