Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Pilpres 2029: Menkeu Purbaya Masuk Radar Bakal Calon Presiden

Andhika Prasetyo
10/2/2026 07:27
Pilpres 2029: Menkeu Purbaya Masuk Radar Bakal Calon Presiden
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa(MI/Insi Nantika Jelita)

Sejumlah wajah baru muncuk dalam peta awal bakal calon presiden 2029. Hasil riset Indonesian Public Institute (IPI) ini menunjukkan dinamika politik yang mulai bergerak, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap figur-figur di luar tokoh lama yang selama ini mendominasi elektabilitas nasional.

Peneliti IPI Abdan Sakura menjelaskan, kemunculan nama-nama baru tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor penilaian publik, antara lain kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, eksposur media, integritas, serta visi dan program kerja yang ditawarkan.

Ia mencontohkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang memperoleh penguatan elektabilitas dari beberapa indikator utama, yakni kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44%, rekam jejak kepemimpinan 17%, rekomendasi lingkungan dan media 12%, serta integritas 10%.

“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie tampil sebagai figur potensial yang dinilai layak, meskipun penilaian tersebut belum sepenuhnya beralih menjadi dukungan elektoral,” kata Abdan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, kondisi tersebut membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama apabila terjadi krisis politik, perubahan konfigurasi koalisi, atau absennya figur utama dalam kontestasi mendatang. Abdan juga menilai rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menandakan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup. Pemilih kini dinilai semakin rasional dan mempertimbangkan konteks, kapasitas, serta rekam jejak secara lebih mendalam.

Dalam hasil survei tersebut, sejumlah kepala daerah turut masuk dalam bursa bakal capres 2029, di antaranya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.

“Nama-nama baru ini masuk dalam 10 besar tokoh potensial. Sjafrie berada di posisi ketujuh dengan elektabilitas 7,5%, disusul Purbaya Yudhi Sadewa sebesar 4,9% dan Sherly Tjoanda 3,8%,” ujar Abdan.

Ia menambahkan, elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan sejumlah tokoh lain, seperti Anies Baswedan di peringkat keempat dengan 8,5%, Dedi Mulyadi di posisi kelima dengan 7,9%, serta Pramono Anung di urutan keenam dengan 7,8%.

Sementara itu, puncak elektabilitas masih dikuasai Presiden Prabowo Subianto dengan raihan 22,3%, jauh meninggalkan tokoh lainnya. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menempati posisi kedua dengan 12,2%, disusul Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 9%.

Abdan menilai dominasi tokoh-tokoh besar tersebut mencerminkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam membentuk persepsi pemilih. Namun, ia mencatat adanya jarak antara tingkat kelayakan dan elektabilitas.

“Publik mengenal dan menilai para tokoh ini cukup baik, tetapi belum sepenuhnya menentukan pilihan politiknya,” katanya.

Survei IPI dilakukan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 dengan melibatkan 1.241 responden berusia 17-65 tahun yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error sebesar 2,78% pada tingkat kepercayaan 95%.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya