Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi baru mengungkap lebih dari 20 aplikasi VPN di Google Play Store ternyata menggunakan kode dan infrastruktur yang sama. Walaupun masing-masing aplikasi mempromosikan diri sebagai layanan independen. Bersama-sama, aplikasi ini termasuk 20 dari 100 VPN terpopuler di platform tersebut, dengan total 700 juta pengguna.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan serius terkait kepercayaan dan transparansi dalam industri yang seharusnya menekankan privasi. Selain itu, riset ini juga menunjukkan kualitas pengawasan toko aplikasi terhadap penyedia VPN masih lemah.
Studi ini dilakukan The Citizen Lab, University of Toronto, yang melacak aplikasi-aplikasi tersebut ke tiga keluarga VPN utama, beberapa dengan koneksi ke Rusia dan Tiongkok. Peneliti menggunakan analisis APK Android dan dokumen perusahaan untuk menemukan keterkaitan tersembunyi ini.
Selain masalah transparansi, studi juga menemukan kerentanan keamanan serius:
Ketiga keluarga VPN rentan terhadap serangan on-path. Artinya hacker yang berada di jaringan yang sama, seperti Wi-Fi publik, bisa mencegat lalu lintas data tanpa diketahui pengguna.
Para peneliti menekankan toko aplikasi memiliki keterbatasan dalam memverifikasi siapa pengelola VPN atau bagaimana aplikasi dibangun, karena sistem review mereka lebih fokus pada malware dan pelanggaran privasi. Sebagai solusi, mereka menyarankan penerapan “lencana audit keamanan” untuk VPN, sehingga pengguna bisa lebih percaya pada aplikasi yang mereka pilih.
Proses review Google sendiri belum sepenuhnya transparan. Menurut halaman dukungan Google, developer harus menyediakan kebijakan privasi, mengungkap adanya iklan, memperoleh rating konten, serta menyampaikan praktik privasi dan keamanan aplikasi agar lolos review.
Dalam pernyataan kepada Mashable, juru bicara Google menegaskan perusahaan tetap berkomitmen pada kepatuhan terhadap sanksi dan hukum perdagangan yang berlaku. “Ketika kami menemukan akun yang melanggar hukum atau kebijakan kami, kami mengambil tindakan yang tepat,” tulis pernyataan tersebut. (Mashable/Z-2)
Google Play dikabarkan menguji fitur Try Before You Buy yang memungkinkan gamer mencoba game premium secara gratis sebelum membeli di Play Store.
Dengan narasi yang terinspirasi dari peristiwa Reformasi 1998 di Indonesia, pemain gim 1998: The Toll Keeper Story akan dihadapkan pada berbagai pilihan moral yang sulit.
Google Play sebelumnya dikenal sebagai Android Market sebelum berganti nama pada tahun 2012.
Metode pembayaran dengan QRIS diluncurkan Google seiring dengan perkembangan metode pembayaran digital saat ini.
TikTok kembali tersedia di toko aplikasi Apple dan Google di AS setelah Presiden Donald Trump menunda larangan terhadap aplikasi asal Tiongkok tersebut hingga 5 April.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved