Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GUNA membantu penambahan ketersediaan listrik di Ketapang, Kalimantan Barat, PT Wijaya Karya (persero) Tbk (Wika) tengah mengerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ketapang yang mampu memproduksi daya hingga 2x10 megawatt (Mw).
Proyek yang masuk rencana pembangunan pembangkit listrik 35 ribu Mw ini, dibangun di Desa Sukabangun Dalam, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, di atas lahan seluas 15 ha, dan dibangun dalam dua unit.
Manajer Proyek Wika untuk PLTU Ketapang Harum Ahmad Zuhdi mengatakan, saat ini, unit pertama sudah bisa mengalirkan listrik kepada masyarakat, namun statusnya masih dalam tahap uji keandalan dan stabilitas. Untuk satu unit PLTU, daya listrik yang mampu dialirkan maksimal 10 Mw per hari.
“Untuk unit pertama, kami menargetkan paling tidak akhir Mei sudah bisa beroperasi secara komersial (COD), sedangkan unit kedua target COD di Juli mendatang,” ujar Harum di Ketapang, Kalimantan Barat, Rabu (11/5).
Menurut Harun, PLTU ini dapat menyumbang tambahan daya dan akan menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sukaharja yang saat ini memasok pelanggan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
“Rasio elektrifikasi di Ketapang saat ini 67%. Daya yang tersedia hanya 25,5 Mw sedangkan beban puncak utama 30 Mw ditambah 3 Mw yang masih dalam daftar tunggu. Maka, kehadiran PLTU Ketapang semestinya bisa menutupi defisit tersebut,” terang Harum.
Manajer Bisnis Wika untuk proyek PLTU Ketapang Yoppi Priatmoko Kuswantoro menambahkan, terkait investasi, Wika telah menggelontorkan dana lebih kurang sebesar Rp400 miliar, dengan total nilai kontrak mencapai Rp300 miliar.
PLTG Soekarno-Hatta
TIGA badan usaha milik negara (BUMN) PT Angkasa Pura II (AP II), PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk (PGN) dan PT Wika menandatangi perjanjian kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) untuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang memiliki nilai total investasi sebesar Rp1 triliun.
Direktur Utama AP II Budi Karya Sumadi menyebutkan kerja sama itu merupakan momentum baik untuk mencapai tujuan yang sangat baik pula. “Sebenarnya rencana ini sudah lama, tapi baru hari ini dapat direalisasikan,” ujar Budi di Kementerian BUMN Jakarta, kemarin.
Saat ini, Budi mengatakan, kebutuhan pasokan listrik untuk Bandara Soekarno-Hatta sebesar 60 Mw. “Kalau Terminal 3 Ultimate sudah beroperasi, jadi 100 Mw, dan akan bertambah 150 Mw saat cargo village selesai.”
Sebelumnya, pasokan listrik di Soekarno-Hatta ditopang sepenuhnya oleh PT PLN (persero). Dengan pembangunan pembangkit listrik itu, beban yang dikeluarkan AP II untuk pembiayaan listrik akan berkurang.
“Selama ini kita keluarkan Rp400 miliar per tahun untuk listrik dari PLN. Dengan adanya PLTG ini, biaya itu bisa terpotong 60%. Kalkulasinya, kami hanya keluarkan Rp160 miliar untuk PLN, Rp240 miliar sisanya kita bayarkan untuk investasi kami sendiri,” jelasnya. (Pra/E-3)
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved