Jumat 31 Juli 2020, 11:45 WIB

Penangkapan Joko Tjandra, Hadiah HUT RI

Penangkapan Joko Tjandra, Hadiah HUT RI

Antara
Joko S Tjandra

 

PENGAMAT kepolisian, Dr Edi Hasibuan mengatakan capaian polisi menangkap Joko Tjandra menjadi kado untuk negara dan rakyat Indonesia yang akan merayakan HUT ke-75.
  
"Ini adalah bukti pengabdian terbaik Polri kepada negara dan bangsa menjelang HUT Kemerdekaan. Polri telah menjawab semua keragukan masyarakat," kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia ini di Jakarta, Jumat (31/7).
  
Dalam keterangan tertulisnya, Hasibuan mengapresiasi tim Polri yang dipimpin Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi Listyo Prabowo, saat menangkap Djoko Trandra, di Malaysia, Kamis (30/7).
  
Menurut mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional ini mengatakan komitmen Kepala Kepolisian Indonesia, Jenderal Polisi Idham Azis, sangat jelas dengan tidak mentolelir anak buahnya yang terlibat pelarian dan aktivitas lain Joko Tjandra.
  
Hasibuan juga mengapresiasi Prabowo yang memproses hukum jenderal yang terindikasi membantu Joko Tjandra, walau itu teman seangkatan di Akademi Kepolisian.
  
"Joko Tjandra yang sebelumnya diragukan sulit ditangkap berhasil dibekuk Polri di Malaysia," kata pengajar di Universitas Bhayangkara ini.

Baca juga : Tangkap Joko Tjandra, ICW Apresiasi Polri

Terpidana kasus pengalihan hak tagih (cessie) antara PT Era Giat Prima (EGP) dengan Bank Bali kabur ke Papua Nugini pada 10 Juni 2009. Mahkamah Agung menghukum Joko dua tahun penjara dan uang Rp546,468miliar dirampas untuk negara.
  
Setelah 11 tahun menjadi buron, pada 8 Juni 2020, Joko muncul di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk mengajukan peninjauan kembali atas vonis Mahkamah Agung. Joko sempat membuat paspor ke Kantor Imigrasi Jakarta Utara pada 23 Juni 2020. Ia lalu kabur ke Malaysia tanpa melalui pemeriksaan Imigrasi.
  
Dalam perkara ini, Aziz mencopot Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan Penyidik Pengawai Negeri Sipil Badan Reserse Kriminal Kepolisian Indonesia, Brigadir Jenderal Polisi Prasetijo Utomo, Kepala Divisi Hubungan Internasional Kepolisian Indonesia, Inspektur Jenderal Polisi Napoleon Bonaparte, dan Sekretaris National Central Beureu (NCB) Interpol Indonesia, Brigadir Jenderal Polisi Nugroho Slamet.

Utomo kini menjadi tersangka karena membuat surat jalan palsu agar Joko bisa terbang dari Jakarta ke Pontianak. Sedangkan, Bonaparte dan Slamet dicopot karena ikut berperan dalam menghapus status buronan interpol untuk Joko Tjandra. Kedua perwira tinggi penegak hukum itu dinilai melanggar kode etik dan disiplin Kepolisian Indonesia. (P-5)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Babak Final Maritime Hackathon 2021 Raih Rekor MURI

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Minggu 11 April 2021, 05:18 WIB
Ahmad Heri mengatakan, inovasi yang ditampilkan para peserta memiliki potensi ekonomi dan sosial sangat besar untuk mendukung program...
Dok. BNPT

Gandeng Tokoh Agama, BNPT Cegah Paham Radikal pada Milenial

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Minggu 11 April 2021, 04:35 WIB
Melalui pemahaman moderasi beragama, toleransi antar umat, serta nilai-nilai kebangsaan, diharapkan generasi milenial tidak mudah...
Ist.

NasDem: Selama Bulan Puasa, Jangan Abaikan Protokol Kesehatan

👤 Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 11 April 2021, 03:00 WIB
Wibi menilai Ramadan kali ini momen memperbaiki diri. Kemudian kesempatan memohon ampun kepada Allah SWT dan memohon...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tata Ulang Desain Olahraga Nasional untuk Capai Prestasi

 Prestasi tidak dicapai dengan proses singkat. Kerap kali butuh waktu bertahun-tahun untuk meraihnya

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya