Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi VII DPR RI Mulyanto optimistis Republik Indonesia mampu 'go nuclear' atau menerapkan sumber energi dari tenaga nuklir sehingga perlu perumusan kebijakan itu dengan seksama.
''Indonesia mampu 'go nuclear', apalagi kalau harga listrik dari PLTN ini dapat mencapai di bawah US$7 sen, per kilowatt hour (kWh) sesuai harga BPP (biaya pokok pembangkitan) PLN,'' kata Mulyanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (20/3).
Untuk itu, Mulyanto meminta Dewan Energi Nasional (DEN) merumuskan kebijakan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) secara seksama, akurat dan antisipatif, termasuk opsi nuklir di dalamnya.
Baca Juga: Revisi UU untuk Keamanan Nuklir
Dengan kapasitas dan kewenangan yang dimiliki, Mulyanto yakin DEN mampu mengawal rencana umum energi tersebut hingga benar-benar dapat terealisasi.
Menanggapi pernyataan Kementerian ESDM yang sudah memasukkan listrik nuklir dalam Grand Scenario Energi Nasional (GSEN) sebagai bahan untuk penyusunan RUEN, yang akan diterbitkan DEN (Dewan Energi Nasional), Mulyanto menilai memang sudah saatnya Indonesia mempersiapkan diri untuk memanfaatkan tenaga nuklir.
''Pengalaman Indonesia mengelola reaktor riset sudah cukup lama sejak tahun 1960-an, baik pada reaktor Bandung, reaktor Yogyakarta, dan
reaktor GA Siwabessy di Puspiptek Serpong,'' ungkapnya.
Baca Juga: Nuklir, Harapan Baru Pengobatan Kanker
Selain itu, ujar dia, dari sisi SDM pun sudah cukup lumayan banyak, baik yang dididik dalam program nuklir di UI, UGM dan ITB atau dalam Sekolah Tinggi Teknik Nuklir (STTN), BATAN (Badan tenaga Nuklir Nasional).
Mulyanto menambahkan pemanfaatan listrik nuklir ini sangat tepat untuk menggenjot sektor industri karena daya terpasang listrik nuklir sangat besar, dapat di atas 1.000 MW per unit pembangkit.
Selain itu, imbuhnya, karena penggantian bahan bakarnya yang relatif jarang karena masa guna bahan bakar nuklir di dalam reaktor antara 3-6 tahun, listrik nuklir lebih stabil sepanjang tahun. Dengan demikian listrik nuklir menjadi pilihan yang tepat untuk dioperasikan pada beban dasar jaringan listrik.
''Skenario ini sudah diantisipasi dalam draf RUU EBT (energi baru-terbarukan), yang tengah digodok Komisi VII DPR RI. Listrik nuklir
dikelompokkan dalam istilah energi baru, dan merupakan opsi transisi menuju 100% energi terbarukan. Anggota DEN yang baru saja terbentuk diharapkan dapat bekerja keras untuk merumuskan rencana umum energi ini, termasuk opsi nuklir di dalamnya,'' tegasnya. (Ant/OL-10)
INDUSTRI panas bumi memiliki prospek baik dalam mendukung pencapaian target pemerintah dalam memperluas kapasitas pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT).
Pemerintah terus memperkuat arah kebijakan energi nasional dengan mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah ini untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Langkah pemerintah dalam memperluas pemanfaatan EBT sudah berada di jalur yang tepat.
Indonesia Solar Summit (ISS) 2025 mengambil tema Solarizing Indonesia: Powering Equity, Economy, and Climate Action.
Instalasi panel surya merupakan lanjutan dari proyek serupa di kantor pusat Mowilex di Jakarta pada 2022 lalu.
PRESIDEN Prabowo Subianto meresmikan sebanyak 55 pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tersebar di 15 provinsi, termasuk milik Medco.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengusulkan pembekuan program nuklir Korea Utara dengan imbalan kompensasi, sekaligus meminta Tiongkok menjadi mediator.
Korea Utara memperingatkan bahwa ambisi nuklir Jepang harus dihentikan 'dengan biaya apa pun' karena dinilai mengancam stabilitas Asia dan keamanan global.
Nuklir bukan hanya untuk energi, namun juga untuk kesehatan dan riset medis
Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan dukungan tenaga ahli untuk proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Indonesia dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo di Moskow
RISET terbaru Korea Institute for Defense Analyses menyebut kemampuan nuklir Korea Utara selama ini diremehkan.
Kepala Divisi Riset Keamanan Nuklir KIDA, Lee Sang-kyu, memperkirakan nuklir Korea Utara kemungkinan mencapai 127 sampai 150.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved