Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH alam semesta akan benar-benar “berakhir”? Hingga kini, para ilmuwan belum menemukan jawaban pasti. Namun, berbagai bukti menunjukkan alam semesta kemungkinan akan terus bertahan sangat lama sebagai rumah bagi umat manusia.
Alam semesta berawal sekitar 14 miliar tahun lalu melalui peristiwa ekspansi cepat yang dikenal sebagai Big Bang. Sejak itu, kosmos terus berubah, dimulai dari gas partikel penyusun atom, kemudian membentuk bintang dan galaksi seperti yang kita amati sekarang.
Seorang astrofisikawan menjelaskan pemahaman tentang masa depan alam semesta didasarkan pada pengamatan terhadap galaksi jauh dan bintang-bintang, yang menunjukkan bagaimana objek-objek langit berevolusi dari masa ke masa. Dari tren itulah diperkirakan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Menurut ilmuwan tersebut, memprediksi masa depan alam semesta adalah bentuk ekstrapolasi, yang tentu memiliki risiko karena bisa saja terjadi hal tak terduga. Ia mengibaratkannya seperti melihat foto seseorang saat berusia 5 dan 7 tahun, lalu menebak penampilannya saat usia 6 tahun. Namun, menebak penampilan usia 10 tahun penuh ketidakpastian.
Demikian pula dengan alam semesta. Ilmuwan dapat memperkirakan beberapa miliar tahun ke depan, tetapi perubahan drastis mungkin kembali terjadi seperti halnya di masa lalu.
Kabar baiknya, Matahari masih akan bersinar selama miliaran tahun. Bintang berukuran sedang seperti Matahari memiliki umur sekitar 10 miliar tahun dan kini berada di pertengahan usianya. Sementara bintang biru yang besar hidup lebih singkat, bintang merah kecil justru dapat bertahan jauh lebih lama.
Saat ini, sebagian galaksi masih memproduksi bintang baru, sementara sebagian lainnya kehabisan gas pembentuk bintang. Setelah proses ini berhenti, galaksi akan perlahan dipenuhi bintang merah yang redup. Dalam hitungan triliunan tahun, bintang-bintang tersebut pun akan memudar menjadi gelap.
Galaksi juga akan terus tumbuh dengan menyerap galaksi yang lebih kecil. Proses ini membuat galaksi spiral berubah menjadi galaksi elips yang lebih besar. Milky Way dan Andromeda diperkirakan akan bergabung dalam beberapa miliar tahun mendatang, meski bintang-bintangnya tidak akan saling bertabrakan.
Ekspansi alam semesta diperkirakan tetap berlangsung. Beberapa bukti menunjukkan adanya gaya misterius yang mempercepat perluasan kosmos, dikenal sebagai dark energy. Jika percepatan ini terus berlanjut, galaksi-galaksi jauh akan melaju semakin cepat hingga akhirnya tidak lagi dapat diamati dari Bima Sakti.
Prediksi yang kini dianggap paling mungkin adalah pembentukan bintang akan berhenti, galaksi-galaksi besar akan terbentuk dari penggabungan, dan perluasan alam semesta akan membuat objek-objek langit makin terpisah jauh satu sama lain. Hingga akhirnya kosmos memasuki “keabadian gelap” yang berlangsung triliunan tahun.
Meski demikian, ilmuwan menegaskan masa depan alam semesta bisa saja berubah seiring penemuan baru. Ia mengaku kadang merasa sendu memikirkan skenario tersebut, namun kembali teringat manusia hidup di periode yang sangat menarik dalam sejarah kosmos. Masa ketika bintang dan galaksi masih penuh warna. “Ada begitu banyak waktu bagi kita untuk terus menjelajah dan mencari jawaban,” ujarnya. (Space/Z-2)
Peneliti dari Universitas Frankfurt menemukan batas seberapa padat bintang neutron bisa terbentuk.
Objek bercahaya itu merupakan roket SpaceX Falcon 9 yang diluncurkan dari Kennedy Space Center Florida, kira-kira 250 mil (400 kilometer) dari Waycross.
Gambar-gambar ini diambil dengan bidikan terbaik, meski pada kenyataannya masih ada keburaman yang tersisa akibat goncangan termal atom itu sendiri.
Model kosmologis ini telah lama diprediksi keberadaannya, namun hingga kini jaring kosmik belum pernah diamati dan ditangkap secara langsung dalam gambar.
Kondisi ini meningkatkan peluang astronot dalam misi luar angkasa di masa depan dapat menemukan sumber air dan mungkin bahkan bahan bakar di permukaan bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved