Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH asteroid raksasa dengan lebar lebih dari dua mil, yang dikenal sebagai (887) Alinda. Asteroid itu baru saja melintasi titik terdekatnya dengan Bumi dalam beberapa dekade terakhir.
Asteroid ini mencapai jarak terdekatnya pada 12 - 13 Januari 2025, memberikan peluang langka untuk menyaksikan fenomena luar angkasa yang menakjubkan.
Fenomena asteroid ini dapat dilakukan dengan menggunakan teropong sederhana, atau melalui siaran langsung gratis yang tersedia bagi publik.
Asteroid (887) Alinda adalah salah satu dari lima asteroid terbesar yang diperkirakan akan mendekati Bumi hingga sejauh 15 juta kilometer, tahun 2200.
Menurut Laboratorium Propulsi Jet NASA, Alinda memiliki lebar sekitar 2,6 mil, seukuran wilayah Manhattan. Pada 8 Januari, asteroid ini berada 7,6 juta mil dari Bumi, atau sekitar 32 kali jarak rata-rata Bumi ke Bulan. Jarak sedekat ini baru akan terjadi lagi pada tahun 2087.
Meskipun ukurannya besar dan berpotensi menimbulkan dampak besar jika bertabrakan dengan Bumi, Alinda tidak berbahaya. Sebaliknya, ukurannya yang besar menjadikannya objek menarik bagi pengamat astronom.
(887) Alinda membutuhkan waktu sekitar 3,8 tahun untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi Matahari, lebih lambat dibandingkan Bumi.
Asteroid ini pertama kali ditemukan tahun 1918. Namanya digunakan mengacu pada asteroid yang memiliki orbit serupa. Sebagian besar waktunya dihabiskan di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter, sehingga jarang mendekati planet lain.
Alinda diperkirakan baru akan mendekati Bumi lagi dalam jarak yang relatif dekat pada tahun 2087.
Pada Minggu (12/1), asteroid (887) Alinda mencapai kecerahan puncaknya, yaitu sebesar 9,4 magnitudo. Asteroid ini akan berada di konstelasi Gemini, yang terlihat di Belahan Bumi Utara setelah matahari terbenam dan dapat diamati sepanjang malam.
Meski terlalu redup untuk dilihat dengan mata telanjang, asteroid ini dapat diamati menggunakan teropong sederhana atau teleskop kecil. (independent/forbes/Z-3)
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved