Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGGUNAKAN kekuatan superkomputer Pleiades, para peneliti NASA berhasil memodelkan momen-momen krusial sebelum dua bintang neutron saling bertabrakan. Simulasi ini menunjukkan kekacauan luar biasa sudah dimulai bahkan sebelum kedua objek tersebut bersentuhan secara fisik.
Bintang neutron adalah sisa-sisa kematian bintang masif yang meledak dalam supernova. Objek ini begitu padat sehingga satu sendok teh materinya akan berbobot sekitar 10 juta ton jika dibawa ke Bumi, atau setara dengan berat 85,000 paus biru dewasa.
Fokus utama penelitian ini adalah "magnetosfer", yakni wilayah medan magnet yang mengelilingi bintang neutron. Medan magnet ini tercatat satu kuadriliun kali lebih kuat daripada medan magnet Bumi.
"Sesaat sebelum bintang neutron bertabrakan, wilayah berisi plasma yang sangat termagnetisasi di sekitar mereka mulai berinteraksi dengan kuat," ujar ketua tim Dimitrios Skiathas dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA.
Tim mempelajari orbit terakhir sebelum penggabungan, di mana medan magnet yang saling melilit mengalami perubahan dramatis yang sangat cepat. "Dalam simulasi kami, magnetosfer berperilaku seperti sirkuit magnetik yang terus-menerus mengatur ulang dirinya sendiri saat bintang-bintang mengorbit," tambah anggota tim, Constantinos Kalapotharakos.
Tabrakan bintang neutron bukan sekadar ledakan biasa. Peristiwa yang disebut sebagai kilonova ini menciptakan satu-satunya lingkungan di alam semesta yang cukup bergejolak untuk menempa elemen-elemen berat.
Tanpa turbulensi ekstrem dari tabrakan ini, logam mulia seperti emas, perak, dan platinum, serta elemen berat seperti plutonium, tidak akan pernah ada. Inti bintang masif sekalipun tidak mampu melakukan "alkimia elemen" serumit ini.
Simulasi ini mengungkap bahwa cahaya yang dipancarkan dari sistem ini sangat bervariasi tingkat kecerahannya dan tidak terdistribusi secara merata. Hal ini menunjukkan bahwa sudut pandang pengamat dari Bumi sangat menentukan sinyal apa yang bisa ditangkap.
Penelitian ini memberikan panduan bagi fasilitas generasi mendatang, seperti detektor gelombang gravitasi berbasis ruang angkasa LISA milik NASA/ESA yang dijadwalkan meluncur pada pertengahan 2030-an. Detektor ini diharapkan dapat menangkap "jeritan" terakhir gelombang gravitasi dan sinyal cahaya sebelum tabrakan terjadi.
"Salah satu nilai dari studi seperti ini adalah membantu kita mencari tahu apa yang mungkin bisa dilihat dan harus dicari oleh observatorium masa depan, baik dalam gelombang gravitasi maupun cahaya," pungkas peneliti NASA, Demosthenes Kazanas.
Hasil studi ini telah dipublikasikan di The Astrophysical Journal pada 20 November 2025. (Space/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved