Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA astronom berhasil mendeteksi lubang hitam massa menengah yang tampaknya sedang mengganggu orbit sebuah bintang di halo galaksi jauh. Penemuan ini berkat pengamatan Teleskop Antariksa Hubble dan Observatorium Sinar-X Chandra, meski masih ada perdebatan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada bintang tersebut.
Lubang hitam umumnya dikategorikan dalam tiga jenis: Lubang hitam bermassa bintang, hasil runtuhan supernova; lubang hitam supermasif, yang massanya jutaan hingga miliaran kali massa Matahari dan berada di pusat galaksi; serta lubang hitam massa menengah (IMBH), yang massanya berkisar ratusan hingga 100.000 kali massa Matahari. Namun, IMBH sangat sulit ditemukan karena jarang aktif dan tidak mudah terdeteksi seperti dua jenis lainnya.
IMBH “terbangun” ketika terjadi peristiwa gangguan pasang surut (tidal disruption event). IMBH yaitu saat sebuah bintang atau awan gas terlalu dekat sehingga tersobek oleh gravitasi lubang hitam, memancarkan kilatan sinar-X.
Pada 2009, Chandra mendeteksi sinar-X anomali dari HLX-1, yang berjarak 40.000 tahun cahaya dari pusat galaksi elips raksasa NGC 6099, sekitar 453 juta tahun cahaya dari Bumi. Spektrum sinar-X menunjukkan suhu ekstrem 3 juta derajat Celsius, khas peristiwa gangguan pasang surut.
Namun pola cahayanya tidak biasa. Kilatan sinar-X mencapai puncaknya pada 2012 saat diamati teleskop XMM-Newton, lalu meredup drastis pada pengamatan ulang pada 2023. Di sela waktu itu, Teleskop Kanada–Prancis Hawaii menemukan pasangan optik HLX-1 yang kemudian dikonfirmasi Hubble.
Bisa juga bintang tersebut hanya kehilangan sebagian massanya pada titik orbit terdekat (perihelion), lalu bertahan untuk beberapa putaran lagi. Jika benar, mungkin akan ada kilatan sinar-X berikutnya saat bintang mendekat lagi.
Lubang hitam massa menengah dianggap mata rantai yang hilang antara lubang hitam kecil dan supermasif. Sebagian ilmuwan menduga lubang hitam supermasif terbentuk dari penggabungan banyak IMBH. Namun, berapa banyak IMBH di alam semesta masih menjadi misteri.
“Jika kita beruntung, kita akan menemukan lebih banyak lubang hitam yang tiba-tiba menjadi terang akibat gangguan pasang surut. Dari sana, kita bisa memahami seberapa sering peristiwa ini terjadi dan bagaimana galaksi besar tumbuh,” kata Roberto Soria dari Italian National Institute for Astrophysics (INAF).
Menemukan IMBH bukanlah hal mudah karena teleskop seperti Chandra, Hubble, dan XMM-Newton hanya memantau sebagian kecil langit. HLX-1 pada 2009 hanyalah keberuntungan. Namun, Observatorium Vera C. Rubin, yang akan beroperasi penuh tahun ini, siap melakukan survei langit selama 10 tahun dan mempermudah pelacakan kilatan peristiwa gangguan pasang surut.
Dengan bantuan observatorium baru ini, IMBH yang tersembunyi perlahan akan keluar dari bayang-bayang, memberi petunjuk penting tentang bagaimana lubang hitam dan galaksi berevolusi. (Space/Z-2)
Tim peneliti menduga objek ini sebenarnya bukan galaksi, melainkan dark stars superterang yang tampak seperti galaksi karena intensitas cahayanya.
Van Dokkum mengatakan ini adalah konfirmasi pertama dari lubang hitam supermasif yang tak terkendali, setelah lima dekade teori dan penelitian tentang objek-objek ini.
Astronom temukan lubang hitam supermasif yang terlontar dari galaksinya. Meluncur 1.000 km per detik, objek ini memicu lahirnya bintang-bintang baru.
Astronom menggunakan Teleskop James Webb menemukan bukti awal keberadaan bintang raksasa purba bermassa hingga 10.000 kali Matahari.
Astronom India menemukan 53 Giant Radio Quasars dengan jet raksasa hingga 7,2 juta tahun cahaya melalui data GMRT.
Sebuah lubang hitam supermasif di galaksi jauh tiba-tiba memancarkan semburan cahaya luar biasa terang, setara dengan 10 triliun Matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved