Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom menemukan galaksi purba, yang diberi nama JADES-GS-z11-0. Galaksi ini sudah ada sekitar 400 juta tahun setelah Big Bang atau ketika usia alam semesta masih kurang dari 3% dari usianya saat ini.
Penemuan ini pertama kali dilakukan melalui pengamatan teleskop ruang angkasa James Webb Space Telescope (JWST), lalu diteliti lebih jauh menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Gurun Atacama, Cile. Dengan resolusi tinggi yang dimilikinya, ALMA berhasil mengungkap detail yang mengejutkan dari galaksi ini.
ALMA, terdiri dari 66 teleskop raksasa yang saling terhubung, mampu menangkap detail lebih tajam daripada JWST.
Meski tidak sebesar galaksi modern, JADES-GS-z11-0 tergolong matang dan sangat aktif membentuk bintang baru. Setiap tahunnya, sekitar enam kali massa Matahari berubah menjadi bintang baru. Angka ini jauh lebih besar dibanding kemampuan galaksi Bima Sakti saat ini.
Sebagai perbandingan, Bima Sakti, galaksi tempat kita berada, hanya mampu menciptakan beberapa bintang dengan total massa yang jauh lebih kecil dalam setahun.
Artinya, JADES-GS-z11-0 adalah “pabrik bintang” yang luar biasa aktif di masanya. Kondisi ini membuatnya bersinar terang dan menjadi salah satu objek paling menonjol di alam semesta awal.
Para astronom juga mendeteksi jejak oksigen dalam jumlah besar di awan gas galaksi tersebut. Kandungan oksigen itu mencapai sekitar 30% dari galaksi modern.
Hal ini membingungkan, karena untuk menghasilkan oksigen sebanyak itu dibutuhkan beberapa generasi bintang yang hidup dan mati, sementara usia alam semesta saat itu masih sangat muda.
Penemuan ini memang tidak sepenuhnya bertentangan dengan teori tentang evolusi galaksi, tetapi jelas memberi tantangan baru. Lebih jauh lagi, keberadaan oksigen dalam jumlah besar menimbulkan pertanyaan menarik, seperti *apakah kehidupan bisa berkembang jauh lebih awal di alam semesta daripada yang selama ini diperkirakan?"
Jika oksigen sudah ada dalam jumlah besar, kemungkinan unsur penting lain seperti karbon dan silikon juga hadir. Unsur-unsur ini sangat dibutuhkan untuk terbentuknya planet dan mungkin juga kehidupan.
Meski begitu, para ilmuwan menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk menjawab pertanyaan besar ini. (SpaceX./Z-1)
Penemuan baru ini telah dipublikasikan pada jurnal Nature Astronomy yang menjelaskan bahwa katai putih langka kemungkinan berasal dari penggabungan bintang
Para peneliti tersebut mengungkap bahwa berdasarkan dari distribusi energi spektral sebelum peredupan terjadi menunjukkan bahwa ASASSN-24fw merupakan bintang deret utama tipe F.
OBSERVATORIUM Sinar-X Chandra milik NASA kembali memberikan pandangan baru yang menakjubkan terhadap alam semesta.
Galaksi Andromeda atau Messier 31 merupakan galaksi spiral terdekat dari Bima Sakti, berjarak sekitar 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Para astronom tengah menyoroti sebuah peristiwa di alam semesta yang diduga sebagai superkilonova, jenis ledakan kosmik yang selama ini hanya ada dalam teori.
Tanpa keseimbangan sempurna dari elemen-elemen ini, sebuah planet berbatu mungkin tampak layak huni di permukaannya, namun secara mendasar tidak akan mampu mendukung kehidupan biologis.
Perdebatan panjang para astronom mengenai apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah lapisan awan tebal Jupiter akhirnya menemui titik terang.
Risiko lain yang tak kalah serius adalah gangguan jantung, seperti aritmia atau gangguan irama jantung, yang dalam kondisi tertentu bisa berujung pada henti jantung mendadak.
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Atmosfer Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara.
Keterlambatan penanganan penyakit pneumonia pada bayi bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen dalam waktu lama dan kondisi ini mempengaruhi perkembangan otaknya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved