Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
TUBUH manusia ternyata menyimpan jejak kosmik yang unsurnya berasal dari ledakan dahsyat bintang miliaran tahun lalu, menjadikan kita bagian dari debu bintang.
Carl Sagan pernah berkata “Alam semesta ada di dalam diri kita. Kita terbuat dari materi bintang. Kita adalah cara Alam semesta mengenal dirinya sendiri.”
Kutipan ini begitu kuat hingga membuat orang merenung berlama-lama. Dari kalimat tersebut, ada dua kata yang menarik untuk digarisbawahi—star-stuff.
Menariknya, Sagan tidak menyebut “stardust” melainkan “star-stuff”. Meski terdengar lebih samar, istilah ini justru dianggap lebih tepat
Di sisi lain, ada juga alasan kuat hingga menyebut manusia terbentuk dari debu bintang. Sekitar 99% tubuh manusia tersusun hanya dari enam unsur utama:
Jika dilihat dari proporsi massa, oksigen menyumbang kurang lebih 65%, karbon sekitar 18,5%. Sementara itu, hidrogen mencakup 90% jumlah atom di tubuh kita. Menariknya, unsur ini adalah satu-satunya terbentuk melalui proses atau peristiwa bintang
Untuk memahami asal-usul manusia dari awal mula, kita perlu menelusuri jejak hidrogen hingga ke permulaan alam semesta. Beberapa menit setelah Big Bang, terjadi proses nukleosintesis kosmik. Saat itu, alam semesta yang tampak masih berukuran kecil jika dibandingkan dengan tata surya kita sekarang, ukurannya hanya meliputi beberapa sistem bintang terdekat.
Kondisinya pun sangat panas, dikenal sebagai quark gluon plasma. Quark adalah penyusun utama proton dan neutron, partikel yang berada di inti atom, sementara gluon berfungsi merekatkan keduanya
Seiring dengan ekspansi besar-besaran, alam semesta mulai mendingin. Pendinginan ini memungkinkan proton dan neutron terbentuk. Hidrogen, yang paling sederhana, hanya terdiri dari 1 proton. Jadi ketika proton muncul dari quark-gluon plasma, saat itulah hidrogen lahir.
Hidrogen dalam bentuk langka yaitu deuterium, menyatu membentuk helium dan sedikit unsur lain, sehingga alam semesta saat itu didominasi 75% Hidrogen dan 25% helium.
Unsur lebih berat seperti karbon baru bisa terbentuk kemudian di dalam bintang, lewat reaksi fusi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium, lalu helium menjadi karbon, oksigen, dan unsur-unsur yang lebih kompleks pada bintang berukuran besar.
Energi besar dari fase protobintang memicu reaksi pada awan gas dan debu yang mengelilinginya. Dari proses itu, button debu saling berinteraksi, menyatu menjadi kerikil, lalu berkembang menjadi planet. Sebuah langkah singkat dalam ukuran waktu kosmik.
Semua yang ada di sekitar kita berasal dari bintang; manusia sendiri merupakan hasil dari interaksi kosmik tersebut. (Natural History Museum, EarthHow, Iflscience/Z-1)
PENULIS Rayni N. Massardi mengoprek kembali 13 cerita pendek (cerpen) lawasnya, menyegarkan bahasa, lalu menambahkan satu cerita baru berjudul Orangutan Bima
Teori bahwa manusia berevolusi karena kebiasaan berlari jarak jauh sempat menuai perdebatan. Berlari menghabiskan energi lebih banyak dibanding berjalan
Lebih dari 70% perusahaan di Asia Tenggara telah mengadopsi inisiatif AI, namun hanya 23% yang benar-benar membawa ke tahap penggunaan transformatif, alias menghasilkan dampak nyata.
Tubuh kita bukan hanya kumpulan sel-sel, tapi juga dihuni berbagai mikroorganisme seperti bakteri, jamur, hingga yeast.
Kedekatan evolusi antara manusia dan simpanse tetap tidak terbantahkan. Perbedaan utamanya justru banyak ditemukan pada DNA noncoding.
AHLI bedah Staten Island University Hospital, Dr Indraneil Mukherjee, menjelaskan bahwa seorang manusia dapat tetap hidup meskipun beberapa organ tubuhnya terpaksa harus diangkat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved