Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Debat Ke-2 Uji Capres Atasi Krisis Energi

Nur Aivanni
04/2/2019 07:15
Debat Ke-2 Uji Capres Atasi Krisis Energi
(MI/BARY FATHAHILAH)

DEBAT kedua calon presiden akan digelar pada 17 Februari mendatang.

Tema yang akan diusung ialah energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup, dan infrastruktur.

Manajer Advokasi dan Jaringan Publish What You Pay (PWYP) Aryanto Nugroho meminta kepada kedua calon presiden, baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto, agar bisa menjabarkan lebih jelas apa yang akan mereka lakukan dalam konteks ketahanan energi.

"Dalam konteks ketahanan energi, bagaimana kedua capres concern pada konsistensi kebijakan dan reformasi regulasi sektor energi. Ini penting," kata Aryanto dalam diskusi media visi-misi capres 2019, di Jakarta, kemarin.

Menurut Aryanto, Indonesia kini terancam krisis energi. Meskipun mengaku akan mendorong energi terbarukan, kata Aryanto, kedua kandidat belum menjawab langkah konkret apa yang akan dilakukan.

"Dua capres ini mendorong energi terbarukan, tapi nggak tahu cara mendorong energi terbarukan seperti apa, andalannya apa? Apakah angin? Air? Nabati? Termasuk insentif apa yang akan diberikan dari energi terbarukan," tuturnya.

Keduanya, sambung Aryanto, juga harus bisa menjabarkan langkah mereka untuk menyelesaikan masalah regulasi di sektor energi.

Masalah utama dalam investasi di sektor energi itu, terangnya, ialah ketidakpastian regulasi. "Antara UU dan aturan turunan tumpang-tindih."

Reforma agraria
Peneliti dari Auriga Syahrul Fitra mengatakan calon presiden baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto perlu menjelaskan lebih lanjut konsep reforma agraria yang menjadi visi-misi keduanya dalam debat kedua yang akan digelar pada 17 Februari mendatang.

"Itu penting. Penajaman konsep mereka seperti apa sih? Kalau lihat yang ada saat ini, reforma agraria jauh dari harapan. Yang ada adalah pemberian sertifikat kepada masyarakat," kata Syahrul.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Kode Inisiatif, untuk isu agraria, Jokowi fokus pada hak atas pertanahan dan redistribusi aset berkeadilan.

Sebaliknya, Prabowo lebih fokus pada kemanfaatan atas tanah dan reformasi agraria.

Ia menilai konsep reforma agraria yang dilakukan Jokowi saat ini dengan membagikan sertifikat tanah perlu ditinjau ulang.

Sementara itu, konsep reforma agraria yang dimiliki Prabowo perlu dijabarkan lebih lanjut.

Di tempat yang sama, Direktur Kode Inisiatif Veri Junaidi mengharapkan debat kedua bisa lebih baik jika dibandingkan dengan debat pertama.

Apalagi, tema debat kedua kali ini cukup banyak, mencakup masalah energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup, dan infrastruktur.

"Isu ini mestinya jauh lebih menarik jika dibandingkan dengan debat pertama, bukan hanya kontennya, melainkan juga bagaimana proses perdebatan itu terjadi," kata Veri.

Ia mengatakan ada perbedaan yang cukup menonjol dalam debat kedua jika dibandingkan dengan debat pertama, yakni tidak ada lagi kisi-kisi pertanyaan debat.

"Kami berharap keduanya serius mengidentifikasi persoalan sehingga bisa memberikan gagasan yang cukup tajam," katanya.

Dengan tidak adanya kisi-kisi tersebut, kata Veri, nantinya akan terlihat bagaimana perbedaan gagasan yang disampaikan antara Jokowi dan Prabowo dalam menanggapi suatu isu.

Dengan begitu, tambahnya, publik bisa mengetahui pendekatan apa yang akan dilakukan tiap-tiap capres dalam menyelesaikan suatu masalah.

Dalam debat kedua, Veri pun berharap tim panelis bisa memberikan pertanyaan yang adil kepada kedua capres nantinya.

"Kalau mau merumuskan persoalan, persoalan yang dilontarkan adalah pertanyaan umum sehingga bisa dipertajam oleh kedua capres," jelasnya. (X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya