Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan dalam melakukan upaya pencegahan paham radikal terorisme kepada generasi muda perlu adanya komunikasi yang intensif dengan para alim ulama ataupun dengan para pimpinan pondok pesantren.
“Kami harus bisa membuka ruang komunikasi yang konstruktif, menjaga agar anak muda kita tidak mudah terpapar yang untuk hal-hal yang sifatnya mengarah kepada sikap-sikap yang intoleran dan bahkan melakukan tindakan yang destruktif. Itu yang bisa tidak diinginkan,” kata Boy Rafli dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (29/8).
Ia berharap kepada Forkompimda, tokoh-tokoh agamax dan tokoh-tokoh masyarakat untuk bisa terus memberikan bimbingan kepada para generasi muda agar cinta kepada negara.
Apalagi di era teknologi informasi yang makin berkembang ini, pengaruh media sosial sungguh luar biasa, kata Kepala BNPT dalam acara silaturahim dan dialog kebangsaan bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Tokoh Agama yang berlangsung di Pondok Pesantren Ihyaul Quran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Jumat (28/8).
“Karena propaganda yang terbanyak pada hari ini tentunya melalui media sosial. Dan ini tentunya kami harus bijak dalam menggunakan ataupun memanfaatkan informasi pada media sosial karena dari pengguna media sosial kita ketahui di Indonesia ini adalah umumnya para generasi muda,” ujar mantan Kapolda Papua ini.
Menurut dia, Indonesia saat ini sedang menghadapi bonus demografi sampai dengan 2045, sehingga generasi usia produktif ini sangat dominan. Oleh karena itu, Boy Rafli mengatakan dalam penggunaan media sosial ini juga perlu adanya bimbingan yang dilakukan dengan langkah-langkah literasi maupun edukasi kepada generasi muda.
“Karena tidak semua isi informasi yang ada di media sosial itu adalah bersifat positif. Karena ada yang sifatnya menyebarkan paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita. Ada yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, ada yang mempromosikan cara-cara kekerasan atau destruktif dengan menyikapi suatu keadaan,” ujar alumnus Akpol 1988 ini.
Baca juga: Bawaslu Sulit Awasi Kampanye Pilkada di Whatsapp
Sementara itu pimpinan Pondok Pesantren Al Ihyaul Quran, Ustaz Adriansyah mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus melindungi para santri-santrinya agar tidak mudah terpapar paham radikal.
"Alquran juga mengajarkan kita untuk saling peduli, empati, dan saling menjaga, serta dilarang untuk melakukan tindakan kezaliman. Itu merupakan salah satu bentuk asas yang sangat mendasar sekali sebagai suatu tindakan untuk menangkal perilaku-perilaku yang intoleran tadi,” ujar Adriansyah.
Untuk itu, dia bersyukur bisa bertemu dengan jajaran pimpinan BNPT di pesantrennya sehingga bisa terbangun sebuah komunikasi. Karena dengan adanya komunikasi ini seperti diibaratkan saluran air ada sesuatu yang tersumbat itu bisa menjadi bersih.
“Jadi sesuatu yang menjadi sebuah ganjalan dan jarak, ternyata ada hal yang bisa dikomunikasikan, sehingga banyak persoalan-persoalan yang bisa terselesaikan. kata kuncinya adalah komunikasi tadi. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah media penghubung bagi kita ke depan bisa lebih kondusif lagi,” ujarnya.
Dalam acara silahturahim ini, Kepala BNPT didampingi Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Hendri Paruhuman Lubis, Direktur Deradikalisasi Irfan Idris, Direktur Perlindungan Herwan Chaidir, Direktur Pencegahan R Akhmad Nurwakhid, dan pejabat BNPT lainnya.
Para Forkopimda yang hadir yakni Dandim 0728/Wonogiri, Kapolres Wonogiri, Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri serta Kepala BIN Daerah (Kabinda) Jateng Sementara dari unsur ormas yang ada di Wonogiri yakni MUI, PCNU, LDII, dan ormas lainnya. (OL-15)
REMAJA dan anak-anak sekarang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut dalam fase pencarian jati diri.
BNPT mengungkapkan ada 27 rencana serangan terorisme yang berhasil dicegah dalam tiga tahun terakhir, dengan ratusan pelaku terafiliasi ISIS ditangkap.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
KEPALA BNPT Eddy Hartono menyoroti secara mendalam fenomena memetic radicalization yang kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menurut Edi Hartono, media sosial dan game online telah terbukti menjadi salah satu sarana yang digunakan pelaku terorisme untuk melakukan perekrutan.
Program ini memberikan edukasi mendalam mengenai upaya mitigasi penyebaran paham radikal terorisme di ruang digital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved