Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Natal, Perayaan Harapan

Otto Gusti Madung Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores; Dosen filsafat dan alumnus program doktoral dari Hochschule fuer Philsophie, Muenchen, Jerman
24/12/2025 05:00
Natal, Perayaan Harapan
(Dok. Pribadi)

SALAH satu dari 300 kantata atau lagu klasik yang ditulis oleh komponis Jerman, Johan Sebastian Bach (1685-1750), berjudul Ich glaube, lieber Herr, hilf meinem Unglauben, yang berarti 'Saya percaya, Tuhan, tolonglah ketidakpercayaanku'. Teks ini menggambarkan hidup manusia yang selalu terombang-ambing antara rasa takut dan harapan.

Kantata karya Sebastian Bach ini tetap relevan dengan konteks dunia. Kita mengalami ketakutan karena pelbagai alasan, seperti perang, darurat iklim, bencana alam, gelombang pengungsian, dan sisi gelap kecerdasan buatan. Rasa takut menyebar dan menguasai kita.

Dalam bidang politik, para penguasa sering memanfaatkan ketakutan untuk memperkokoh kekuasaan yang palsu. Penguasa menciptakan ancaman seperti bahaya intervensi asing untuk mengalihkan perhatian dari persoalan yang sesungguhnya, yakni kemiskinan, korupsi, ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan hidup, dan militerisme.

Monika Renz, psikolog asal Swiss, menyelidiki asal-usul ketakutan yang menciptakan kejahatan. Dia menduga ketakutan sudah terbentuk sejak seorang bayi belum lahir. Dia berbicara tentang ketakutan primordial.

 

Merayakan Harapan 

Bagaimana manusia bisa bertahan dalam ketakutan primordial tanpa menjadi jahat? Monika Renz, seperti kantata Bach, menunjukkan solusi bahwa manusia perlu membangun relasi dengan Tuhan, sumber kepercayaan dasar.

Dalam peristiwa Natal, Allah telah menjadi manusia. Ia mengambil bagian dalam kerentanan hidup manusia. Dalam kerentanan, manusia mengambil bagian dalam dimensi Ilahi yang menjadi basis harapan untuk menjalin relasi dengan Tuhan.

Relasi manusia dengan Tuhan sering digelapkan oleh rasa takut. Namun, jika kita berhasil menembus ketakutan primordial dan mencapai kedalaman tempat kita berasal, yakni Tuhan sendiri, kita dapat bertahan dalam ketakutan.

Dalam membangun relasi dengan Tuhan, yang diutamakan bukan kesempurnaan, tetapi menjalin koneksi dengan sesama sebagai penampakan wajah Tuhan. Agama-agama sering terobsesi dengan idealisme tentang kesempurnaan moral dan kemurnian doktrin. Ilusi tentang kesempurnaan justru menjerumuskan agama-agama ke dalam fundamentalisme yang menyingkirkan yang lain.

Keterhubungan dan kesatuan adalah esensi iman dan substansi setiap agama yang benar. Dalam akar kata Latinnya, agama mengandung makna keterhubungan. Agama berasal dari kata Latin religare, yang berarti 'mengikat kembali'.

Jadi, orang-orang beragama sudah terhubung dengan Dia atau Tuhan di dalam kehidupan. "Siapa yang berharap kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya, tidak akan pernah dipermalukan," demikian bunyi syair penutup kantata Sebastian Bach.

Natal adalah perayaan harapan. Allah memancarkan sinar harapan dengan membobol tembok pemisah antara surga dan dunia. Ia menjadi salah satu dari kita, Allah membangun koneksi dengan manusia. Dalam cahaya Natal ini, tugas dan tanggung jawab agama-agama ialah menyalakan dan menghidupi harapan bagi umat manusia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya