Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan kecenderungan pemilih di Indonesia masih didominasi faktor ketokohan. Pada rilis hasil survei yang dilakukan lembaganya, Adi mengatakan sekitar 22,9% responden masih melihat tokoh dalam partai politik ketika memberikan suaranya dalam pemilihan umum (pemilu).
"Misalnya Joko Widodo atau Megawati (PDI Perjuangan), Prabowo Subianto (Gerindra), Gus Dur (untuk Partai Kebangkita Bangsa/PKB). Memori masyarakat ketika memilih terafiliasi pada sosok figur kunci," ujar Adi dalam rilis hasil survei bertajuk "Peta Politik Menuju 2024 dan Isu Politik Mutakhir" yang digelar secara daring, Sabtu (5/6).
Adi menjelaskan, dari 1200 responden yang diwawancara melalui telepon, dengan margin of error sekitar 2,9% dan survei dilakukan 23-28 Mei 2021, masyarakat yang mendasarkan pilihannya pada alasan rasional seperti visi-misi, kinerja dan program calon presiden dan wakil presiden relatif sedikit. Jumlahnya hanya 10,5%. Lalu faktor lain, imbuh dia, adalah faktor sosiologis (3,2%).
Ia menyampaikan, saat ini partai politik masih khawatir meskipun pemilu masih akan berlangsung tiga tahun lagi.
"Keserentakan pemilu membuat parpol khawatir karena belum kelihatan peta politik yang sesungguhnya," ucapnya.
Pada kesempatan itu, Adi juga memaparkan mengenai elektabilitas partai politik untuk pemilu 2024 yang dipotret dari hasil surveinya. Ia menyebut PDI Perjuangan menempati posisi puncak disusul Gerindra, kemudian Partai Golkar, Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera, dan Nasdem. Menurutnya, partai-partai politik tersebut, yang kini punya kursi di parlemen berpotensi lolos kembali pada pemilu 2024.
"Kemungkinan besar relatif akan masuk ke senayan dengan ketentuan ambang batas parlemen 3,5 hingga 4%," ucapnya.
Baca juga: NasDem Perkuat Citra Partai Politik Inklusif
Disampaikan pula olehnya, faktor-faktor yang membuat masyarakat memilih partai politik tertentu. Pertama, faktor citra dan emosional sebesar 18,2% dari hasil survei. Hal itu, terangnya, dipengaruhi antara lain citra partai dan pemberitaan media. Kedua, faktor keluarga, lingkungan dan party ID sebesar 14,2%, ketiga faktor sosiologis besarannya 9,1%. Adi mengatakan faktor ini cenderung ada di masyarakat memilih partai politik karena afiliasi agama atau organisasi masyarakat tertentu.
Terakhir memilih partai politik karena alasan/faktor rasional (6.0%) seperti visi dan misi, program kerja, dan lain-lain. Akan tetapi, lanjut Adi, faktor ini kurang kurang dominan.(OL-5)
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian, menyarankan agar pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) demi melindungi konsumen akhir.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juli 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan nominal di bawah Rp100 juta hanya mencapai 4,76% (yoy).
Hasil survei nasional ungkap tantangan dan rumuskan arah kebijakan baru.
Usaha keluarga merupakan fondasi ekonomi Asia, dengan 85% perusahaan di kawasan Asia Pasifik dimiliki oleh keluarga, bersama UKM yang mencakup 97% bisnis di kawasan.
Berdasarkan survei, mayoritas masyarakat puas dengan kinerja Polri dan berharap dapat menjadi simbol supremasi sipil.
Sejarah mencatat Indonesia memiliki banyak tokoh yang berperan penting dalam upaya membela, mempertahankan kemerdekaan dan membangun negara.
Islam adalah agama yang memiliki sejarah panjang, penuh dengan tokoh-tokoh besar yang telah memberikan kontribusi besar dalam pembentukan ajaran
Meskipun memiliki keterbatasan, para penyandang disabilitas mampu meraih prestasi luar biasa yang patut diacungi jempol.
Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang membawa pengaruh luas dalam berbagai bidang.
Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menghasilkan ikrar ‘Sumpah Pemuda’. Berikut tokoh-tokoh penting yang menginisiasi kongres itu.
Di era pra dan pascakemerdekaan Indonesia, tokoh-tokoh penting dan berpengaruh muncul sebagai pilar utama proses bernegara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved