Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGASUH Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'ien Pasuruan, Jawa Timur, KH Machrus Ali mengatakan untuk melawan fenomena politisasi agama yang potensial terjadi di Indonesia sebagai bangsa relegius adalah dengan memperkuat hubungan antara ulama dan umara.
"Hal-hal semacam itu pasti ada saja, tapi insya Allah dengan persatuan antara ulama dan pemerintah (umara), maka akan sulit bagi kelompok tersebut untuk merusak NKRI," ujar KH Machrus Aly seperti dilansir Antara di Jakarta, Rabu (16/2).
Kiai Machrus mengatakan fenomena politisasi agama ini kerap terjadi akibat perbedaan pandangan politik dan karena tokoh yang bersangkutan memiliki agenda serta visi misi sendiri untuk menyudutkan pemerintah yang sah.
Terlebih lagi, katanya, masyarakat Indonesia yang relegius ini sering dijadikan sasaran oleh kelompok yang suka mempolitisasi agama untuk diprovokasi dan memicu konflik di tengah masyarakat yang beragam.
"Makanya, hal-hal seperti ini bisa digerus bersama-sama dengan kerja sama pemerintah, organisasi, ulama, dan santri," ucapnya.
Ia meyakini bahwa di lingkungan pesantren bahkan ormas keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al-Wasliyyah, Mathlaul Anwar, dan lainnya tidak pernah ada istilah atau ajaran antipemerintah, anti-NKRI, atau bahkan anti-Pancasila.
"Di lingkungan pesantren contohnya, NKRI ini sudah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar kiai yang juga Pembina Pondok Pesantren Al Ikhlas Pasuruan ini.
Terkait penanganan paham radikal dan teroris yang mengatasnamakan agama, Kiai Machrus memberikan apresiasi terhadap upaya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam mempererat hubungan dan bersinergi dengan para alim ulama. Ia menilai hal ini adalah langkah tepat, sebagaimana ulama yang merupakan ujung tombak para umat.
Baca juga: Ini Landasan DPR Perlu Memilih 30% Perempuan untuk Penyelenggara Pemilu
"BNPT ini dekat dengan ulama. Antara ulama dan umara memang tidak bisa dipisahkan, jadi harus saling bekerja sama untuk menjaga NKRI," ucap alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini.
Kiai Machrus mengamati fenomena di masyarakat yang cenderung terburu-buru dalam membagikan ilmu. Padahal pemahamannya belum tuntas sehingga menyebabkan banyak timbul kekeliruan dan distorsi terkait ajaran agama.
"Misalnya, orang hanya baca sedikit di koran, di sosmed atau bahkan tabloid soal dalil ini dan itu. Alhasil pemahaman agamanya jadi hanya sepucuk, tidak didalami sehingga tidak paham ajaran agama yang sesungguhnya," jelasnya.
Ia menilai pemerintah harus memiliki program, baik dengan ulama maupun ormas keagamaan yang moderat untuk menyosialisasikan dan membina masyarakat untuk hidup damai di tengah perbedaan,
"Program itu berupa penguatan nilai-nilai Pancasila dan manfaatnya, serta tentang menjaga NKRI dan sebagainya," katanya.
Dewan Pembina Pusat Lembaga Kemitraan Pondok Pesantren (LKPP) Indonesia ini menyampaikan pesannya untuk seluruh masyarakat, tokoh beserta pemerintah untuk senantiasa menjaga NKRI dari fitnah yang ditimbulkan oleh politisasi agama yang senantiasa berusaha untuk menimbulkan perpecahan di masyarakat.
"Saya dan kiai-kiai di Jawa Timur menginginkan jangan sampai ada kejadian itu. Kita jaga NKRI dan kita ramut (jaga/pelihara) NKRI kita," katanya. (Ant/S-2)
PETINGGI Al-Azhar Kairo menyampaikan apresiasi tinggi kepada Indonesia atas komitmen dalam percepatan dan pengembangan SDM unggul yang moderat
"Jadi hubungan antara ulama dengan umara itu dalam periode ini sangat bagus ya. Saya kira itu sangat positif untuk bangsa kita seperti sekarang ini,"
DALAM pertemuan ilmiah para ulama dan ahli fikih yang digelar di Pesantren Al-Arbain Demak, para ulama dan ahli fiqih meyoroti tentang klaim keturunan nasi Muhammad SAW di masyarakat.
Selain kapasitasnya sebagai pendakwah nasional, kreativitas Ustaz Abdul Somad dalam mengemas pesan agama menjadi poin utama penilaian.
ASOSIASI Ma’had Aly Indonesia (AMALI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana di bawah kepengurusan masa khidmat 2026–2030 di Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an
BNPT mengunjungi pondok pesantren asuhan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (20/11/2025).
JCI Batavia menawarkan kapasitas pemimpin muda Indonesia yang siap berkontribusi dan memberikan solusi.
PERKUMPULAN untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengajak masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan wacana pilkada melalui DPRD yang didorong oleh elite politik.
Kemampuan mendengarkan merupakan tantangan terberat yang harus dihadapi seorang pemimpin, terutama dalam proses komunikasi yang efektif.
REKTOR Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said menekankan pemimpin Indonesia seharusnya juga seorang pendidik.
Di tengah kompleksitas tantangan bangsa, kolaborasi menjadi kunci utama dalam membangun pemerintahan yang modern.
Formula intentional leadership mencakup nilai, tujuan, dan disiplin yang menjadi fondasi kepemimpinan berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved