Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

7 Cara Melindungi Anak dari Kejahatan Deepfake AI

 Gana Buana
08/1/2026 20:04
7 Cara Melindungi Anak dari Kejahatan Deepfake AI
Langkah krusial bagi orang tua untuk melindungi privasi dan jejak digital anak dari ancaman deepfake.(Freepik)

FENOMENA penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi foto anak menjadi konten tidak senonoh (deepfake) menjadi peringatan keras bagi para orang tua. Kasus yang mencuat belakangan ini membuktikan bahwa pelaku kejahatan siber tidak lagi memerlukan interaksi fisik untuk mengeksploitasi korban; mereka hanya membutuhkan data biometrik wajah yang tersedia bebas di media sosial.

Di era di mana "sharenting" (kebiasaan orang tua membagikan foto anak) menjadi lumrah, keamanan privasi anak sering kali terabaikan. Sebagai langkah preventif jangka panjang, berikut adalah 7 panduan krusial bagi orang tua untuk meminimalkan risiko pencurian identitas dan manipulasi AI pada anak.

1. Evaluasi Kebiasaan 'Sharenting' Anda

Langkah pertama adalah kesadaran diri. Tanyakan pada diri Anda: "Apakah foto ini perlu dilihat oleh publik?". Jejak digital bersifat abadi. Mengurangi frekuensi unggahan foto wajah anak secara drastis adalah cara paling efektif memutus pasokan data bagi algoritma AI generatif.

2. Hindari Foto Wajah Resolusi Tinggi (Close-Up)

Algoritma deepfake bekerja paling optimal dengan foto wajah yang jelas, memiliki pencahayaan baik, dan beresolusi tinggi.

Tips: Jika ingin membagikan momen, usahakan mengambil angle dari samping, belakang, atau gunakan foto long shot (jarak jauh) di mana fitur wajah anak tidak teridentifikasi dengan detail.

3. Terapkan 'Digital Watermark' atau Stiker

Mempersulit kinerja AI bisa dilakukan dengan merusak integritas visual foto. Menutup sebagian wajah anak dengan stiker digital atau memberikan watermark nama pada foto dapat membingungkan algoritma pengenalan wajah (facial recognition) yang digunakan oleh pelaku kejahatan.

4. Audit Pengaturan Privasi (Private vs Public)

Pastikan akun media sosial tempat Anda menyimpan kenangan anak berada dalam mode Private (Terkunci). Jangan biarkan akun bersifat publik.

Penting: Lakukan audit berkala terhadap daftar pengikut (followers). Hapus akun-akun yang tidak Anda kenal secara personal atau terlihat mencurigakan (bot accounts).

5. Edukasi Konsep 'Consent' Sejak Dini

Anak-anak generasi Alpha tumbuh berdampingan dengan kamera. Ajarkan mereka bahwa tubuh dan wajah mereka adalah privasi. Mintalah izin kepada anak sebelum memotret atau mengunggah foto mereka. Ini membangun kesadaran bahwa mereka memiliki hak untuk menolak didokumentasikan, yang akan menjadi benteng pertahanan mereka saat beranjak remaja.

6. Manfaatkan Fitur 'Digital Parenting'

Platform besar seperti Google, Apple, dan Meta memiliki fitur kontrol orang tua (Parental Control). Aktifkan fitur ini untuk memantau aktivitas daring anak dan mencegah mereka mengunggah foto diri (selfie) secara sembarangan ke platform yang tidak aman.

7. Pahami Jalur Hukum (UU ITE & UU TPKS)

Orang tua wajib melek hukum. Di Indonesia, manipulasi foto yang bermuatan asusila dapat dijerat dengan UU ITE dan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Jika menemukan foto anak Anda disalahgunakan, jangan ragu untuk segera mengumpulkan bukti tangkapan layar (screenshot) dan melaporkannya ke unit Cyber Crime Polri atau melalui kanal aduan Kemkomdigi.

Kesimpulan

Teknologi AI akan terus berkembang semakin canggih. Kita tidak bisa menghentikan laju teknologi, namun kita bisa memperkuat benteng pertahanan keluarga. Melindungi privasi anak di dunia maya saat ini sama pentingnya dengan menjaga keselamatan mereka di dunia nyata. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya