Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Gerindra Klaim Masih Dipercaya Konstituen

M Rodhi Aulia
25/5/2016 09:33
Gerindra Klaim Masih Dipercaya Konstituen
()

KEPERCAYAAN masyarakat terhadap partai politik cenderung menurun. Padahal partai politik secara lembaga tidak bisa disalahkan. Sebab, biar bagaimanapun partai politik adalah salah satu pilar demokrasi.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menilai yang perlu dibenahi adalah para aktor yang berada di dalam partai politik. Yasonna berharap ada regenerasi yang lancar di tubuh partai politik.

"Itu sebabnya ada yang mengatakan, politikus itu seperti pampers. Perlu ditukar sesering mungkin agar tidak bau," kata Yassona saat pembukaan pendaftaran verifikasi parpol berbadan hukum, di Graha Pengayoman Kemenkumham, Jalan HR.Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/5).

Menanggapi itu, Politikus Partai Gerindra Supratman Andi Agtas menilai pernyataan Yasonna itu tidak tepat bila digeneralisasi ke seluruh partai politik dan para politisi. Supratman mengklaim Gerindra masih mendapatkan kepercayaan tinggi dari konstituen mereka.

"Pertanyaannya ke partai politik yang mana dulu? Kami di Gerindra sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kami tidak termasuk di sana (di dalam daftar parpol yang mendapatkan kepercayaan publik rendah)," kata Supratman, Selasa (24/5) malam.

Supratman menegaskan, pihaknya terus memperjuangkan apa yang sebenarnya menjadi kehendak rakyat dan konstituennya. Supratman mengatakan para wakil rakyat dari Gerindra memahami betul perjuangan prorakyat tersebut.

Terkait regenerasi yang tidak mulus sehingga ada istilah politikus seperti pampers, Supratman melihat konteks pernyataan Yasonna itu adalah terkait regenerasi pimpinan partai politik. Terutama ketua umum.

Supratman berpandangan regenerasi pimpinan itu tergantung pemilik suara. Jika pemilik suara menghendaki adanya ketua umum atau pimpinan yang baru, maka pemilik suara akan melakukannya. Namun, jika pemilik suara tetap menghendaki pemimpin lama untuk tetap melanjutkan kepemimpinannya di periode yang baru, itu pun tidak salah.

"Prinsipnya tergantung yang punya suara. Kita selalu mencari pemimpin yang ideal. Yang ideal itu, mau tidak mau, suka atau tidak suka, tergantung pemilik kedaulatan. Jadi konteksnya ke sana mungkin," beber dia. (MTVN/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya