Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISME laut mikroskopis yang membangun cangkang kalsium karbonat (CaCO3) ternyata memiliki peran yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan dalam mengatur iklim Bumi.
Sebuah tinjauan dari tim internasional di Institut Sains dan Teknologi Lingkungan di Universitat Autònoma de Barcelona (ICTA-UAB) menemukan bahwa plankton pembentuk cangkang—termasuk kokolitofor, foraminifera, dan pteropoda—kurang terwakili dalam model iklim saat ini. Kelalaian ini berisiko meremehkan mekanisme utama siklus karbon laut dan responsnya terhadap perubahan iklim.
Para ilmuwan berpendapat bahwa plankton pengapur ini membentuk kimia air laut dan mengarahkan bagaimana karbon dipindahkan dari atmosfer ke laut dalam. Saat mereka hidup, mati, dan tenggelam, cangkang mereka memengaruhi alkalinitas laut dan pengangkutan karbon.
“Cangkang plankton memang kecil, tetapi bersama-sama mereka membentuk kimia lautan dan iklim planet kita,” kata Patrizia Ziveri, penulis utama studi tersebut.
Para peneliti memperingatkan bahwa dengan tidak memasukkan ciri fungsional unik spesies ini ke dalam model iklim, “kita berisiko mengabaikan proses fundamental yang menentukan bagaimana sistem Bumi merespons perubahan iklim.”
Model Sistem Bumi (seperti yang digunakan dalam Proyek Perbandingan Model Terkopel) sering menyederhanakan atau menghilangkan berbagai kelompok plankton pengapur.
Akibatnya, proses penting seperti pelarutan dangkal—ketika CaCO3 larut di dekat permukaan dan bukan hanya di air dalam—kurang terwakili.
Sebagian besar cangkang tidak pernah mencapai dasar laut; cangkang tersebut larut di lautan bagian atas, mengubah alkalinitas lokal dan global.
Mengabaikan “perjalanan partikel” dari permukaan ke dalam dapat menyebabkan model tidak memperhitungkan seberapa banyak karbon yang tersimpan, seberapa cepat, dan di mana.
Tinjauan ini menyoroti bahwa kokolitofor, foraminifer, dan pteropoda masing-masing memiliki ciri khas tersendiri yang memengaruhi ekologi dan kerentanan mereka terhadap perubahan iklim:
Dengan mengabaikan keragaman ini, pemodel iklim memperlakukan mereka sebagai satu kelompok generik “pengkalsifikasi,” sehingga kehilangan nuansa dan berpotensi menimbulkan bias pada prediksi.
Pelarutan dangkal, agregasi, predasi, dan respirasi mikroba secara aktif mengubah berapa banyak cangkang yang tenggelam dan berapa banyak karbon yang diekspor. Dinamika ini mengendalikan seberapa banyak karbon yang meninggalkan permukaan laut dan seberapa banyak yang kembali ke sirkulasi atau laut dalam.
Tanpa memperhitungkan proses-proses tersebut, kemampuan laut untuk menyerap CO2 atau mengembalikannya ke atmosfer akan salah diperkirakan.
Para penulis studi menyerukan upaya mendesak untuk menyempurnakan perkiraan produksi, pelarutan, dan ekspor kalsium karbonat oleh berbagai kelompok plankton ini.
Hal ini akan memungkinkan Model Sistem Bumi untuk memproyeksikan tidak hanya aliran karbon atmosfer, tetapi juga menangkap umpan balik laut-atmosfer dengan akurasi yang lebih tinggi.
Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa organisme kecil yang membentuk catatan fosil sekarang layak mendapat perhatian untuk proyeksi masa depan yang lebih baik. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, para ahli mengusulkan:
“Jika kita mengabaikan organisme terkecil di lautan, kita mungkin kehilangan dinamika iklim yang penting,” kata Ziveri. Mengintegrasikan plankton pengapur ke dalam model iklim “dapat memberikan prediksi yang lebih tajam dan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana ekosistem dan masyarakat dapat terpengaruh.”
Ulasan ini mengingatkan bahwa sistem iklim bukan hanya fisika dan kimia, tetapi juga biologi. Urgensinya sekarang adalah memasukkan kontribusi organisme mikroskopis ini ke dalam model sebelum kita bersandar pada asumsi yang tidak lengkap. (Earth/Z-1)
Simulasi terbaru mengungkap gravitasi Mars berperan vital dalam menstabilkan kemiringan sumbu Bumi dan mengatur siklus iklim jangka panjang (Milankovitch).
Ukurannya sangat bervariasi, ada yang sekecil ujung jarum, dan ada pula yang tumbuh sebesar bola mata manusia. Perbedaan ukuran ini dipengaruhi oleh volume vakuola
Hasil aktivitas biologis yang dilakukan hewan, jamur, dan mikroorganisme memengaruhi kesuburan, tekstur, dan kegemburan tanah. Berikut uraian tentang beberapa peran organisme tanah.
Terobosan ini memberikan pemahaman baru tentang asal-usul genetik sel induk dan hubungan evolusi antara hewan dengan kerabat purba mereka yang bersel tunggal.
Simbiosis komensalisme adalah salah satu bentuk interaksi antara dua organisme yang berbeda spesies, di mana satu pihak mendapatkan keuntungan
LUMUT kerak, organisme kecil yang terbentuk dari simbiosis jamur dan alga, dikenal karena ketahanannya yang luar biasa terhadap kondisi ekstrem seperti di Mars.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved