Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Kebijakan Publik, Riant Nugroho mengatakan Presiden Prabowo harus mengevaluasi para menteri yang tidak bekerja dengan maksimal. Dikatakan ada beberapa hal yang bisa menjadi dasar evaluasi Presiden untuk mereshuffle atau merombak kabinet Merah Putih.
“Evaluasi Pejabat Menteri dan Kepala Badan disarankan dilaksanakan dilakukan pada tiga bulan pertama atau 100 hari menjabat, di mana Presiden melihat kemampuan dasar dari Pejabat Menteri dan Kepala Badan memang layak menduduki jabatan tersebut,” jelas Riant kepada Media Indonesia pada Selasa (21/1).
Riant menjelaskan, reshuffle kabinet merupakan hak istimewa presiden yang tertuang dalam Pasal 17 Undang-Undang Dasar 1945 dalam rangka meningkatkan performa kinerja kabinet. Menurutnya, evaluasi penting dilakukan agar pemerintahan baru bisa tetap berjalan maksimal hingga akhir kepemimpinan Prabowo.
“Jika layak maka ada tiga pilihan yaitu dilanjutkan, jika cukup layak diperbaiki, dan jika kurang layak apalagi tidak layak maka diberhentikan dan diganti,” katanya.
Lebih lanjut, Riant menegaskan bahwa reshuffle kabinet harus dilakukan dengan mempertimbangkan performa atau kinerja para menteri dan berbagai faktor lainnya seperti kebutuhan dari kabinet itu sendiri dan aspirasi dari masyarakat.
“Ada beberapa kriteria yang bisa menjadi dasar penilaian menteri tersebut layak atau tidak untuk diberhentikan yaitu, mengerti visi Presiden yang dibuktikan dalam produk kebijakan dan mampu dilaksanakan selama 100 hari pertama,” ungkapnya.
Riant menilai, kelayakan seorang menteri untuk tetap bisa duduk pada jabatannya dapat dibuktikan dari pikiran, ucapan, dan sikap/perilaku/tindakan. Menurutnya, Presiden harus menilai pada profesionalitas bukan tingkat popularitas.
“Di mana pejabat yang tidak populer dibanding yang lain, namun kehadirannya membawa kesejukan dan kebaikan bagi ekosistem pemerintahan dan penyelenggaraan negara, dapat dinilai sebagai layak,” tegasnya.
Menurut Riant, kemampuan menteri dalam menjalankan tata kelola organisasi dan komitmennya menerapkan prinsip transparansi serta akuntabilitas publik juga harus dijadikan dasar pertimbangan dalam mereshuffle.
“Menteri harus mempunyai ‘kelas’ sebagai pemimpin yang layak dihormati, terutama dari pendapat publik atas keberadaan yang ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani bukan yang di depan sok berkuasa tapi di tengah merusak organisasi dan di belakang membahayakan semuanya,” ungkapnya.
Di luar kepentingan koalisi yang dijalankan Presiden Prabowo, Riant menekankan bahwa penting bagi kepala pemerintahan untuk mengevaluasi para menterinya secara objektif bukan atas kepentingan politik semata.
“Sebab ini berkaitan dengan kehormatan Presiden Prabowo yang diharapkan bersama untuk terus dapat memimpin Indonesia secara efektif hingga akhir masa tugas,” tuturnya.
Lebih jauh, Riant mengingatkan agar presiden dapat mengevaluasi kinerja menteri secara kelembagaan dengan menilai sejauh mana efektivitas organisasi pemerintahan yang dijalankan oleh menterinya.
“Dengan penambahan jumlah lembaga pemerintahan, perlu dievaluasi lagi. Mana yang meningkatkan kinerja Presiden, dan mana yang menjadi beban, termasuk beban pembiayaan keuangan,” ungkapnya.
Setelah berbagai kriteria tersebut terpenuhi, Riant juga menyarankan agar presiden segera mengevaluasi menteri secara berkelanjutan melalui produk kebijakan publik dan implementasinya bagi masyarakat.
“Hal ini dapat dinilai dari implementasi kebijakannya dalam bentuk pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat dalam arti luas,” tandasnya. (P-5)
MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan tidak ada reshuffle kabinet di istana, hari ini (28/1).
MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan istana belum membahas soal adanya isu reshuffle kabinet. melainkan pelantikan dewan energi nasional
KEPALA Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menuturkan apabila reshuffle kabinet Merah Putih merupakan hal wajar. Sebab, saat ini jabatan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) kosong
SEKRETARIS Negara Prasetyo Hadi membantah adanya isu perombakan (reshuffle) kabinet. Menurutnya, makna reshuffle yang beredar luas di publik tidak benar.
Isu perombakan kabinet kembali menguat seiring santernya kabar nama Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Budi Djiwandono, yang disebut-sebut berpeluang masuk ke jajaran eksekutif
Pemerintahan Prabowo-Gibran genap berusia satu tahun pada 20 Oktober 2025. Dari sektor ekonomi, beberapa capaian mendapat apresiasi. Namun sejumlah catatan juga dinilai masih berantakan.
ISU reshuffle (perombakan) kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mulai menghangat.
SEKRETARIS Negara Prasetyo Hadi membantah adanya isu perombakan (reshuffle) kabinet. Menurutnya, makna reshuffle yang beredar luas di publik tidak benar.
PRESIDEN Prabowo Subianto didesak segera mengevaluasi kinerja dan mengganti (reshuffle) menteri di Kabinet Merah Putih yang dinilai ikut bertanggung jawab atas bencana ekologis di Sumatra.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo merespons soal reshuffle Sri Mulyani dan Budi Arie dari Kabinet Merah Putih
Budiman mengaku tidak tahu soal namanya yang masuk dalam salah satu kementerian menjadi wakil menteri, berdasarkan informasi yang berkembang.
MENTERI sekretaris negara, sekaligus Juru Bicara Presiden RI Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto rutin mengevaluasi menteri-menteri Kabinet Merah Putih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved