Jumat 20 Mei 2022, 18:32 WIB

Presiden terima Majelis Rakyat Papua dan Papua Barat di Istana Bogor

Mediaindonesia | Politik dan Hukum
Presiden terima Majelis Rakyat Papua dan Papua Barat di Istana Bogor

MI/mohamad irfan
Bupati Jayapura yang juga Ketua Forum Kepala Daerah Wilayah Adat Tabi Prov. Papua Mathius Awoitau

 

PRESIDEN RI Joko Widodo menerima audiensi Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Majelis Rakyat Papua Barat di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat, untuk membahas daerah otonomi baru (DOB) Papua.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw yang mewakili rombongan dalam keterangannya secara virtual yang disaksikan di Jakarta, hari ini, mengatakan pihaknya mengapresiasi pertemuan dengan Presiden Jokowi.

"Pertama kami sampaikan apresiasi dan terima kasih banyak kepada Bapak Presiden atas permintaan kami audiensi hari ini diterima dengan baik oleh Bapak Presiden," ujar Mathius.

Dia mengatakan audiensi itu untuk mengklarifikasi mengenai simpang siur informasi mengenai penerapan pelaksanaan Undang-Undang No. 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus di Provinsi Papua yang di dalamnya terkait daerah otonomi baru. Khusus untuk Provinsi Papua terdapat DOB Papua Selatan, Papua Pegunungan Tengah, dan Papua Tengah.

Mathius menjelaskan rencana pembentukan daerah otonomi baru tersebut merupakan aspirasi murni warga Papua yang telah diperjuangkan sejak lama. Papua Selatan misalnya, kata dia, telah memperjuangkan selama 20 tahun.

"Jadi ini bukan hal yang baru muncul tiba-tiba. Tapi ini adalah aspirasi murni, baik dari Papua Selatan maupun Tabi, Saereri, La Pago, dan Mee Pago," jelasnya.

Baca juga: MRP Sesalkan Pertemuan di Istana Terkait DOB dan Otsus Papua

Mathius menekankan bahwa aspirasi itu didorong berdasarkan pada wilayah adat, bukan berdasarkan demonstrasi di jalan. Dia mengatakan masyarakat Papua berharap DOB ke depan bisa mempercepat kesejahteraan di Papua dan Papua Barat.

Mathius menekankan Undang-Undang Otonomi Khusus itu mengikat semua masyarakat di seluruh tanah Papua, dan memberikan kepastian hukum untuk mengelola ruang-ruang yang dimiliki masyarakat adat berdasarkan tujuh wilayah adat di tanah Papua.

"Kita butuh kepastian. Karena itu, kalau pemekaran itu masalah administrasi pemerintahan, tapi ke Papua itu diikat dengan Undang-Undang Otsus. Persoalan kita adalah implementasinya harus konsisten baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah," ujarnya.

Dia mengatakan Undang-Undang Otsus akan memberikan kepastian hukum terhadap ruang kelola hak-hak pemetaan wilayah adat yang diharapkan bisa menyelesaikan persoalan lahan di Papua.

Selain itu, katanya, daerah otonomi baru dinilai akan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat karena tantangan utama adalah kondisi geografis.(OL-4)

Baca Juga

Dok pribadi

Pengadilan Negeri Manokwari Batalkan Putusan MA

👤Media Indonesia 🕔Rabu 06 Juli 2022, 22:20 WIB
KEMENANGAN perkara perdata antara Rico Sia melawan Pemerintah Provinsi Papua Barat yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkrah) di...
dok.ist

Millie Lukito Ditunjuk Sebagai Ketua Bidang Ekonomi DPP Partai NasDem

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 20:59 WIB
Millie Lukito baru-baru ini ditunjuk sebagai Ketua Bidang Ekonomi Partai NasDem Periode 2022-2024....
Antara

Mendekati Tahun Politik, Waspadai Berita Hoaks Berkelanjutan

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 20:50 WIB
Kemajuan teknologi memudahkan penyebarluasan informasi melalui media digital. Masyarakat harus mewaspadai informasi tidak benar atau hoaks...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya