Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DINOSAURUS bernama Anchisaurus pernah mengalami perubahan nama ilmiah berkali-kali. Lalu, mengapa seekor dinosaurus dapat mengalami perubahan nama semacam itu dengan begitu sering?
Penemuan besar dalam dunia sains sering kali muncul dari situasi yang tak terduga. Kisah tentang Anchisaurus, dinosaurus dengan leher panjang yang berasal dari awal era Jura, juga diawali bukan dari penelitian ilmiah, melainkan akibat ledakan konstruksi di Amerika Serikat.
Banyak bagian tulangnya hancur dan terpisah, tetapi fragmen yang berhasil diselamatkan membuka wawasan penting mengenai evolusi awal kelompok sauropodomorph (dinosaurus berleher panjang seperti Brachiosaurus dan Diplodocus).
Proses pengakuan ilmiah untuk spesies ini dimulai pada tahun 1865 ketika seorang ahli geologi bernama Edward Hitchcock menamai fosil tersebut Megadactylus.
Sayangnya, nama tersebut sudah digunakan untuk hewan lain, sehingga kemudian diganti menjadi Amphisaurus, yang ternyata juga sudah terpakai sebelumnya.
Baru setelah dua kali penggantian, nama Anchisaurus terlahir, yang berarti “kadal dekat”, merujuk pada hubungan evolusionernya dengan sauropoda.
Para ilmuwan berpendapat bahwa Anchisaurus mampu berpindah posisi antara berjalan dengan empat kaki dan berlari dengan dua kaki, mungkin dengan menggunakan kaki belakangnya untuk melarikan diri dari bahaya.
Setiap tangannya memiliki cakar yang tajam dan kuat, suatu fitur yang memicu diskusi panjang tentang cara hidupnya. Hingga tahun 1950-an, beberapa ahli paleontologi, termasuk Richard Swan Lull dari Yale, menggambarkannya sebagai pemakan daging yang aktif berburu vertebrata kecil.
Namun, penelitian terbaru memberikan bukti kuat bahwa ia lebih mungkin adalah herbivora, dan cakar itu berfungsi untuk merobek kayu, menjangkau vegetasi, atau bertahan dari serangan predator.
Fosil pertama Anchisaurus ditemukan pada tahun 1855 di sebuah fasilitas bersenjata bersejarah di Springfield, ketika pekerja melakukan peledakan di area konstruksi. Ledakan tersebut mengungkapkan tulang-tulang misterius, tetapi sebagian besar telah hancur atau diambil oleh pekerja sebelum para ahli diberi tahu.
Inspektur William Smith akhirnya menghubungi Hitchcock, memberikan sebanyak mungkin material (yang telah rusak) yang dapat ia temukan. Selama bertahun-tahun, Anchisaurus dianggap sebagai dinosaurus berumur 190 juta tahun.
Namun, analisis batuan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa lapisan tempat fosil ditemukan berusia antara 201,6 hingga 200,9 juta tahun, menjadikannya lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Jejak kaki dari era yang sama juga ditemukan di Nova Scotia dan terlihat sangat mirip, meskipun identitas pastinya belum bisa dipastikan.
Pada tahun 1880-an, kerangka Anchisaurus yang paling lengkap ditemukan di Manchester, Connecticut, terperangkap dalam blok batu tambang yang dijual untuk konstruksi.
Ahli paleontologi terkenal, Othniel Charles Marsh dari Yale, awalnya mengira fosil tersebut milik Anchisaurus, kemudian ia memberinya nama Ammosaurus.
Sebagian ahli modern berpendapat bahwa penilaian awal Marsh mungkin benar, sehingga Ammosaurus berpotensi dianggap sebagai nama yang tidak sah. Proses penemuan ini berlanjut ketika sisa-sisa kerangka lainnya ditemukan dalam struktur jembatan setempat.
Paleontolog John Ostrom memakan waktu dua tahun untuk menyurvei lebih dari 60 jembatan dan akhirnya menemukan tulang tambahan pada tahun 1969, tepat sebelum jembatan tersebut dihancurkan.
Para ahli masih berselisih pendapat mengenai apakah tulang itu berasal dari individu yang sama. Namun, penemuan itu memberikan sebuah pertanyaan menarik: berapa banyak fosil dinosaurus lainnya saat ini mungkin terkubur dalam struktur buatan manusia?
Kisah Anchisaurus menunjukkan bahwa cerita tentang kehidupan kuno bisa ditemukan di tempat yang tidak terduga, bahkan dari trotoar yang kita lewati setiap hari. Apa yang ada di bawah kaki kita mungkin menyimpan misteri yang masih menanti untuk diungkap.
Sumber: National Geographic Channel
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved