Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANAAN pilkada semakin dekat. Tim sukses dari para kontestan pun semakin gencar mengampanyekan jagoannya agar unggul dalam kontestasi kali ini. Segala upaya pun dilakukan mulai dari sosialisasi visi misi dan janji-janji politik disampaikan untuk mendulang suara terbanyak. Bahkan, pemberian uang atau materi lainnya untuk mencuri hati rakyat agar terpikat. Sehingga, setiap kontestan membutuhkan modal yang sangat besar. Tidak hanya modal untuk administrasi, tetapi juga modal bagi-bagi.
Hal itu terjadi berulang kali dan tidak mudah dihentikan karena semuanya saling membutuhkan, seperti benang kusut yang sulit untuk diuraikan. Pihak kontestan membutuhkan suara pemilih. Rakyat pun membutuhkan sesuatu yang lebih real untuk dimanfaatkan dalam kehidupan.
Ada hal yang dikhawatirkan, yaitu kesenjangan antara materi yang dibutuhkan saat kontestasi dan pemenuhan janji-janji politik yang disampaikan ketika memenangi pemilihan.
Jika setiap pasangan menggelontorkan begitu banyak modal untuk dibagikan, tidak menutup kemungkinan munculnya upaya-upaya untuk mengembalikan modal saat kelak terpilih. Janji-janji manis politik yang sebelumnya diprioritaskan malah terabaikan.
Kita sebagai rakyat yang cerdas semestinya bijak melihat situasi yang terjadi. Sebab, ketika memilih pemimpin yang salah, bukan hanya tim kampanye atau kontestan saja yang bertanggung jawab, tetapi pemilih pun bertanggung jawab atas apa yang telah dipilihnya. Ini masalah pertanggungjawaban untuk lima tahun ke depan dan kelak di hadapan Tuhan.
Satu periode kepemimpinan selama lima tahun ke depan bukanlah suatu hal yang sepele. Tetapi, merupakan sebuah pertaruhan yang menentukan maju dan mundurnya kualitas tatanan kehidupan rakyat dari berbagai sektor.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa uang atau bentuk materi lainnya, penting dalam memenuhi kebutuhan hidup ini. Tetapi, itu bukan segalanya. Oleh sebab itu, jangan abaikan hati nurani dan terlalu terbuai dengan materi yang ditawarkan kontestan. Pahami visi misi setiap pasangan dalam kontestasi, dan tak lupa bersikap rasional.
Ketika rakyat cerdas dalam memilih dan mengedepankan hati nurani, bukan materi, peluang untuk mempunyai pemimpin yang sesuai harapan akan semakin besar diwujudkan.
Sudah saatnya rakyat terlepas dari janji-janji palsu yang membahayakan. Rakyat harus meminimalisasi kecurangan yang dilakukan kontestan yang akan menggerus impian generasi di masa depan. Mari saling mengingatkan untuk kehidupan berpolitik yang lebih baik, mewujudkan rakyat adil makmur sejahtera.
Teknologi artificial intelligence yang semula sekadar alat yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Tidak ada makan siang gratis di dalam politik. Bantuan elite dan oligarki tentu menuntut balasan.
Pahit getir pembentukan negara tidak bisa dilepaskan pula dari derita luka dan sengsaranya rakyat. Nyawa rakyat lebih banyak musnah dibandingkan nyawa elite selama berjuang.
Empat langkah krusial tetap dibutuhkan agar kebijakan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan.
Pertanyaan yang menyentak bukanlah apakah mungkin membubarkan lembaga DPR di alam demokrasi, melainkan mengapa anggota DPR minta tunjangan rumah Rp50 juta per bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved