Selasa 14 September 2021, 18:14 WIB

Presiden Minta Kampus Fasilitasi Mahasiswa Belajar Sesuai Kesukaan

Andhika prasetyo | Politik dan Hukum
Presiden Minta Kampus Fasilitasi Mahasiswa Belajar Sesuai Kesukaan

ANTARA FOTO/Biro Pers dan Media Setpres/Handout
Presiden Joko Widodo

 

PRESIDEN Joko Widodo meminta perguruan-perguruan tinggi tidak membebani dan membatasi mahasiswa dengan program-program studi.

Sebaliknya, institusi-institusi pendidikan harus bisa memfasilitasi tenaga didik mereka untuk berkembang sesuai dengan talenta dan kemampuan masing-masing.

"Mahasiswa jangan dipagari oleh terlalu banyak program-program studi di fakultas. Ini saya kira sudah berkali-kali saya sampaikan, tapi akan saya ulang terus," ujar Jokowi saat memberikan sambutan pada Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, yang diunggah melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (14/9).

Selama ini, kepala negara sangat menyadari bahwa pilihan prodi, jurusan dan fakultas yang diambil mahasiswa sering kali tidak berdasarkan kesukaan.

Mereka memilih itu lantaran tidak mempunyai pilihan lain, baik karena faktor nilai di sekolah menengah maupun ekonomi.

Baca juga: Tanpa Penguatan KASN, PP Disiplin PNS Tidak akan Efektif

"Beri fasilitas kepada mahasiswa untuk mengembangkan talenta sesuai pilihan mereka. Kita tahu pilihan prodi, jurusan, dan fakultas tidak selalu berdasarkan pada talenta. Ketidakcocokan itu terasa saat kuliah dan kita lihat banyak orang bisa berkarir jauh dari ilmu di ijazahnya," tutur mantan wali kota Solo itu.

Ia pun menjadikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai contoh. Sebagaimana diketahui, mantan direktur utama Bank Mandiri itu menghabiskan masa kuliah untuk mempelajari teknik fisika nuklir.

Namun, setelah lulus, ia sukses sebagai bankir bahkan menduduki jabatan tertinggi di salah satu bank milik negara.

"Jadi menurut saya, S1 itu mestinya adalah waktu bagi perguruan tinggi untuk memfasilitasi bakat-bakat mahasiswa," ucap Jokowi.

Kepala negara juga tidak menghendaki pola penjurusan lantaran hanya mengizinkan mahasiswa fokus pada satu disiplin ilmu saja. Padahal, ke depan, mereka akan dituntut untuk menguasai banyak hal seiring dengan perkembangan zama yang terus berubah.

"Nanti semua akan hybrid. Mahasiswa harus paham semuanya, paham matematika, paham statistika, paham komputer, paham ilmu komputer, paham bahasa, dan bahasa itu bukan bahasa inggris saja termasuk bahasa coding. Hati-hati mengenai ini. Perubahan ini sangat cepat sekali karena pandemi," jelasnya.(OL-4)

Baca Juga

Antara/Syifa Yulinnas.

Komitmen Presiden terhadap Pemberantasan Korupsi Dipertanyakan

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 19 September 2021, 18:20 WIB
Ia mengatakan Presiden Jokowi merupakan pucuk pimpinan di negara ini termasuk mengawasi langsung kinerja...
Antara/Mohamad Hamzah

Ali Kalora Tewas, Pengamat : Berantas MIT Hingga Akarnya

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 19 September 2021, 18:07 WIB
Menurut dia, empat anggota MIT yang tersisa tidak memiliki pengaruh yang kuat dan lemah dalam kemampuan tempur. Maka diyakini keempatnya...
Antara/Akbar Nugroho Gumay.

Presiden Dituntut Ambil Kendali Perkara 56 Pegawai KPK yang Dipecat

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 19 September 2021, 17:35 WIB
Pemecatan itu dinilai mengabaikan temuan Ombudsman dan Komnas HAM yang sebelumnya menyebut pelaksanaan TWK telah terjadi cacat administrasi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

AS, Inggris, dan Australia Umumkan Pakta Pertahanan Baru

 Aliansi baru dari tiga kekuatan tersebut tampaknya berusaha untuk melawan Tiongkok dan melawan kekuatan militernya di Indo-Pasifik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya