Rabu 29 Juni 2022, 11:52 WIB

Ketahui Perlunya Cek Rekam Jejak di Dunia Digital Secara Berkala

Mediaindonesia.com | Teknologi
Ketahui Perlunya Cek Rekam Jejak di Dunia Digital Secara Berkala

Ilustrasi
Ilustrasi

 

Perubahan gaya hidup menjadi serba digital menawarkan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan berbagai aktivitas. Namun, dari semua aktivitas yang lakukan di dunia digital, itu membuat suatu rekaman  yaitu jejak digital.

Jejak digital merupakan rekam atau bukti yang ditinggalkan setelah beraktivitas di internet, yang berpotensi untuk dicari, dilihat, disalin hingga dicuri dan dipublikasikan orang lain. Contohnya, ketika seseorang mencari namanya di google, maka yang akan keluar adalah bukti unggahan media sosial yang pernah dilakukannya.

Jejak digital dapat membentuk dan mengabadikan gambaran tentang seseorang di dunia digital, dengan lebih detail dari yang dibayangkan. Penting untuk mengetahui jenis jejak yang ditinggalkan dan apa efeknya di kemudian hari.

Ada beberapa cara mengelola rekam jejak. Salah satunya adalah mengecek nama di kolom pencarian google. “Tidak apa sering-sering kita mencari nama kita di mesin pencari google. Itu sangat diharuskan, paling tidak ketika nama kita diketik yang keluar prestasi. Tapi kalau yang keluar adalah aib? Tentu sangat malu,” ujar Anggota JAPELIDI, Asfira Rachmad Rinata saat Webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk Kelompok Masyarakat Wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur, pekan lalu.

Jejak digital bersifat abadi. Karena itu, Asfira mengingatkan agar masyarakat melakukan posting yang penting, tapi bukan yang penting posting.

Menurut Asfira, seseorang mungkin saja melakukan rebranding ketika sudah memiliki rekam jejak negatif. Namun, tetap butuh waktu untuk mengembalikan citranya. “Mungkin bisa dihapus terlebih dulu, kemudian tidak aktif bermedia sosial, kemudian membangun citra lagi,” ujarnya.
Webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk Kelompok Masyarakat Wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan SiberKreasi.

Ditambahkan oleh Citra Rani Angga Riswari, dosen Fikom Universitas Dr Soetomo, hilangnya sopan santun karena kebebasan beraktivitas di dunia digital. “Saling sindir di media sosial, beberapa public figure melontarkan cuiitan blunder, hingga banyak unggahan mengandung ujaran kebencian,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety, dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (OL-12)

Baca Juga

Ilustrasi

Investasi Online yang Aman? Simak Tips Berikut Ini

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 20:37 WIB
Tips belajar berinvestasi yang baik dan benar. Pertama, selalu cek keaslian dan legalitas tempat investasi, apakah sudah terdaftar di...
DOK Sinar Mas Land.

LLV dari Sinar Mas Land Gaet Microsoft Dukung Pengembangan Startup

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 20:30 WIB
Living Lab Ventures (LLV), investment arm dari Sinar Mas Land, kembali menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung pengembangan startup...
AFP/Kirill KUDRYAVTSEV

Facebook Uji Jadikan End-to-end Encryption Sebagai Default di Messenger

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 13:15 WIB
Fitur end-to-end encryption sebenarnya sudah ada sejak 2016 di Messeger, namun layanan itu sebelumnya harus diaktifkan secara manual oleh...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya