Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Navigasi Keamanan Siber Telekomunikasi 2025: Antara Ancaman Klasik dan Risiko Teknologi Masa Depan

Basuki Eka Purnama
29/12/2025 11:52
Navigasi Keamanan Siber Telekomunikasi 2025: Antara Ancaman Klasik dan Risiko Teknologi Masa Depan
Ilustrasi(Freepik)

SEKTOR telekomunikasi global tengah berada di persimpangan jalan. Laporan terbaru dari Buletin Keamanan Kaspersky 2025 mengungkapkan bahwa sepanjang tahun ini, operator seluler tidak hanya bertarung melawan ancaman siber konvensional, tetapi juga mulai menghadapi risiko operasional baru akibat adopsi teknologi mutakhir yang akan berlanjut hingga 2026.

Berdasarkan data Kaspersky Security Network periode November 2024 hingga Oktober 2025, tercatat 12,79% pengguna di sektor ini menghadapi ancaman daring, sementara 20,76% lainnya terpapar ancaman langsung pada perangkat. 

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa hampir 10% organisasi telekomunikasi di seluruh dunia sempat lumpuh akibat serangan ransomware dalam periode yang sama.

Empat Ancaman Utama di 2025

Tahun ini, industri telekomunikasi ditekan oleh empat kategori gangguan utama. Pertama adalah aktivitas Advanced Persistent Threats (APT) yang bertujuan melakukan spionase jangka panjang melalui akses jaringan yang istimewa. 

Kedua, kerentanan rantai pasokan tetap menjadi titik lemah karena ekosistem telekomunikasi yang sangat bergantung pada banyak vendor dan kontraktor pihak ketiga.

Selain itu, serangan DDoS masih menjadi tantangan praktis yang mengganggu ketersediaan layanan. Terakhir, maraknya penipuan berbasis kartu SIM terus menambah beban bagi para operator dalam menjaga kepercayaan pelanggan.

Menuju 2026: Risiko Transisi Teknologi

Laporan tersebut menyoroti adanya pergeseran dari pengembangan teknologi cepat menuju implementasi luas. Namun, transisi ini menyimpan risiko jika diterapkan tanpa kontrol yang kuat. Kaspersky mengidentifikasi tiga area krusial yang perlu diwaspadai:

  1. Otomatisasi AI: Penggunaan AI dalam manajemen jaringan berisiko memperkuat kesalahan konfigurasi jika sistem bekerja berdasarkan data yang menyesatkan.
  2. Kriptografi Pasca-Kuantum: Penerapan yang terburu-buru dapat memicu masalah interoperabilitas dan kinerja pada lingkungan TI yang kompleks.
  3. Integrasi Satelit (NTN): Perluasan jaringan 5G ke satelit memperkenalkan titik integrasi baru yang berpotensi menjadi mode kegagalan sistem.

Leonid Bezvershenko, peneliti keamanan senior di Kaspersky GReAT, menekankan pentingnya kewaspadaan ganda bagi operator.

“Ancaman yang mendominasi 2025 — kampanye APT, serangan rantai pasokan, serangan DDoS — tidak akan hilang. Namun sekarang ancaman tersebut beririsan dengan risiko operasional dari otomatisasi AI, kriptografi siap kuantum, dan integrasi satelit. Operator telekomunikasi membutuhkan visibilitas di kedua dimensi tersebut: memiliki pertahanan kuat terhadap ancaman yang diketahui sambil membangun keamanan ke dalam teknologi baru ini sejak hari pertama. Kuncinya adalah intelijen ancaman berkelanjutan yang mencakup dari titik akhir hingga orbit,” papar Bezvershenko.

Langkah Mitigasi

Untuk memperkuat pertahanan, para ahli merekomendasikan operator untuk memantau lanskap APT secara kontinu dan memperlakukan otomatisasi AI sebagai program manajemen perubahan yang tetap melibatkan kendali manusia. 

Selain itu, penguatan kapasitas mitigasi DDoS serta penggunaan teknologi deteksi dini seperti Endpoint Detection and Response (EDR) menjadi keharusan untuk memastikan respon cepat terhadap setiap insiden siber. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik